Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Jangan Anggap Mendongeng Sebagai Kegiatan Jadul

logo Kompas.com Kompas.com 02/08/2017 Lusia Kus Anna

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media IlustrasiShutterstock

Dongeng menjadi salah satu cara jitu untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Melalui dongeng, nilai yang ingin ditanamkan pun akan lebih mudah membekas dalam ingatan anak.

Sayangnya, karena kesibukan waktu banyak orangtua yang tidak sempat lagi mendongeng untuk buah hatinya. Tak sedikit pula yang menggantikan kegiatan mendongeng dengan aplikasi atau tontonan khusus anak di internet.

Padahal, tidak banyak kebajikan yang diajarkan dari aplikasi digital tersebut dibandingkan dengan dongeng.

"Ibu-ibu seharusnya jangan underestimate dengan dongeng atau menganggap kegiatan ini jadul," kata sosiolog dari Universitas Indonesia Prof.Paulus Wirutomo.

Ia mengatakan, melalui kegiatan mendongeng akan ada hubungan emosional yang terjalin antara orangtua dan anak. Selain itu, dongeng yang memiliki nilai positif akan membentuk karakter anak.

"Bagaimana pun, yang keluar dari suara ibu seringkali akan lebih tajam dibanding dengan yang dilihat anak di televisi atau gadget. Mendongeng jangan pernah dilupakan," ujarnya.

Meski demikian, orangtua juga perlu menyeleksi dongeng yang akan disampaikan. "Nilai-nilai yang ditanamkan dalam dongeng cerita rakyat tidak selalu baik, misalkan saja cerita 'Kancil Mencuri Timun', yang ditonjolkan justru nyolongnya," ucap Paulus.

Memilihkan dongeng dari negara lain, imbuh Paulus, juga tidak masalah sepanjang maknanya positif.

"Boleh juga memilih dongeng yang memiliki nilai-nilai agama. Nilai agama pasti bagus, tapi kalau diajarkan dengan tekanan yang salah bisa tidak baik. Misalnya menjelekkan agama lain, jadi harus hati-hati," katanya.

Editor: Lusia Kus Anna

Copyright Kompas.com

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon