Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Merkel Tolak Batasi Jumlah Pengungsi

logo dw.com dw.com 4 hari lalu Dunia

Kanselir Jerman, Angela Merkel dalam wawancara tahunan dengan media Jerman ARD, kembali menegaskan penolakannya, untuk menetapkan batasan atas jumlah pengungsi yang masuk ke Jerman.

Tuntutan ini sebelumnya dilontarkan partai Uni Kristen Sosial di Bayern, yang bagian tak terpisahkan dari partai CDU. Posisi ini membuat Merkel terlibat konflik dengan rekannya, ketua CSU dan PM Bayern, Horst Seehofer.

Merkel menegaskan, jumlah pengungsi di Jerman bisa direduksi dengan penerapan regulasi. Ia juga menambahkan, harus dilakukan aksi di negara-sumber pengungsi, untuk mencegah munculnya situasi yang menyebabkan orang mengungsi.

Ketegangan Jerman-Turki

Kanselir Jerman itu juga mengharapkan campur tangan NATO dalam menuntaskan ketegangan antara Jerman dengan Turki yang belakangan makin memanas. Pekan silam, pemerintah Turki menolak akses bagi kunjungan anggota parlemen Jerman ke basis angkatan udara Konya, dimana pasukan Jerman-Bundeswehr bertugas mengoperasikan pesawat pengintai AWACS.

Merkel menolak mengkaitkan penolakan Turki dengan isu ekstradisi para pemohon suaka asal Turki di Jerman. "Kedua isu ini, yakni permohonan suaka warga Turki dan hak Jerman mengunjungi pasukannya di Konya

tidak memiliki kaitan samasekali", ujar kanselir Jerman ini.

plain © Picture alliance/dpa/M. Gambarini plain

"Sebelum menarik kesimpulan apapun, kita harus menunggu untuk melakukan perundingan dan mendiskusikan masalah ini dengan bantuan NATO", ujar Merkel lebih lanjut. Ia mengatakan, keseluruhan situsainya tidak menguntungkan.

Terkait ketegangan diplomatik dengn Ankara, Berlin telah memindahkan pasukannya dari basis angkatan udara Incirilk di Turki ke pangkalan militer di Yordania. Pemicunya juga serupa, yakni penolakan Turki bagi anggota parlemen Jerman untuk mendapat akses mengunjungi pasukan Bundeswehr yang bertugas di sana.

as/hp(rtr,afp,dpa)

More from Deutsche Welle

image beaconimage beaconimage beacon