Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Cara Twitter Bikin Linimasa Jadi "Adem"

logo Kompas.com Kompas.com 16/05/2018 Reska K. Nistanto

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi TwitterIst

Platform mikrobolog Twitter meluncurkan fitur untuk membuat linimasa (timeline) menjadi lebih adem. Twitter akan menyembunyikan kicauan negatif dengan mempelajari perilaku pengguna.

TeknikĀ  "behaviour-based signals" menggunaan serangkaian tanda (signal) untuk menentukan akun Twitter mana yang aman, dan mana yang melanggar ketentuan Twitter.

Twitter akan memantau tanda-tanda di platformnya, seperti akun Twitter tanpa alamat e-mail terkonfirmasi, akun Twitter ganda yang terhubung dengan satu identitas, dan juga perilaku yang terindikasi mengoordinasi suatu serangan.

Jika ada akun yang ketahuan "nakal" atau bikin panas linimasa Twitter, maka postingan akun tersebut akan disembunyikan. Tujuan fitur ini tak lain adalah merealisasian platform Twitter yang lebih "adem".

Selama ini, Twitter kerap dituding sebagai media sosial yang subur ujaran kebencian.

"Dengan menggunakan alat yang menunjukan tabiat dari sudut pandang perilaku, kami bisa meningkatkan percakapan serta pengalaman para pengguna Twitter yang lebih "sehat", tanpa harus menunggu orang-orang me-report potensi masalah kepada kami," jelas Vice President of Trust and Safety Del Harvey dan Group Product Manager David Gasca dalam keterangan tertulis Twitter.

Dirangkum KompasTekno dari Mobile Syrup, Rabu (16/5/2018), Twitter menyebut jika kicauan yang secara teknis tidak melanggar pedoman yang berlaku, akan tetap muncul. Pengguna bisa melihat kicauan tersebut dengan mengklik tombol "show more replies".

Twitter juga mengatakan jika banyak akun yang dilaporkan karena penyalahgunaan, tidak melanggar aturan Twitter.

Menurut Twitter, dalam uji coba fitur ini menurunkan tingkat laporan Twitter negatif dalam percakapan sebanyak 8 persen, dan 4 persen untuk pencarian. Harvey dan Gasca mengatakan jika fitur ini hanya bagian dari kurasi konten, yang bekerja di platform Twitter.

"Tujuan kami adalah belajar dengan cepat dan membuat proses serta alat kami lebih pintar", jelas harvey dan Gasca.

Keduanya berjanji untuk membagikan progres secara transparan dan lebih terbuka soal mengakui kesalahan yang terjadi di platform Twitter.

Penulis: Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Editor: Reska K. Nistanto

Sumber: Mobile Syrup

Copyright Kompas.com

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon