Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Nasi Goreng Padang - Lebih dari Cabai, Ternyata Pedasnya dari Bahan Ini. Hati-hati Saat Pesan!

logo TRIBUN TRAVEL TRIBUN TRAVEL 11/01/2017

Kamu penggemar kuliner Minang?

Cobalah cicipi Nasi Goreng Padang di Semarang yang sudah tersohor.

Nasi Goreng Padang di Semarang terdapat di Rumah Makan Bangjo yang sudah ada sejak 2006.

Sejak sore hingga malam hari kamu akan melihat kedainya dikerubuti para penikmat olahan rempah Minang.

Satu di antara yang terkenal di kalangan penikmatnya ialah rasa pedas yang tak biasa.

Nasi Goreng Padang Bangjo memiliki ukuran pedas yang berbeda dari kudapan minang lainnya di Semarang.

Namun, ternyata bukan dari banyaknya cabai yang digunakan, atau cabai setan yang kini menjadi andalan para koki masakan pedas.

Penasaran dengan sensasi pedas juga nikmatnya rempah ala minang, Tribun Jateng pun memesan seporsi Nasi Goreng Padang, lauk babat dengan tikatan pedas sedang.

Aroma rempahnya sangat terasa ketika seporsi nasi goreng yang terlihat kuning itu hadir di meja.

Kamu akan merasakan aroma lada, pala, dan yang lainnya menusuk di hidung.

Saat kamu menyuapnya, akan terasa pedas rempah yang berbeda dengan cabai biasa.

Panasnya terasa lebih lama, dan cenderung panas saat suapan-suapan terakhir di porsi tersebut.

Padahal ini tingkat “sedang” masih ada beberapa tingkat lagi diatasnya, ada “pedas”, dan “pedas banget”.

Di luar sensasi pedasnya, seluruh rempahnya terasa menyatu dalam setiap suapan.

Seperti bumbu rendang, tetapi cenderung “spicy”, mirip masakan India.

Penasaran dengan sensasi uniknya, Tribun Jateng segera mengintrogasi sang pencetus sekaligus penemu racikan bumbu Nasi Goreng Padang, Bambang.

Ia mengatakan, dari pertama kali buka sendiri terkenal dengan pedasnya yang tidak biasa.

Namun justru itu yang dinikmati pembeli, kebanyakan naik ke tingkat “pedas”.

“Jadi ternyata kalau cabai dikombinasikan dengan rempah merica yang pas itu bagus sekali rasanya. Jadi tak hanya pedas tapi hangat di badan panas juga kalo banyak,” ujar Bambang saat dikunjungi, Sabtu (7/1/2017).

Selain merica, ia menuturkan beberapa rempah yang membuat sensasi “padang”nya berbeda ialah polo, jahe, kolaka, cabe kering dan yang lainnya.

“Dulu sering, banyak yang ngerjain temennya suruh tulis pedas, padahal kalau disini pilihan pedas itu berarti lebih dari pedas dari nasi goreng biasanya,” ujar Bambang.

Seporsi Nasi Goreng Padang, lauk babat dengan tingkatan pedas sedang. © Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia Seporsi Nasi Goreng Padang, lauk babat dengan tingkatan pedas sedang.

Ia mengatakan, hampir 90 persen penyuka pedasnya ialah kalangan mahasiswa. Tak hanya dari Semarang, bahkan berkali-kali ia mendapatkan pelangganya dari Jogja.

Cara memesan agar tingkatan pedas sesuai selera yang memesan.

Bambang mengatakan jika tak suka pedas, tulislah tidak pedas, maka kamu akan merasakan Nasi Goreng Padang tanpa rempah cabai kering.

Sensasinya tetap pedas, tetapi sangat tipis, ia biasa menyebutnya “spicy”.

Sementara tingkatan “sedang”, cukup bagi yang tak terlalu suka pedas.

Ia pun menambahkan sedikit porsi rempah dan juga sedikit bumbu cabai kering.

“Jika sedang itu mungkin kalau di nasi goreng biasa sudah termasuk pedas, pake bumbu biasa tapi cabe kering dikit,” ujarnya.

Naik di atasnya, kamu bisa menuliskan “pedas” untuk mendapatkan sensasi pedas sekaligus panasnya rempah.

Di sini ia, menggunakan banyak rempah dan bumbu cabai kering sedikit.

Terakhir bagi kamu pecinta pedas, silakan memesan dengan menuliskan “pedas banget”.

Maka siap-siap kamu menyeka kringat yang memenuhi kening, karena rempah dan cabai kering yang digunakan porsinya sama banyak.

“Kalau pedas banget, kombinasi antara cabe dan rempah pedasnya setengah setengah, sensasinya pedas, juga panas di akhir-akhir. Hangat sih, cocok buat cuaca dingin,” ujarnya sambil sedikit tertawa.

Bagi kamu penyuka kuliner Minang, wajib mencobanya dengan datang ke warung makan Nasi Goreng Padang Bangjo, di Jalan Hasanuddin 8, Semarang.

Buka mulai pukul 15.00-22.00 WIB.

Selain disajikan dengan lauk babat, beragam pilihan lain tersedia mulai telur, babat, daging sapi, udang, baokso, sosis, pete, daging kambing, cumi, ati ampela, hingga keju, dan nanas.

Bergam varian rasa tersebut bisa kamu coba dengan harga mulai Rp 10 ribu hingga Rp 40 ribu untuk nasi goreng super spesial dengan tujuh lauk yang berbeda dalam satu porsi.

Kamu juga bisa memilih porsi double, dengan menambah Rp 5 ribu. (Magang Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia)

Lainnya dari TRIBUN TRAVEL

image beaconimage beaconimage beacon