Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Median: 46,37 Persen Publik Ingin Ganti Jokowi di Pilpres 2019

logo Suara.com Suara.com 16/04/2018 Ria Rizki Nirmala Sari
Presiden Joko Widodo menggendong salah satu anak PAUD TK Theresia di Kota Sorong, Papua Barat, Jumat (13/4). © PT Arkadia Media Nusantara Presiden Joko Widodo menggendong salah satu anak PAUD TK Theresia di Kota Sorong, Papua Barat, Jumat (13/4).

Sebanyak 46,37 persen dari total 1.200 responden jajak pendapat Media Survei Nasional, tidak menginginkan Joko Widodo kembali menjadi presiden melalui Pilpres 2019.

Direktur Riset Median Sudato menuturkan, dari 1.200 responden yang memunyai hak pilih pada Pilpres 2019 menginginkan sosok lain terpilih menjadi presiden ketimbang Jokowi.

Sebabnya, mereka menilai kinerja rezim Jokowi yang berkuasa sejak tahun 204 belum baik meski unggul dalam pembangunan infrastruktur.

"Kinerja ekonomi belum membaik sampai April 2018. Kenaikan listrik, harga sembilan bahan kebutuhan pokok yang mahal, susah mencari pekerjaan, ekonomi sulit. Itu paling susah bagi Jokowi," kata Sudarto dalam rilis hasil surveinya di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (16/4/2018).

Namun, presentase masyarakat yang ingin Jokowi terpilih tidak terpaut jauh dari angka tersebut. Dari 1.200 responden, 45,22 persen di antaranya tetap menginginkan Jokowi menang pada pilpres tahun depan. Sementara 8,41 persen sisanya tak menjawab.

Prabowo Turun

Ketika persentase responden yang tak mau Jokowi kembali presiden cenderung tinggi, tingkat keterpilihan Prabowo Subianto—yang disebut pesaing ketat Jokowi—justru menurun.

Berdasarkan jajak pendapat Median, persentase elektabilitas Prabowo yang sudah berikrar menjadi calon presiden pada Pilpres 2019 itu menurun 1,2 persen.

Sudarto menuturkan, persentase itu didapat dalam survei yang digelar sebelum Partai Gerindra memberikan mandat kepada Prabowo sebagai bakal capres.

"Kami melakukan survei itu sejak sebelum Gerindra memberikan mandat kepada Prabowo. Jadi, dalam 2 bulan terakhir, persentase elektabilitas Prabowo justru menurun. Tak ada peningkatan setelah dirinya diberi mandat,” kata Sudarto.

Pada Februari 2018, persentase elektabilitas Prabowo masih sebesar 21,2 persen. Sementara pada bulan April, menurun 1,2 persen menjadi 20,4 persen berdasarkan pilihan 1.200 responden acak lembaga tersebut.

Sudarto menjelaskan, grafik menurun persentase elektabilitas Prabowo itu disebabkan citra sang tokoh sudah berbeda.

“Responden menilai sosok Prabowo kekinian sudah berbeda dari personya saat mengikuti Pilpres 2009 sebagai calon wakil presiden maupun sebagai capres pada 2014,” tuturnya.

Dalam dua periode kontestasi politik tersebut, Prabowo disebut memunyai citra pemimpin tenang dan bijaksana. Tapi kekinian, responden menilai citra itu tak lagi ada.

"Sebab, belakangan ini, pernyataan dan semangat itu diluapkan terbuka. Pembacaan Pak Prabowo yang akhir ini tempramental berapi-api," katanya. 

Untuk diketahui, Sudarto mengklaim survei yang dilakukannya memunyai batas kesalahan (margin error) 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Kunjungi situs lengkapnya

image beaconimage beaconimage beacon