Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Kopi Klaten Unjuk Gigi di Nggone Mbahmu Coffee Roaster

logo Tempo.co Tempo.co 19/11/2017 Tempo.co

Hanya orang tertentu yang berani berspekulasi membuka coffeeshop di kota kecil yang jauh dari kampus. Pertama, pengusaha bermodal besar. Kedua, penggila kopi. Kebetulan dua hal itu menyatu dalam diri Ie Purnama Sidi, 49 tahun, pemilik Nggone Mbahmu Coffee Roaster, Klaten.

“Daripada rumah ini kosong, istri saya Warih Irwanti usul buat tempat usaha. Karena dia hobi ngopi, jadilah seperti sekarang,” kata Purnama saat ditemui Tempo di rumah sangrai kopi sekaligus coffeeshop miliknya di Jalan Bhayangkara Nomor 93, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jumat, 17 November 2017.

© Disediakan oleh Tempo.co Suasana di Nggone MbahmuCoffe Roaster, Klaten, Jawa Tengah. Tempo/Dinda Leo Listy

Purnama awalnya bukan penggemar kopi. “Saya dulu lebih hobi ngeteh (minum teh),” kata pengusaha minyak goreng itu. Demi mewujudkan keinginan istrinya, dia rela menghabiskan waktu setahun penuh untuk menyelami dunia kopi dari tataran paling dasar yaitu menyangrai.

Aroma wangi yang menguar saat proses pemanggangan biji kopi itulah yang menumbuhkan cinta pertamanya pada kopi. “Satu jenis kopi bisa menghasilkan sekian banyak varian aroma dan cita rasa tergantung dari cara menyangrainya,” kata dia.

Purnama mencontohkan, selisih sedikit saja ukuran suhu serta lamanya proses sangrai, rasa yang dihasilkan bakal berbeda. “Ini yang membuat saya tertantang, masih banyak teka-teki dari kopi yang harus saya pecahkan.”

Saat pertama kali merintis usaha kopi, Purnama sempat mendapat komentar miring dari keluarganya. Sebab, Purnama terbilang sudah mapan secara finansial dengan mengelola toko minyak goreng, bisnis keluarga yang diwariskan secara turun temurun dari kakek dan ayahnya.

Ayah satu anak itu mengaku keuntungannya tidak seberapa jika dibandingkan tenaga yang dia habiskan melayani pelanggan. Para penggemar kopi memang berdatangan sejak pukul 11.00 sampai 18.00.

“Tapi semua capek hilang tiap ada pelanggan yang menyatakan kepuasannya setelah menyeruput kopi buatan kami,” kata Purnama. Dia sengaja belum mempekerjakan barista atau pelayan di rumah kopinya.

Baru dua bulan merintis Nggone Mbahmu Coffee Roaster, Purnama terpilih sebagai salah satu dari sekitar 70 pegiat kopi yang diundang dalam acara perayaan Hari Kopi Internasional di Istana Presiden, Bogor, Jawa Barat, pada 1 Oktober lalu. Dia menduga keikutsertaannya dalam acara ngopi dan ngobrol bareng Presiden Joko Widodo itu berkat ulasan usahanya di blog milik teman istrinya.

© Disediakan oleh Tempo.co Pintu masuk ke area Nggone Mbahmu Coffee Roaster di Klaten. Tempo/Dinda Leo LIsty

Blog yang membahas tentang upaya Purnama mengangkat pamor kopi asli Klaten dari lereng Gunung Merapi itu mendapat komentar positif dari pihak Kementerian Pariwisata. “Pak Jokowi tersenyum saat membaca nama Nggone Mbahmu di kartu nama yang saya sodorkan. Beliau juga sempat menanyakan di mana lokasinya,” kata Purnama.

Kabar Nggone Mbahmu Coffee Roaster diundang ke Istana Presiden itu cepat tersebar di media sosial dan membuat banyak orang penasaran. “Niat awal kami cuma menjual biji kopi yang sudah disangrai untuk pecinta kopi serius. Ternyata masih banyak yang belum paham kopi. Ya sudah, biar sekalian mereka saling berbagi cerita tentang kopi di sini,” kata Irwanti.

DINDA LEO LISTY (Klaten)

foto © Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon