Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Pernikahan Membuat Lebih Bahagia? Simak Penelitiannya

logo Tempo.co Tempo.co 05/03/2017 Tempo.co

Dalam studi yang dilakukan oleh peneliti di Carnegie Mellon University di Pittsburgh, Pennsylvania, pasangan menikah terbukti lebih terjamin kesehatannya dibandingkan dengan orang yang tidak dalam hubungan pernikahan.

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO

Hal itu disebabkan oleh kurangnya tingkat stres pada pasangan menikah. Dalam penelitian sebelumnya, pernikahan dihubungkan dengan masa hidup yang lebih lama yang dimungkinkan didukung oleh beberapa faktor seperti pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi atau mudahnya akses kesehatan.

Baca juga: Yang berbeda pada studi tersebut, para peneliti menguji hormon yang produksinya semakin tinggi ketika sedang stres atau biasa disebut kortisol. Pengujian dilakukan pada 572 laki-laki dan perempuan yang berumur 21 tahun 55 tahun

Hasilnya, menunjukkan bahwa individu yang telah menikah memiliki tingkat kortisol yang lebih rendah. Brian Chin, penggagas penelitian di Carneige Mellon University mengatakan penelitian tersebut juga mencoba mengusut benang merah bagaimana hubungan sosial dapat berdampak pada kesehatan secara fisik.

Kami tidak bisa menggambarkan kesimpulan yang cukup kuat dari studi ini untuk menjelaskan bagaimana ini bisa terjadi, tetapi kami mampu menyimpulkan dugaan yang ilmiah dari penelitianpenelitian sebelumnya, ungkapnya. Dengan memiliki pasangan, seseorang akan lebih memiliki mengakses kesehatan yang lebih terjamin karena biasanya pasangan menikah akan mengurus dengan serius asuransi kesehatan dan tentunya didukung dengan biaya yang lebih memadai.( Baca : )

Seorang istri atau suami akan memberikan dorongan kepada pasangannya untuk menjaga gaya hidup yang sehat seperti melarang merokok dan mengkonsumsi alkohol. Sebanyak 292 responden yang belum pernah menikah dengan umur berkisar 29 tahun dibandingkan dengan responden umur 37 tahun yang jumlahnya sekitar 160 orang berstatus sudah menikah dan dibandingkan lagi dengan responden umur 40 yang jumlahnya sekitar 56 orang yang sudah tidak menikah lagi.

Menurut Chin, kadar hormon kortisol akan naik ketika seseorang bangun dari tidur. Sementara itu, pasangan yang telah menikah hormon kortisolnya lebih cepat turun, terutama saat malam hari, sebuah tanda yang berdampak positif terhadap kesehatan, seperti terhindar dari penyakit jantung dan daya tahan terhadap penyakit kanker.

Perbandingan kadar kortisol pada siang hari di antara orang yang sudah menikah dan yang belum bukanlah disebabkan oleh perbedaan level kortisol saat pagi hari, jelasnya.

Hal itu terjadi pada pasangan yang telah menikah, karena mereka memiliki kepuasan dalam hubungan mereka sehingga hormon kortisol jauh lebih rendah ketika siang hari dibandingkan dengan orang yang memiliki hubungan yang buruk dengan pasangannya atau yang memang tidak menikah. Kendati demikian, peneliti mencatat bahwa studi sebelumnya belum mampu menjelaskan hubungan antara kualitas hubungan pernikahan seseorang dan tingkat kortisol.

Kira Birditt, peneliti di University of Michigan yang tidak berhubungan dengan riset ini menilai bahwa penemuan tersebut menarik. Kortisol menjadi ukuran terjadinya respons stres yang dapat menunjukkan bagaimana hubungan dapat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang.

Baca juga: Sayangnya, studi ini tidak menindaklanjuti penilaian terkait terjadinya stres atau interaksi sosial sehari-hari untuk memahami efek dari bermacam pengalaman pada orang yang telah menikah dan yang belum menikah. Sejatinya, penelitian ini tidak didesain menjadi eksperimen untuk membuktikan bahwa pernikahan memengaruhi tingkat stres untuk mengukur benefit bagi kesehatan.

Terlepas dari penelitian-penelitian tersebut, terjadinya stres dapat dipicu oleh faktor yang bervariasi. Satu penelitian tentu tak cukup untuk menggeneralisasi bahwa orang yang belum menikah tidak bahagia, bukan?

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon