Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Fakta Sambal, Aslinya Tak Harus Pedas

logo Tempo.co Tempo.co 11/01/2017 Tempo.co

Siapa orang Indonesia yang tak tahu sambal? Hampir seluruh masyarakat Indonesia pasti tahu dan pernah mencicipi hidangan yang satu ini.

© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO

Sambal kerap disajikan sebagai hidangan pelengkap. Cita rasanya identik dengan rasa pedas. Maklum, bahan baku utama untuk membuat sambal tak lain adalah cabai. Namun apakah sambal harus selalu terbuat dari cabai dan bercita rasa pedas?

Dikutip dari buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia karangan Fadly Rahman, genus cabai dibawa ke Tanah Air pada abad ke-16 oleh orang Spanyol dan Portugis dari Amerika Selatan.

Pada abad ke-10, yakni sebelum cabai masuk ke Tanah Air, sambal diracik dari cabya atau cabai Jawa ( Piper retrofractum ), yang buah keringnya dipakai sebagai rempah pemedas. Baru pada abad ke-17 Masehi, sambal lebih identik dengan sensasi pedas karena dibuat dengan cabai dari Amerika Selatan.

Fadly juga menduga, bila cabai dari Amerika Selatan belum terbudidayakan pada masa sebelum abad ke-16 Masehi, bisa jadi bahan pemedas lain masih terpaku pada jahe yang punya sifat pedas serta hangat akibat efek gingerin .

Sambal juga tidak melulu harus pedas. Ada sambal yang digunakan sebagai bumbu pelengkap hidangan tertentu, misalnya pecel. Pada hidangan ini, bahan sambal yang paling mungkin digunakan adalah kacang.

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon