Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Tiru India, bansos bakal gunakan biometrik

logo Kontan Kontan 19/10/2017 Adinda Ade Mustami
Pemerintah tepis RAPBN 2018 kental unsur politis © Cheppy A Muchlis Pemerintah tepis RAPBN 2018 kental unsur politis

Pemerintah berencana mengganti sistem penyaluran bantuan sosial dengan mengadopsi teknologi biometrik. Melalui mekanisme ini, pemerintah ingin penyaluran lebih tepat sasaran.

Teknologi biometrik relevan dengan teknologi yang bisa digunakan untuk menganalisa fisik dan kelakuan manusia secara autentifikasi. Teknologi ini bisa mengenali manusia melalui sidik jari, mata, atau karakter khas bagian tubuh lainnya.

Sementara itu, selama ini penyaluran program bantuan sosial oleh pemerintah dilakukan secara non tunai melalui kartu, khususnya untuk Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan pangan, dan bantuan elpiji 3 kilo gram (kg).

Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Soeratin mengatakan, pengunaan teknologi biometrik akan memudahkan masyarakat penerima bantuan sosial. Sebab, penyaluran kartu saat ini dinilai belum sederhana.

"Orang pakai kartu suka lupa pin. Kalau masuk ATM, tidak hafal pin, kartu tertelan," kata Harry dalam acara seminar nasional dalam rangka peringatan Hari Oeang di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Kamis (19/10).

Sementara dengan teknologi biometrik, masyarakat tidak perlu menghafal pin. Sebab, bisa menggunakan sidik jari, mata, hingga wajah. Di sisi lain, penerima manfaat lebih tepat karena tidak bisa digantikan orang lain.

"Jadi orang betul-betul tahu siapa yang terima. Jadi tidak ada lagi 'bagi roto'," tambahnya.

Harry bilang, penyaluran bantuan sosial melalui teknologi biometrik telah diadopsi di India, yaitu mulai dari logistik sistem pnerima manfaat hingga pertanggungjawabannya menggunakan sidik jari. Selama tiga tahun lanjut dia, India berhasil mengkaver 300 juta penduduk miskin.

Pemerintah Indonesia sendiri lanjutnya, tengah dalam tahap mempersiapkan kebijakan tersebut. Harry mengaku, pemerintah telah membahas hal ini dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

"Ya ini sedang proses persiapan. Mereka (Himbara) sudah siap," tambah dia.

Sayangnya, Harry enggan membocorkan kapan dan jenis biometrik apa yang paling cocok diterapkan di Indonesia. "Kami masih dalam posisi sosialisasi di dalam dulu supaya kami bisa mempersiapkan dengan baik dan benar. Persiapannya lama," tambah dia.

Lainnya dari Kontan

image beaconimage beaconimage beacon