Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Ana Ivanovic Bahas Cita-cita Anak

logo tribunnews.com tribunnews.com 28/12/2016 Danang Setiaji Prabowo

TRIBUNNEWS.COM - Setiap orang tua yang telah memiliki karir cemerlang, biasanya berharap anaknya kelak bisa mengikuti jejaknya atau bahkan melebihinya.

Namun hal ini rupanya tak berlaku bagi Ivanovic. Meski saat ini belum dikaruniai keturunan, Ivanovic berharap anaknya kelak tak mengikuti jejaknya sebagai atlet tenis.

Istri Bastian Schweinsteiger ini mengungkapkan alasannya mengapa ia merasa agak berat bila anaknya kelak ikut terjun ke dunia tenis. Ivanovic menuturkan meniti karir sebagai petenis dari nol tidak mudah karena terpaksa tak menjalani masa kanak-kanak seperti anak-anak pada umumnya. Apalagi saat itu ia mulai bermain tenis saat Serbia sedang menjalani perang.

Ana Ivanovic dan Bastian Schweinsteiger © DAILYMAIL Ana Ivanovic dan Bastian Schweinsteiger

"Ya, meskipun saya berharap itu tidak terjadi. Karena tenis merupakan kehidupan yang sulit, tanpa masa kanak-kanak yang normal," ujar Ivanovic kepada Grazia Magazine.

"Ketika saya mulai bermain tenis, saya selalu mengikuti ayahku karena ibuku bersama adikku, Milos, yang sekarang berusia 25 tahun. Dia belajar ekonomi dan bekerja di perusahaan keluarga. Kemudian, saya mulai sering bepergian. Ayahku selalu bersamaku. " sambung juara Prancis Terbuka 2008 ini.

Selama meniti karir sebagai petenis, Ivanovic mulai sering bepergian. Sang ayah, selalu menemaninya pergi kemana-mana meski terkadang bekerja sebagai pengacara. Namun saat perang bergejolak, kata Ivanovic, ayahnya harus berhenti bekerja untuk sementara. Kondisi itu makin dipersulit dengan adanya inflasi, yang menyebabkan nilai pendapatan keluarganya menurun secara konstan.

Adapun memori perang yang melanda Serbia pada tahun 90'an tak akan pernah hilang dari ingatan Ivanovic. Dentuman keras akibat bom yang dijatuhkan pasukan NATO kala membombardir Kosovo pada tahun 1999 selama 78 hari akan selalu terpatri dalam ingatannya. Ia selalu terbayang betapa sulitnya perjuangannya kala itu menjadi atlet tenis karena harus berlatih dan bertanding saat negaranya tengah dilanda peperangan.

Bagi Ivanovic, masa-masa tahun 90’an adalah momen paling sulit bagi negaranya. Ia menjelaskan masa perang membuat dirinya semakin sulit untuk berlatih maupun bertanding karena tenis bukan olahraga yang populer di Serbia.

“Pelatih mengatakan bahwa saya sangat berbakat dan memiliki potensi. Tapi karena berasal dari Serbia, itu tidak mudah. Tahun 90’an adalah tahun yang paling sulit bagi negara kami. Kami melalui dua peperangan. Sangat sulit bagi kami untuk berlatih dan bepergian, serta mendukung diri kami sendiri. Karena tenis bukan olahraga yang sangat populer di sana,” kata Ivanovic seperti dilansir sportsnet.ca.

Kendala seperti itu tak menghalangi Ivanovic untuk terus berlatih. Ia semakin semangat karena kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh. Kerja keras Ivanovic pun membuahkan hasil, karena akhirnya ia berhasil mendapat sponsor di usia yang masih sangat belia sehingga bisa mengikuti turnamen di luar negeri.

“Kecintaan saya pada permainan ini membuat orang tua saya mendukung penuh. Saya sangat beruntung mendapat sponsor di usia yang sangat muda. Itu membantu saya bermain di lebih banyak turnamen dan terkadang pergi ke luar negeri. Itu membantu saya membentuk diri sebagai pemain profesional,” tuturnya.

Lainnya dari tribunnews.com

tribunnews.com
tribunnews.com
image beaconimage beaconimage beacon