Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Akhirnya Jurgen Klopp Muak Juga

logo Goal.com Goal.com 24/10/2017

Setelah bersabar terlalu lama, akhirnya Klopp muak dan mengambil langkah berani untuk menarik Lovren - dan menjatuhkan harga dirinya - di menit ke-31.

Kesabaran ada batasnya. Pepatah ini biasanya diucapkan setiap kali ada sosok yang sabar sudah tak bisa lagi mengendalikan emosinya. Semisal ada seorang wanita yang sabar menunggu kekasihnya berlayar selama empat tahun, lalu selingkuh di tahun kelima. Bisa juga ada seorang guru yang sabar mendidik muridnya, tapi akhirnya murka karena si murid selalu membantah perkataannya.

Kemarin Minggu (22/10), pepatah itu kiranya layak ditujukan kepada Jurgen Norbert Klopp.

Kendati eksplosif dan ekspresif, Klopp dikenal sebagai figure yang sabar. Manajer Liverpool itu jarang mengecam pemainnya di hadapan publik dan tak mau menyalahkan individu atas performa buruk tim. Ia selalu siap bertanggung jawab atas hasil buruk atau jika situasi terlalu parah, membagi rata beban kepada segenap skuatnya.

Adapun kesabaran pria kelahiran Stuttgart itu akhirnya padam juga ketika Liverpool tertinggal 2-0 di paruh pertama laga kontra Tottenham Hotspur.

Untuk kesekian kalinya, Klopp dipaksa untuk melihat kerapuhan lini belakangnya dan Spurs mampu membobol gawangnya dengan mudah. Kedua gol tersebut bermula dari kesalahan fatal Dejan Lovren yang ditugasi mengawal Harry Kane. Dalam gol pertama, ia mengambil jara kterlalu jauh dan membelakangi Kane. Dalam gol kedua, ia gagal menyundul bola sehingga sang striker bisa menciptakan assist untuk Son Heung-Min.

Sebenarnya bek tengah Kroasia itu sudah sering melakukan fatal,tapi tak pernah sekrusial ini. Pasalnya, Liverpool sedang butuh momentum untuk melanjutkan kemenangan 7-0 atas Maribor dan perlumen jaga posisinya di papan atas. Eh, ternyata Lovren yang dipercaya oleh sang manajer – yang selalu diyakini bisa berkembang lewat latihan – justru membuat The Reds terguling ke peringkat sembilan Liga Primer Inggris.

Pantas saja Klopp menariknya keluar di menit ke-31 dan justru Alex Oxlade-Chamberlain yang menggantikan eks bek Southampton tersebut.

Di Balik Pergantian Lovren

Merupakan sebuah pemandangan langka ketika Klopp mengambil langkah berani dengan melakukan pergantian di paruh pertama. Kemungkinan pertama adalah sang manajer berusaha mengubah jalur pertandingan dan menambahkan daya gedor. Kedua, pemain terkait mengalami cedera. Ketiga, ia muak dengan performa pemain terkait. Khusus untuk kasus kemarin, tampaknya kemungkinan opsi ketiga yang jadi pemicunya.

Siapa pun bakal muak kalau melihat performa Lovren selama tiga tahun terakhir. Meski sudah mendapat kepercayaan dari Klopp, bek kawakan Kroasia itu tetap sering melakukan kesalahan. Kecenderungan untuk maju dan melakukan intersepsi terlalu berlebihan, bahkan seringkali tanpa perhitungan. Saat salah ambil keputusan itu berujung dua gol lawan, Klopp tak lagi berkompromi dan menariknya keluar.

“Jika saya terlibat dalam situasi seperti itu di lapangan, maka Harry Kane takkan mendapatkan bola. [Gol pertama] itu takkan terjadi jika saya ada di lapangan, tapi saya ada di tengah area teknis dengan trainers. Setiap tugas pemain sudah jelas, tapi kami tak bisa melakukannya,” ungkap Jurgen Klopp setelah pertandingan, menyindir pergerakan Lovren ketika gol pertama terjadi.

“Kami mendapatkan sekitar 60 hingga 70 persen penguasaan bola, tapi setelah 2-0, Anda melihat gol-gol itu, apa yang kami lakukan ketika gol terjadi, sebenarnya mudah diantisipasi, kami sudah menghadapi banyak situasi seperti ini sepanjang musim,” tandas sang manajer, berusaha menahan kekecewaanya setelah pertandingan.

Dari satu sisi, langkah tersebut memang bisa dianggap sebagai reaksi dari buruknya perform Lovren dan memuncaknya kemuakan Klopp. Namun dari sisi lain, bisa saja langkah ini merupakan tindakan matang yang sudah dipikirkan ke depannya oleh Klopp. Setidaknya, ini terlihat seperti jurus pamungkas Kloppo untuk mengakhiri paceklik kecerdasan Lovren dalam bertahan.

Menarik seorang pemain keluar di menit ke-31 adalah sebuah penghinaan besar. Tak terkecuali untuk Lovren, yang kemudian diganti oleh seorang gelandang, langkah Klopp seharusnya jadi pukulan telak. Sebagai pemain reguler, ditarik ketika laga baru berjalan setengah jam secara tidak langsung menyampaikan makna bahwa dirinya tak pantas bermain, bahkan untuk satu babak. Hargadiri Lovren mungkin terasa diinjak oleh Kloppo.

Adapun Shock Therapy ini adalah cara terakhir yang dimiliki oleh Klopp. Kesabaran dan tekun melatih sudah jadi opsi yang lama. Ia terus memberi kesempatan pada Lovren, bahkan memberinya begitu banyak waktu bermain. Siapa sangka, Lovren mengkhianati kepercayaan Klopp – sang manajer pun habis kesabaran. Secara psikologis, langkah ini tentu diharapkan mampu mengubah permainan Lovren kemasa jayanya – seperti ketika masih membela Southampton.

Sistem Membentuk Individu, Individu Merusak Sistem

© 2017 Goal.com

Jurgen Klopp adalah tipe manajer yang percaya bahwa latihan dan pembangunan sistem bisa membawa pemain ke level tertinggi. Karena itu, ia berusaha menciptakan sistem permainan yang mampu memaksimalkan peran masing-masing posisi. Ia percaya dengan sistem yang tepat, pemain bisa mengikuti pola dan pada akhirnya menjadi pemain yang tepat untuk filosofinya.

Tak heran, ia tampak tak khawatir ketika Liverpool gagal mendapatkan Virgil van Djik. Dengan situasi skuat yang sekarang, ia optimistis mampu membangun tim yang tangguh jika sistemnya tepat. Gegenpressing adalah print birunya, sementara pemain lain diharapkan mampu menyatu dan membangun sebuah skema sepakbola unggulan.

Taktik ini terbukti berhasil ketika Klopp memutuskan untuk mempertahankan Alberto Moreno. Sempat dihujat di awal kedatangan Klopp, Moreno sempat dicadangkan dan diberi porsi latihan yang berbeda dengan rekan-rekannya. Ia sering diberi waktu untuk beristirahat dari skuat utama guna mengamati pergerakan rekan-rekannya. Hasil akhir ternyata positif, Moreno jadi salah satu pemain paling diandalkan lini belakang Liverpool musim ini –daya eksplosifnya digabungkan dengan pressing disiplin versi Klopp.

Adapun yang terjadi pada Lovren justru sebaliknya. Berusaha membentuk Lovren sesuai kebutuhan Liverpool, yang terjadi justru Lovren menghancurkan segenap rancangan muluk dari Klopp. Kehancuran tersebut dapat dilihat langsung dari penampilan pertahanan The Reds setiap kali Lovren berduet dengan Joel Matip.

Pada awal kedatangannya dari Schalke, Matip tampak seperti bek yang tenang dan dewasa dalam meredam serangan. Bek Kamerun itu terlihat sangat pas dengan skema Klopp dan mampu mengatur jalannya permainan dari belakang. Sayang, performa itu hanya tersaji selama dua hingga tiga bulan. Tak lama berselang, justru performa Matip yang tertular grusa-grusu style (gaya terburu-buru) dari Lovren.

Duet bek tengah sering dianalogikan sebagai jantung pertahanan. Pemilihan analogi tepat jika digunakan untuk memandang masalah Liverpool sekarang. Duet Matip – Lovren merupakan jantung, jika salah satu katup saja tidak berfungsi dengan baik, yang satu akan memaksakan terus bekerja dan kerja jantung itu tidak optimal.

Seandainya kinerja payah jantung itu berujung pada penyumbatan (yang berarti aliran permainan tidak berjalan semestinya), serangan jantung bisa saja terjadi. Serangan pada jantung pertahanan Liverpool pada akhirnya membuat segenap konstruksi Liverpool runtuh– lalu dijebol empat kali.

Tidak Ada Jalan Keluar

Melihat situasi Liverpool saat ini, sejatinya tidak ada jalan keluar dari keterpurukan. Inkonsistensi bakal terus menghantui Jurgen Klopp jika tak ada pergantian dalam skuat. Padahal, bursa transfer baru akan tiba pada musim dingin – itu pun tetap jadi periode yang sulit untuk mendatangkan pemain-pemain top, terutama bek tengah.

Perubahan taktik sangat tidak mungkin, mengingat Klopp yang sudah terbukti dan percaya pada sistem buatannya. Sementara itu, roda-roda penyusun sistem tersebut sudah tidak layak pakai dan tak ada serepnya. Ini seperti memasang gerigi berkarat dalam kinerja jam tangan. Ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni penunjuk waktu berjalan terlalu lambat, atau bahkan tak bergerak sama sekali.

Yang pasti langkah radikal sudah diambil oleh Jurgen Klopp. Sang manajer tentu muak sampai-sampai sudah kehabisan cara dan kini menyudukan Lovren. Namun tetap saja, pada akhirnya, yang bisa menyelamatkan Liverpool dari keterpurukan adalah … keajaiban.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon