Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Selain Hipotermia, Ini Penyakit Lain yang Mengintai Pendaki Gunung

logo Kompas.com Kompas.com 16/05/2018 Sri Anindiati Nursastri

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Eksotika Ranu Kumbolo yang dipenuhi kemah para pendaki Gunung Semeru, Sabtu (7/4/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA

Musim panas menjadi waktu yang tepat untuk mendaki gunung. Tak heran, sejak pertengahan tahun ini, gunung-gunung di Indonesia mulai ramai pendaki.

Namun, mendaki di musim panas bukan berarti minim risiko. Meski curah hujan rendah, tetapi beberapa penyakit siap menghantui jika pendaki kurang persiapan dan pengetahuan.

"Pendaki harus mengetahui jenis penyakit apa saja yang ada, dan sering terjadi di pendakian. Lebih spesifik lagi seperti mengetahui apa itu hipotermia," ujar Soma, Pelatih Senior Wanadri saat dihubungi KompasTravel, Rabu (16/5/2018).

Dikutip dari buku Mountaineering-The Freedom of the Hills karya Edelstein, Li, Silverberg, dan Decker (2009), penyakit-penyakit tersebut masuk ke dalam kategori exposure. Yaitu kelelahan fisik yang disebabkan oleh keadaan alam atau lingkungan.

Berikut KompasTravel rangkum catatan penyakit tersebut beserta penanganan singkatnya:

1. Frostbite 

Kategori penyakit ini disebabkan oleh hawa dingin atau es (salju).

Frostbite sering terjadi di ujung jari tangan/kaki, dikarenakan letaknya yang jauh dari jantung, sehingga aliran darah minimal.

Frostbite bisa terjadi hanya di permukaan kulit, bahkan bisa ke dalam otot termasuk menyerang tulang jika sudah parah.

Jika terjadi di kulit, permukaan kulit akan terasa keras dan berwarna abu-abu putih, terasa sakit. Sedangkan jika makin parah bisa menjadi keras dan kaku seperti papan (mati rasa).

Penanganan yang harus Anda lakukan, mula-mula letakkan bagian yang sakit pada anggota tubuh lainnya yang hangat (ketiak atau selangkangan). Jangan menggosok-gosokkan karena mudah menyebabkan kematian jaringan.

Agar lebih hangat rendam bagian tersebut di air hangat, tetapi jangan dekatkan langsung ke sumber api, lampu, atau batu panas, kerana akan mengakibatkan kerusakan yang lebih parah.

Terakhir korban bisa Anda berikan makanan dan minuman hangat non alkohol. Semua proses harus dilakukan dengan steril.

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Karolin (17) salah satu pendaki Gunung Dempo yang ditemukan dalam kondisi selamat, dievakuasi tim SAR.Handout

2. Hipotermia

"Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh secara teratur, terus menerus dan tanpa disadari oleh orang tersebut," kata Soma kepada KompasTravel.

Hipotermia bisa terjadi pada keadaan basah dan berangin di tempat yang dingin, ditandai dengan suhu tubuh yang menurun, rasa lelah, sulit bicara, dan pikiran yang tidak terkendali.

Pertolongan pertama yang harus Anda lakukan ialah perbaiki keadaan, dengan ganti pakaian basah dengan yang kering, lebih baik beberapa lapis.

Lalu istirahat dalam kantong tidur (sleping bag) untuk mengurangi pengeluaran panas tubuh.

"Beri makanan dan minuman hangat agar suhu tubuh cepat kembali," tambah Soma.

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Pendaki berjalan menuju area pasar bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (21/9). Libur tahun baru Islam satu Muharram dimanfaatkan sejumlah wisatawan untuk mendaki menikmati panorama alam dari ketinggian 2.968 meter di atas permukaan air laut (mdpl). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

3. Heat stroke

Heat stroke justru kebalikan dari hipotermia, yaitu disebabkan suhu yang tinggi dengan pemasukan cairan yang kurang. Biasanya ini terjadi di tempat yang panas dalam waktu yang lama.

Seperti banyak berolahraga mengeluarkan keringat, tapi tidak diimbangi cairan dengan cairan masuk yang memadai.

Pertanda Anda terkena penyakit ini ialah suhu tubuh yang meningkat tidak terkendali, keringat berkurang, sangat haus, sesak nafas, sakit kepala, sampai tidak sadarkan diri.

"Umumnya didahului dengan dehidrasi," tuturnya.

Pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan ialah membawa korban ke tempat teduh, lindungi dari panas matahari, dinginkan kepala korban dengan kompres dingin, dan beri minuman dingin.

Penulis: Muhammad Irzal Adiakurnia

Editor: Sri Anindiati Nursastri

Copyright Kompas.com

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon