Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Apakah Jupp "The Godfather" Heynckes Masih Bertangan Dingin?

logo Goal.com Goal.com 07/10/2017

Pro dan kontra menyeruak seiring keputusan Bayern Munich memanggil "The Godfather" dari masa pensiun, untuk duduk di kursi pelatih.

Tedapat tiga kompetitor berkualitas dalam isu pencarian Bayern Munich atas sosok pelatih baru, usaimemecat Carlo Ancelotti dua pekan lalu. Tiga sosok tersebut adalahThomas Tuchel, Julian Nagelsmann, dan Jurgen Klopp.

Dari ketiga nama tersebut, Tuchel menjadi figur paling realistismenimbang dua kompetitor lainnya yang masih terikat kontrak diklubnya masing-masing. Kiprahnya kala menukangi Mainz 05 danBorussia Dortmund juga dipandang brilian, meski hanya persembahkansatu trofi DFB-Pokal Jerman.

Namun dalam tiga hari terakhir, Bayern secara mengejutkanmengapungkan rumor akan memanggil kembali pelatih legendarisnya,Jupp Heynckes. Tepat pada Jumat (6/10) kemarin,Die Roten pun resmi mengumumkan bahwa Heynckes akan menjabatsebagai pelatih kepala hingga akhir musim.

© 2017 Goal.com

Heynckes sama sekali bukan sosok pelatih yang bisa Andaremehkan. Dia adalah salah satu trainer terbaik yang pernahdimiliki Jerman dan dunia sepakbola. Julukan populernya, "TheGodfather", merepresentasikan dengan tegas seperti apakebesarannya.

Memulai karier kepelatihan sejak 1979 dan sempat mengakhirinyapada 2013 lalu, Heynckes menandai kebesarannya lewat sederet trofibergengsi. Dua belas gelar dipersembahkan, dengan dua di antaranyamerupakan trofi Liga Champions.

Alasan Heynckes bisa bertahan di level tertinggi sepakbolaselama lebih dari tiga dekade, adalah ketidaksungkanannya belajardan beradaptasi dengan taktik sepakbola modern. Dia pernah juara diera formasi 5-3-2, 3-5-2, 4-4-2, 4-3-1-2, sampai yang terkini4-3-3.

Meski menggunakan beragam formasi disertai pendekatan berbeda,Heynckes tak pernah meninggalkan sekalipun filosofinya yaknisepakbola disiplin. Sepakbola yang sederhana tapi sempurna, denganminimnya rasio kesalahan plus tingginya determinasi.

"Sepakbola saya sederhana. Saya ingin pemain saya disiplin diatas lapangan, dengan tak membuat kesalahan dari rencana awal.Terpenting dari itu semua pemain bisa menerjemahkannya lewatdeterminasi tinggi di sepanjang laga," tutur Heynckes, sepertidilansir Sky Sport Germany.

Berbicara Bayern, sejarah mengatakan jika Heynckes dan Bayernpunya relasi yang dalam. Kembalinya figur berusia 72 tahun tersebutke kursi pelatih musim ini bahkan jadi periode keempatnya di FCHollywood.

Sebelumnya Heynckes pernah memimpin Bayern pada 1987-1991, 2009,dan 2011-2013. Jadi jangan sanksikan pemahamannya soal kondisiinternal dan eksternal tim terbesar Jerman tersebut.

Presiden Bayern sekarang, Uli Hoeness, jadi sosok di balikrekatnya relasi klub dan Heynckes. Dialah orang pertama yangmengenalkan sang pelatih dengan Die Bayern pada 1987. Bersama-samadua sosok yang akhirnya jadi sahabat karib itu membawa Bayern kepuncak tertinggi dalam sejarah klub, lewat treble winners pada 2013lalu.

Jadi sejatinya bukanlah sebuah kejutan, jika Hoeness kembalimeminta pertolongan sahabatnya itu di tengah krisis yang Bayernhadapi saat ini. Alih-alih menunjuk Tuchel, yang dipandangmeragukan karena tak biasa mendapat tekanan melatih tim sebesar TheBavarian.

"Kami sudah mempertimbangkan berbagai opsi dengan sangat matang.Diskusi dalam yang saya lakukan dengan [Hasan] Salihamidzic danHoeness akhirnya menunjukkan sekali lagi, jika Heynckes adalahpilihan terbaik. Dia sempurna untuk Bayern saat ini dan hubungankami dengannya sangat-sangat baik," ujar CEO Bayern, Karl-HeinzRummenigge.

Namun menginjak ke ranah kontra pertanyaan lantas mengemuka,apakah "The Godfather" Heynckes masih bertangan dingin? Sempatmemutuskan pensiun pada musim panas 2013, lantas kembali setelahempat tahun lebih vakum dari tepi lapangan hijau bukan perkaraenteng.

Kecerdasan taktiknya besar kemungkinan tak lagi diasah selamamasa vakumnya. Dinamika sepakbola yang terjadi baik di Jermanmaupun Eropa tentu sudah berbeda. Apalagi komposisi, tekanan, dansituasi Bayern yang tak sekondusif 2013 lalu.

Heynckes dihadirkan bukan untuk sekadar menyelamatkan Bayerndari sederet hasil negatif. Bukan pula menyelamatkan Bayern untuktetap ada di empat besar Bundesliga atau melaju jauh di LigaChampions.

Eks nakhoda Real Madrid ini dihadirkan untuk menjaga peluangBayern menjuarai tiga kompetisi berbeda yang diikutinya musim ini,termasuk Liga Champions.

Terlalu berlebihan memang. Namun dengan ikatan kerjanya yangberlangsung hingga akhir musim nanti, secara tersirat Heynckesmemang dituntut untuk itu. Menjadi juara di setiap kompetisi,merupakan keniscayaan bagi Bayern.

#BREAKING: Jupp #Heynckes pastikan dirinya akansegera menjadi pelatih Bayern Munchen. . . . #bundesliga #fcb#fcbayern #instagoal

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on Oct 6,2017 at 7:12am PDT

Satu hal yang pasti dan krusial dalam keputusan Bayernmemperkerjakan kembali Heynckes adalah kebutuhan mereka memperbaikiatmosfer ruang ganti tim. Isu itulah yang sebelumnya disebut-sebutsebagai alasan utama pemecatan Ancelotti.

Hoeness sempat mengungkap terdapat lima pemain yang menentangkebijakan Ancelotti, sehingga ruang ganti Bayern tak lagi kondusif.Mereka menganggap Don Carlo terlalu lembek dan santai dalammemimpin sesi latihan.

Heynckes dengan kedisiplinan tingginya dipercaya bakal mengubahsuasana sesi latihan secara lebih radikal. Atmosfer itulah yangdiyakini lebih disukai oleh Thomas Muller cs.

"Heynckes punya sikap yang begitu lembut, seperti Santo. Namunketika sesi latihan dimulai, dia amat disiplin dan keras," ungkapasalah satu asistennya di Bayer Leverkusen dahulu, seperti dikutipBild.

Jadi apakah memang The Godfather masih bertangan dingin? Marikita nantikan dampak yang mampu diberikan Heynckes pada Bayernmusim ini.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon