Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Jonan Siapkan Anggaran untuk Kembangkan Penemuan 'Listrik Kedondong' Naufal Raziq

logo tribunnews.com tribunnews.com 4 hari lalu Srihandriatmo Malau

Semangat untuk melakukan penemuan listrik sudah sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Saat itu Naufal Raziq, anak asal Kota Langsa, Aceh ini sudah mencoba membuat listrik sederhana dari lempengan tembaga dan logam yang dimasukkan ke dalam kentang yang menghasilkan tegangan.

"Jadi terpikir, di buah kan mengandung asam. Tentu saja di pohon juga mengandung asam. Tapi pohon apa?" kisah Naufal yang saat ini masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa.

Didampingi ayahnya, Supriaman dan guru pembimbingnya Jamaliah anak berusia 15 tahun ini mengisahkannya ketika bertemu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (19/5/2017).

Dari situlah, lanjut Naufal, ditemukan listrik dari pohon kedondong ini.

Sebelum pohon kedondong, Naufal bereksperimen dengan pohon mangga, belimbing, dan juga asam jawa.

Naufal Raziq berfoto bareng Menteri ESDM Ignasius Jonan © FACEBOOK IGNASIUS JONAN Naufal Raziq berfoto bareng Menteri ESDM Ignasius Jonan

Waktu yang dibutuhkan meneliti semua itu sekurang-kurangnya 3 tahun.

"Kenapa saya menggunakan kedondong pagar, itu karena kedondong pagar memiliki batang yang besar. Mudah tumbuhnya. Jika kita buka kulitnya, dia tidak busuk. Malah menyembuhkan dirinya, recover," papar Naufal.

Pohon kedondong itu dikenal dengan sebutan "Pohon Energi".

Berkat penemuannya itu, saat ini temuan Naufal tersebut sudah mulai digunakan untuk membantu melistriki Desa Tampur Paloh di Aceh.

Lebih lanjut kata Naufal, sebagai sumber penerangan dibutuhkan sekitar 4 pohon kedondong pagar untuk satu lampu, dengan menggunakan jenis lampu Hannoch (jenis lampu emergency).

"Strukturnya kita ubah ke lampu DC dengan menggunakan inverter. Jadi hasil dari pohonnya pun kita sesuaikan dengan lampunya," ujarnya.

Sedangkan untuk pembuatan alat energinya, Naufal menjelaskan tembaga dan logam menjadi kunci penting yang berfungsi untuk mengubah asam menjadi listrik.

"Jadi tembaga dan logam itu sebelum dimasukkan ke pohon, kita lapiskan tisu dengan kain, fungsinya itu untuk menyerap asam menjadi listrik," jelasnya.

"Jadi setelah dibungkus dengan tisu dengan kain, kemudian dilipat jadi satu, dan sudah bisa dipasang ke pohon," jelas Naufal.

Ditanya soal biaya yang dibutuhkan, Naufal menjelaskan untuk sekitar 2 lampu atau 1 rumah membutuhkan sekitar Rp 1.200.000.

"Sekarang ini saya dibina oleh Pertamina, jadi fasilitas itu Pertamina semua yang menanggung. Jadi masyarakat tinggal sediakan pohon aja. Alat-alatnya dari kita," ucap Naufal.

Pada pertemuan tersebut Menteri ESDM berpesan kepada Naufal untuk tetap fokus dan semangat mengembangkan diri sebagai inventor (penemu), sehingga bisa mengembangkan temuannya lebih lanjut.

"Pesan saya agar fokus sebagai penemu (inventor), berupaya agar penemuannya bermanfaat untuk orang banyak, dan mengembangkan penemuan supaya bisa diproduksi skala besar. K-ESDM akan mengalokasikan anggaran untuk riset Nauval," tulis Jonan di akun Facebooknya @Ignasius Jonan, Jumat (19/5/2017).

Hal senada juga disampaikan Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Komunikasi Publik, Hadi M. Djuraid, dalam Siaran Pers Kementerian ESDM, Jumat (19/5/2017).

"Apapun penemuannya itu, diharapkan dapat bermanfaat untuk masyarakat dan jangan sampai hanya berfikir untuk kepentingan diri sendiri," ujar Hadi.

Hadi menyampaikan bahwa Menteri Jonan juga mengarahkan bahwa ke depan akan ada anggaran dari Kementerian ESDM untuk pengembangan riset Naufal lebih lanjut.

"Jadi nanti akan ada pendanaan pengembangan dari temuan dari Naufal ini menggunakan anggaran dari Kementerian ESDM," kata Hadi.

Lainnya dari tribunnews.com

tribunnews.com
tribunnews.com
image beaconimage beaconimage beacon