Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Warna Cahaya Pengaruhi Produktivitas Kerja

logo Tempo.co Tempo.co 21/04/2017 Tempo.co

Anda mungkin pernah mendengar irama sirkadian, siklus alami tubuh yang membantu kita untuk melakukan hal-hal seperti tertidur di malam hari dan aktif di siang hari.

Sekarang, sekelompok peneliti bekerja untuk memanipulasi irama tersebut untuk membuat kita lebih produktif di tempat kerja.

"Semakin banyak klien yang meminta dan mengharapkan sistem pencahayaan dan aplikasi yang dapat mendukung kesehatan dan kesejahteraan manusia," kata Mariana Figueiro dan Mark Rea, profesor di Lighting Research Center di Rensselaer Polytechnic Institute, seperti ditulis dalam Architectural Lighting baru-baru ini.

Masalah ini sangat penting, karena menurut Badan Perlindungan Lingkungan, orang yang hidup di kota-kota modern menghabiskan lebih dari 90 persen kehidupan mereka di dalam ruangan.

Beberapa tes sekarang menunjukkan bahwa manusia sangat sensitif terhadap cahaya biru, yang pada dasarnya merupakan warna utama yang kita lihat ketika kita berada di luar ruangan. Efek utama cahaya biru adalah untuk menekan melatonin, senyawa kimia otak yang bisa membuat kita merasa mengantuk.

Seperti dicatat Scientific American pada November, sebuah investigasi yang dilakukan oleh Christian Cajochen, kepala Pusat Chronobiology di University of Basel pada 2011, menemukan bahwa relawan yang terkena cahaya biru komputer LED-backlit selama lima jam di malam hari memproduksi melatonin lebih sedikit. "Mereka, tidak merasa terlalu lelah, dan tampil lebih baik pada tes perhatian daripada relawan yang berada di depan layar komputer neon-lit dengan ukuran dan kecerahan yang sama," katanya.

Para peneliti menyarankan para desainer kantor untuk memasukkan sebanyak mungkin cahaya biru seperti siang hari di kantor mereka.

Benarkah cahaya merah bikin ngantuk? 

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO

Dalam rangka mempromosikan siklus alam, Kita harus menjaga paparan cahaya di malam hari sesingkat mungkin, seredup mungkin, dan sehangat atau semerah mungkin, kata Steven Lockley, profesor kedokteran Harvard Medical School dan Brigham dan Rumah Sakit Wanita di Boston, kepada Architectural Lighting.

Tapi Lockley lebih lanjut menjelaskan bahwa "Cahaya merah hanya berlaku bagi orang yang mencoba untuk tidur di malam hari, dan itu tidak berlaku untuk orang yang mencoba untuk bekerja di malam hari."

Lockley dengan tegas melarang penggunaan cahaya merah selama bekerja shift malam. Disebutkan bahwa penggunaan cahaya merah berpotensi memunculkan bahaya bagi pekerja shift malam, "Cahaya merah akan membuat mereka lebih mengantuk dan lebih mungkin untuk mengalami kecelakaan," katanya.

Penelitian lain menunjukkan bahwa cahaya merah meningkatkan suasana hati pekerja malam. Beberapa peneliti juga mendukung penggunaan amber glasses (kacamata berlensa kuning) dan pencahayaan kuning atau merah bagi pekerja shift malam.

Yang jelas, cahaya harus diatur ke minimum ketika sedang tidur, dan jika harus ada beberapa lampu selama jam tidur, sebaiknya yang bercahaya merah. American Medical Association menyimpulkan, "paparan cahaya yang berlebihan di malam hari, termasuk penggunaan yang berkepanjangan dari berbagai media elektronik, dapat mengganggu tidur atau memperburuk gangguan tidur, terutama pada anak-anak dan remaja."

"Efek ini dapat diminimalkan dengan menggunakan pencahayaan merah redup di lingkungan kamar tidur malam," AMA menyatakan.

TIME | LUCIANA

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon