Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

AS Monaco Jadi Pabrik Pemain Bintang, Leonardo Jardim Kuncinya

logo Tempo.co Tempo.co 29/07/2017 Tempo.co

AS Monaco kini menjadi pusat perhatian klub-klub besar Eropa yang tengah butuh pemain muda berbakat. Leonardi Jardim menjadi sosok kunci di balik kesuksesan klub Prancis itu.

Jardim seperti fondasi lapangan sepak bola Stade Louis II Fontvielle, Monaco, yang kokoh menyangga beban bangunan atas stadion serta beratnya 18.523 penonton dan 22 pemain yang terus bergerak di lapangan. Sebab, tepat di bawah lapangan, terdapat arena parkir luas di bawah tanah.

Pelatih asal Portugal berusia 42 tahun itu tidak terpengaruh oleh kehebohan yang sedang terjadi di klub asuhannya. Padahal, sejumlah klub lain sedang berusaha menarik para pemainnya untuk pindah.

Setelah membawa Monaco menjuarai Liga 1 Prancis untuk pertama kalinya dalam 17 tahun pada musim lalu dan menembus babak semifinal Liga Champions, para pemainnya, terutama yang muda, laris dilamar klub-klub terkemuka.

Pemain bek Benyamin Mendy, gelandang Bernardo Silva, dan Tiemoe Bakayoko sudah terbang ke Manchester City dan Chelsea. Kantung Monaco pun sudah menggelembung dengan uang hasil penjualan itu. Tapi, itu belum berakhir. Kylian Mbappe sedang diperebutkan Real Madrid dan City. Rabu lalu, giliran pemain sayap Thomas Lemar diincar Arsenal. Mereka rata-rata berusia di bawah 25 tahun.

Sebelum lima pemain tersebut menyita perhatian dalam bursa transfer pemain musim panas ini, pemain senior Monaco, Nabil Dirar, minta dijual ke Fernebahce dan Valere Germain dibeli Olympique de Marseille.

Wakil AS Monaco, Vadim Vasilyev, berusaha melindungi para bintang mudanya. Lemar dan Mbappe akan tetap berada di Stade Louis II musim panas ini, kata dia.

Namun Jardim bersikap sebaliknya dari bosnya asal Rusia itu. Ia tidak cemas timnya akan kehilangan kekuatan. Ia tetap tegak bagai Stade Louis II, yang sebagian besar fasilitasnya ada di bawah tanah dan lapangan di atas lahan parkir yang sering dikritik para manajer tim lawan mereka.

Tiga pemain sudah pergi; Dirar, Valere, dan Bernardo. Lainnya mengikuti dan bisa bertambah, kata Jardim.

Semua tahu proyek kami. Itu (perpindahan pemain) tidak mengubah apa pun. Kami akan terus melatih para pemain muda dan memoles kualitas permainan tim. Hanya satu hal yang berubah, yaitu kami akan melakukan start musim depan sebagai juara bertahan, Jardim menambahkan.

Datang ke AS Monaco empat tahun silam setelah menangani Sporting Clube de Portugal, Jardim sudah menjadi manajer pelatih tim senior sejak berusia 27.

Seperti rekan senegaranya, Jose Mouriho, dan André Villas-Boas, Jardim tidak bermain sepak bola di segala tingkat. Setelah belajar pendidikan fisik, ia melatih anak-anak, tim wanita, dan tim bola tangan.

Saya melatih tim usia di bawah 13 tahun pada usia 19 tahun. Selanjutnya, saya menjadi asisten manajer pada usia 21, sebelum mengambil jabatan manajer pertama saya di Camacha pada usia 27, kata Jardim dalam wawancara dengan majalah FourFour Two.

Saya tidak pernah berhenti berlatih. Hal itu memberikan saya sesuatu yang tidak banyak bisa dipahami orang: pengalaman 15 tahun. Dengar, pengalaman bukan pengetahuan. Pengalaman adalah pengalaman itu sendiri dan tidak lebih, tutur pria kelahiran Barcelona, Venezuela, Amerika Latin, itu.

Pengalaman membuat saya punya kemampuan untuk melakukan keputusan yang lebih baik dan meminimalkan kesalahan, ucap dia.

Pada usia 42, Jardim merupakan salah satu pelatih sepak bola paling menarik perhatian di Eropa saat ini. Ia sudah membawa Braga menduduki peringkat ketiga Liga Portugal 2011/2012 dan posisi kedua dengan skuad muda Sporting CP pada 2013/2014.

foto © Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Dikontrak Olympiacos pada 2012/2013, ia hengkang setelah menangani klub terkemuka di Liga Yunani itu selama enam bulan, tak terkalahkan, dan unggul 10 poin di puncak klasemen. Ia kemudian membangun kekuatan Monaco berbasiskan para pemain muda.

Saya tidak tahu jika akan menjadi seperti (Alex) Ferguson dari Monaco, kata Jardim dengan nada bercanda menanggapi kiprahnya yang terakhir di Liga Prancis. Ferguson adalah mantan manajer Manchester United yang begitu legendaris dan sudah menjadi ikon United.

Radamel Falcao, kapten Monaco sekarang dan pemain kawakan yang berhasil direvitalisasi Jardim, menyebut pelatihnya itu sangat pandai membaca setiap karakter pemain dan memahami apa yang mereka butuhkan.

Ia mengambil para pemain sangat muda yang masih minim pengalaman dan sabar serta cukup santai untuk mengajari mereka. Para pemain itulah yang memegang peranan musim lalu dan salah satu alasan mengapa kami bisa sukses di liga, kata Falcao, penyerang asal Kolombia.

Bakayoko, yang sudah menjalani debutnya tim nasional Prancis tahun ini, akan mengenang Jardim sebagai pelatih yang sangat bertanggung jawab terhadap profesinya. Ada saat ketika kami tidak sepakat. Tapi, sebagai pelatih, ia terus mengajari saya dan menolong untuk meraih pengetahuan yang banyak soal taktik.

Keterampilan mengolah bola dan kebebasan adalah basis dari pendekatan kepelatihan Jardim. Di bawah asuhannya, sekalipun pada sesi latihan kebugaran fisik, para pemain tetap harus melakukannya bersama bola. Semangat tim juga menjadi prioritasnya.

Saya selalu percaya latihan fisik, taktik, dan teknik harus dilakukan bersamaan. Anda tidak bisa melakukannya secara terpisah, kata Jardim. Ia yakin akan permainan sepak bola menyerang, dengan cara bermain terbuka, cepat, dan bertenaga. Tak peduli melawan Paris Saint-Germain, Tottenham, Manchester City, siapa pun. Itu DNA kami, cara kami bermain," katanya.

Jika Mbappe cs sudah pergi, Jardim akan mencari anak-anak muda lain dari mana pun untuk dipilih dan dilatih di AS Monaco. Ia percaya tak akan kekurangan bibit pemain unggul.

ESPN | SKY SPORTS | UEFA | PRASETYO

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon