Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Bermain LEGO Ternyata Simpan Sejuta Manfaat!

logo AntaraAntara 13/02/2018

Ah, cuma mainan!" Tapi, jangan salah lho, biarpun hanya mainan rupanya LEGO itu menyimpan sejuta manfaat. Nggak percaya? Simak penjelasan dari Psikolog Ratih Ibrahim, M.M, Psikolog.

Menurut Ratih, zaman sekarang ini tidak cukup hanya rajin dan pintar, tapi juga harus sangat kreatif.

"Setiap anak dibekali dengan berbagai kecerdasan yang lengkap dan perlu dikembangkan melalui stimulasi yang tepat dengan usia perkembangannya," jelas psikolog dari Personal Growth ini saat berbincang dalam acara dalam acara Bricklive Jakarta di PIK Avenue, Kamis (8/2).

Bicara soal kecerdasan, mengutip dari Howard Gardner (1983), terdapat beragam kecerdasan meliputi linguistik, logical-math, spasial, musikal, bodily-kinesthetic, interpersonal, naturalis, kognitif, psikomotorik, kognitif, psikomotorik, dan psikososial.

Bermain LEGO Ternyata Simpan Sejuta Manfaat! © Antara Bermain LEGO Ternyata Simpan Sejuta Manfaat!

"Tentu saja, kecerdasan tersebut itu distimulasi sehingga memancing respons tertentu. Sebagai contoh, LEGO. Melalui warna, anak belajar mengenai konsep dasar bentu, warna, jumlah, space (jarak, ruang). Kemudian, anak dapat membentuk beragam bentuk itu juga memicu kreativitasnya," terang Ratih mengenai kecerdasan kognitif.

Ia melanjutkan, anak itu memiliki logika membangun konsep dan strategi yang dibawa hingga dewasa. Selain itu, anak belajar problem solving, apakah sudah benar pasang LEGO-nya. Dan juga anak memiliki daya konsentrasi.  

"Anak juga memiliki kecerdasan psikomotor, seperti koordinasi mata dan motorik melalui melihat bentuk dan menyusun LEGO. Dengan jari-jarinya mengasah motorik halus, dan melatih motorik halus," imbuhnya.

Kemudian mengenai kecerdasan psikososial, sambung Ratih, anak belajar sembari bermain yang membuat anak gembira dan emosinya menjadi sehat. "Berinteraksi dengan anak lain sehingga membuat team working, memiliki self-esteem, dan sharing ideas melaluii eksplorasi konsep," pungkas alumnus psikologi Universitas Indonesia ini.(Paramita/wy)

image beaconimage beaconimage beacon