Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Carlton Cole: Pelatih Tak Berkuasa, Umuh Muchtar Atur Segalanya

logo Goal.com Goal.com 17/11/2017

Cole kembali mengungkapkan kekecewaannya terhadap manajer Persib Bandung itu.

Perang argumentasi antara Carlton Cole dan manajer PersibBandung Umuh Muchtar tampaknya masih belum berakhir. Sebelumnya,Umuh sempat menuturkan bahwa Cole adalah salah satu faktorkegagalan Persib pada musim 2017. Musim ini, Persib mengukircatatan terburuk sepanjang mengikuti kompetisi lantaran menempatiperingkat ke-13 klasemen akhir Liga 1.

Saat didepak akhir putaran pertama, Cole pun sempat menyampaikanbahwa Umuh adalah orang yang tak ingin dirinya bermain di tim MaungBandung. Padahal, eks striker West Ham United itu mengatakan sangatsenang dengan antusiasme Bobotoh, suporter Persib, yang begituloyal dalam mendukung tim Maung Bandung.

Galeri Persib - Arema FC © 2017 Goal.com Galeri Persib - Arema FC

Teranyar, kepada koresponden Goal UK, Nizaar Kinsella, Colemengungkapkan betapa dominan figur Umuh di dalam skuat Persib.Bahkan hingga melampaui keputusan pelatih di area teknis.

"Persib memiliki pelatih yang bertugas melatih dan memilih timsetiap pekan, tapi ada sosok manager yang bertugas mengawasipemesanan hotel dan gaji pemain. Di Inggris, kita menyebutnya'player liaisons' atau pegawai penghubung, tapi di Indonesiadisebutnya manajer," bilang pemain 34 tahun ini.

"Orang ini bernama Umuh Muchtar dan dia mendominasi seluruh isitim. Dia tidak hadir saat latihan, tapi dia memilih tim yangbermain saat bertanding. Pelatih yang melatih tidak punya kuasa danmanajer lah yang mengatur segalanya."

"Kalau manajer tidak suka denganmu atau tiba-tiba memilih pemainlain, kamu takkan bermain. Dia benar-benar figur yang dominan.Orang ini punya relasi dengan polisi dan militer. Dia tipe yangmendominasi, kalau ada yang tidak disukai, dia akan melakukansesuatu supaya sesuai dengan apa yang diinginkan."

"Saya tidak akrab dengannya karena saya mencoba membimbing timuntuk memahami sepakbola dari sisi lain, dan bahkan Michael Essienmencoba melakukan hal yang sama, tapi dia tak paham kalau sepakbolamengenal meritokrasi."

Meritokrasi adalah bentuk pemerintahan atau administrasi yangmemilih pemimpin berdasarkan pencapaian atau kemampuan mereka.

"Secara tiba-tiba dia memutuskan tidak mau merekrut saya. Parapemilik klub merekrut saya, tapi mereka bermarkas di Jakarta. Kamimencoba menyelesaikannya, tapi pemilik klub bukan berasal dariBandung, sedangkan Umuh berasal dari Bandung dan dia mengendalikantim. Itulah awal mula kehancuran. Kami tak pernah menyelesaikanmasalah itu," lanjut Cole.

"Persib adalah tim terbesar di Indonesia, mereka sepertiManchester United, tapi penampilan mereka tidak terlalu baik. Inibukan karena saya, bahkan setelah saya hengkang mereka masihberkutat di papan tengah klasemen. Itulah kenapa saya agak kecewadengan cara saya pergi. Saya tak mau mengakhirinya seperti ini.Satu orang itu mengacaukan semuanya."

Bersama Persib, catatan striker berusia 34 tahun itu memangburuk. Dia hanya dimainkan dalam lima pertandingan dengan totalmenit bermain 268. Mantan striker Chelsea tersebut juga tak bisamencetak satu gol pun. Itu yang membuatnya semakin banyak disorotpendukung Persib, lantaran dirinya didatangkan dengan harapan bisamenambah keganasan lini depan tim asal Kota Kembang.

Cole juga bercerita tentang perjalanannya menemukan kesempatanbergabung dengan Persib.

"Saya bilang ke [agen] Godfrey Torto kalau saya menginginkanpengalaman yang berbeda setelah pergi ke Skotlandia dan AmerikaSerikat. Saya pergi ke AS untuk mengembalikan kebugaran karena sayacedera usai memperkuat Celtic, jadi saya ingin tahu apakah sayamasih bisa bermain di level yang baik. Setelah menjalani operasi,Godfrey mendorong saya ke AS," bilang eks pemain West Ham Unitedini.

"Dia bilang, cari kesempatan bertanding, bangun lagi kepercayaandiri, lalu kita cari kesempatan untuk pindah. Tidak terlaluberjalan seperti itu. Dia mengurus sesuatu di Indonesia untukEssien lalu dia bilang ke saya, mereka juga menginginkan saya disini. Itu kenapa saya pergi ke Indonesia."

"Gila. Godfrey dan saya terhenyak dengan dukungan suporter disana. Dia tidak tahu saya dikenal di sana. Gila rasanya, fanssangat lah fanatik. Saya dan Godfrey sampai kewalahan. Diadipuji-puji karena berhasil membawa 'pemain Chelsea', 'pemain WestHam', 'pemain Liga Primer Inggris'. Tidak hanya saya, mereka jugamenyukai Godfrey."

"Tapi itu tidak mudah. Di sana para pemain terbiasa dengan panasmatahari. Sebenarnya mereka pemain yang sangat baik dan punyakemampuan, tapi kekurangan sebagian edukasi tentang sepakbola.Seperti misalnya ke mana harus berlari, bagaimana berlari di antararuang, kapan berlari."

"Sejumlah aspek teknis, jika dibandingkan dengan Inggris tapimereka seimbang dalam hal kebugaran. Sejumlah pemain memilikiteknik yang baik, tapi kurang edukasi sepakbola. Di luar lapanganada banyak perbedaan, mereka harus meningkatkan kepelatihan, yangkualitasnya tidak begitu baik."

"Jakarta adalah kota yang penuh hiruk pikuk, tapi saya tinggaldi Bandung. Bukan ibukota negara, tapi padat penduduk dan macetnyagila. Dari Jakarta ke Bandung bisa menghabiskan tujuh jam, jadikebanyakan saya diam di Bandung. Makanannya enak meski saya tidakterbiasa. Saya tinggal di Hilton Hotel, jadi saya bisa memesan fishand chip atau burger. Tapi makanan lain enak karena saya punyateman asal Malaysia, jadi tidak masalah makan makanan lain disana."

"Ada sejumlah makanan yang akrab dengan saya. Ibu saya berasaldari Sierra Leone, jadi kami bisa menyantap nasi dan masyarakatIndonesia juga menyantap nasi. Tapi mungkin Essien lebih kewalahan.Dia punya rumah di sana, sebuah Harley Davidson, dan dia betahtinggal di sana. Saya pun betah di sana, tapi yang sulit dipahamiadalah budaya sepakbolanya."

Hingga saat ini, Cole masih belum mendapatkan klub baru.Kabarnya, Crystal Palace meminati jasa pemain yang pernah merumputbersama Aston Villa itu.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon