Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Kerabat anggota ISIS di Irak diburu dan ditahan tanpa alasan

logo Merdeka Merdeka 17/07/2017 Editor Merdeka.com, dunia
Alternate text: Warga Mosul lari dari ISIS. REUTERS/Stringer © 2010 Merdeka.com Warga Mosul lari dari ISIS. REUTERS/Stringer

Setelah menggempur kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan merebut kembali Kota Mosul, pemerintah Irak lantas mendeklarasikan kemenangan. Namun, konon ada perintah buat melakukan operasi gelap memburu keluarga anggota ISIS, dan mengirim mereka ke tempat khusus dianggap sebagai 'kamp rehabilitasi'.

Dilansir dari laman Reuters, Senin (17/7), lembaga pemantau hak asasi Human Rights Watch menyatakan pasukan Irak membawa dan mengirim sekitar 170 kerabat anggota ISIS. Konon mereka bakal dihukum di kamp itu karena salah satu anggota keluarga mereka menjadi pengikut ISIS.

"Pemerintah Irak mestinya tidak menghukum seluruh anggota keluarga lain karena perbuatan kerabat mereka. Tindakan seperti ini adalah kejahatan perang dan merusak usaha perdamaian di wilayah diambil alih dari ISIS," kata Deputi Timur Tengah HRW, Lama Fakih.

Menurut HRW, kamp konsentrasi yang dianggap oleh pemerintah Irak sebagai pusat rehabilitasi, ternyata adalah penjara bagi orang dewasa dan anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

Fakih menyatakan, pasukan Irak menculik kerabat anggota ISIS dan mengirim mereka ke sejumlah 'kamp konsentrasi' di sejumlah wilayah, yakni Provinsi Anbar, Provinsi Babel, Provinsi Diyala, Provinsi Salahuddin, dan Provinsi Nineveh. Dari hasil laporan, polisi dan pasukan Irak memilih abai dan malah menyiksa mereka di dalam kamp. Anggota HRW sempat mengunjungi salah satu kamp di daerah Bartalla dan menanyai 14 keluarga. Masing-masing keluarga terdiri dari 18 orang.

"Mereka mengatakan pasukan Irak sengaja membawa mereka ke kamp, dan polisi menahan dengan alasan salah satu kerabat mereka pengikut ISIS," tulis HRW dalam pernyataannya.

Menurut catatan petugas kesehatan, setidaknya ada sepuluh perempuan dan anak-anak meninggal saat dibawa ke kamp, kebanyakan karena dehidrasi.

Juru Bicara Militer Irak, Brigjen Yahya Rasul, berdalih tidak tahu soal tindakan anak buahnya, ataupun 'kamp konsentrasi' itu.

"Tidak ada skenario atau situasi pasukan Irak memaksa warganya pergi dari rumah. Kami hanya mencoba memberi mereka jalur aman supaya menghindari kawasan pertempuran," kata Rasul.

Meski demikian, Irak masih terus bergolak. Mereka harus mewaspadai serangan balik dilakukan pendukung ISIS, serta meredam konflik sektarian antara kaum Sunni dan Syiah di sana.

Lainnya dari Merdeka

image beaconimage beaconimage beacon