Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Ayo Ke Klaten, Berburu Kaset Lawas dan Piringan Hitam

logo Tempo.co Tempo.co 20/10/2017 Tempo.co

Para kolektor kaset pita dan piringan hitam perlu mempertimbangkan berakhir pekan di Klaten, Jawa Tengah, Sabtu 21 Oktober 2017 ini. Ada perhelatan yang dinamakan Cassete Store Day yang melibatkan sembilan lapak penjual kaset dan piringan hitam.

Sekumpulan pemuda yang bergelut di dunia industri kreatif akan menyediakan tempat bagi lapak kaset dan piringan hitam untuk memajang koleksinya. Tempatnya di satu kafe yang berada di Jalan Bhayangkara, Gang Regulo, Tonggalan, Klaten Tengah.

"Besok ada sembilan lapak kaset pita dan vinyl akan memamerkan ratusan koleksi dengan harga terjangkau," kata panitia acara, Leksana, kepada Tempo, Jumat, 20 Oktober 2017. Kesembilan lapak kaset dari Klaten, Solo, dan Jogja itu antara lain Toko Musik Luwes, Toko Musik Bonanza, Holyflesh, Rilisan Fisik, Local Jajan Corner, Conspiracy, Solonesia, dan Limunlownoise.

foto © Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Mereka memberi tajuk hajatan itu Cassete Store Day. Lapak kaset dan piringan hitam akan buka selama tujuh jam sejak pukul 14.00. Acara tahunan ini digelar untuk merayakan eksistensi kaset pita di era digital.

Maraknya laman maupun aplikasi musik streaming di era digital memang mengubah minat banyak penikmat musik dan lagu. Kolektor kaset pita di Jawa Tengah dan Yogyakarta pasti tak asing dengan Toko Musik Luwes yang berada di Yogyakarta atau Toko Musik Bonanza di Klaten. Kedua tempat ini menjadi rujukan utama bagi mereka yang senang mengoleksi rilisan fisik atau album musik, yang diantaranya berupa kaset maupun cakram padat.

Era digital tak mengubah kesukaan mereka. "Kaset belum punah. Justru dalam dua tahun terakhir ini pamornya kembali naik. Masih banyak band-band indie yang merilis albumnya dalam kaset dan CD," kata Leksana.

Jadi, Cassete Store Day tak hanya bertujuan untuk mengenang masa kejayaan kaset pita, yang dinikmati para generasi milenial (kelahiran 1980-1997) dan generasi X (kelahiran 1965-1980). Tapi juga ajang bertemu dan diskusi antara para penggemar koleksi kaset dan cakram padat.

Leksana menganggap kehadiran kaset dan cakram padat dapat menumbuhkan sekaligus menguatkan ikatan emosional antara band indie dan komunitas penggemarnya. “Rasa memiliki band favorit jadi lebih kuat kalau punya koleksi kaset-kasetnya, tidak cuma mengunduh mp3 atau videonya di internet,” kata pemilik kafe Pendopo Lokal Jajan yang juga menekuni bisnis jual-beli kaset bekas itu.

Sembari berburu kaset dan CD, pengunjung bisa menikmati permainan akustik empat band dari Klaten dan Jogja. Salah satunya Last Elise, grup band indie dari Jogja yang telah menelurkan dua album dalam bentuk CD. "Tahun depan Last Elise akan membuat dua albumnya dalam bentuk kaset di Lokananta Solo," kata Leksana.

Pengunjung acara Cassete Store Day di Klaten juga disuguhi penampilan live mural oleh dua bomber asal, Gads X Eat, di atas papan seluas 2,4 x 1,2 meter, live sablon dari Wabah Screen Printing Delanggu, serta lapak merchandise dari Rotten Incorporated, Ngemalngemil, 86 Socks & Unyiyumi Accessories.

Salah satu penggemar kaset pita dari Denpasar, Pitut Saputra, mengaku beruntung mudik ke Klaten bertepatan pada acara Cassete Store Day. "Sengaja saya undur rencana kepulangan saya ke Bali demi hunting (berburu) kaset-kaset bekas," kata lelaki 40 tahun asal Kecamatan Delanggu, Klaten, yang bekerja sebagai pelukis di salah satu galeri seni di Denpasar.

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon