Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

CATATAN: Akhir Generasi Arjen Robben

logo Goal.com Goal.com 10/10/2017

Pengumuman pensiun Arjen Robben dari timnas Belanda menandai buruknya pencapaian Oranje pasca-Piala Dunia 2014.

Di dekat lingkaran tengah lapangan, Arjen Robben berdirisendirian. Dia mengambil waktu sejenak guna melihat kesekelilingnya. Ribuan penonton mengisi Stadion Johan Cruyff ArenA.Tak sampai penuh terisi. Tatapannya sekilas mengintip papan skor:"Belanda 2, Swedia 0". Namanya tertulis di bawahnya sebagaipencetak seluruh gol Belanda malam ini.

Lalu matanya menatap mengitari rekan-rekan setimnya satupersatu. Tidak ada lagi Wesley Sneijder, Robin van Persie, Rafaelvan der Vaart, Dirk Kuyt, atau Nigel de Jong. Dua anak laki-lakinyaberlari masuk lapangan, lamunannya pun tersentak. Pertandingan barusaja berakhir. Kenyataan pahit itu nyata sudah, Belanda gagal loloske Piala Dunia 2018.

Belanda terpuruk. Mereka membutuhkan kemenangan tujuh gol tanpabalas atas Swedia untuk memupuk asa tampil di Rusia, tapi hanya duagol yang tercipta. Satu melalui penalti panenka Robben, satu lagilewat tendangan keras terukur ke tiang jauh. Dua-duanya terjadi dibabak pertama.

"Inilah Belanda yang sebenarnya. Inilah penampilan yangseharusnya kita suguhkan kepada fans," ujar Robben membakarsemangat rekan-rekan setimnya di kamar ganti saat jeda.

Namun, tidak ada gol tambahan di babak kedua. Belanda menyamaiperolehan poin Swedia, tapi tak mampu merebut tiket play-off karenakalah selisih gol. Takkan ada warna jingga di Rusia tahundepan.

Ini kegagalan beruntun kedua setelah mereka gagal melangkah keputaran final Euro 2016. Penurunan yang drastis jika mengingat 39bulan yang lalu Oranje mampu membalikkan perkiraan dengan menembussemi-final Piala Dunia 2014. Dilatih Louis van Gaal, Belanda tidakterkalahkan sepanjang waktu normal pertandingan. Spanyol digilas5-1 dan tuan rumah Brasil dilibas 3-0. Prestasi itu kini hilangdalam bayang-bayang masa lalu.

Di bangku cadangan, Dick Advocaat mencoba berlapang dada.Periode ketiganya sebagai bondscoach berakhir pahit. Advocaat,pelatih 70 tahun yang meniti karier sebagai asisten Rinus Michels,adalah warisan masa lalu Belanda. Sama seperti dua pendahulunya,Guus Hiddink dan Danny Blind, Advocaat adalah simbol sejarah yangtidak bisa menjawab tantangan sepakbola era modern.

Skuat Belanda saat ini diyakini sebagai salah satu generasiterburuk yang pernah dimiliki. Tidak ada lagi penerus striker tajamseperti Van Persie, pengatur serangan seperti Sneijder, atau kiperseperti Edwin van der Sar. Robben adalah satu-satunya pemain kelasdunia yang dimiliki Advocaat, dan memiliki satu pemain dunia sajatidak cukup membawa Belanda melangkah dari kualifikasi PialaDunia.

Penulis Telegraph, Sam Wallace, pernah mengungkapkan pensiundininya Royston Drenthe tahun lalu sebagai representasi hilangnyasatu generasi pemain yang dimiliki Belanda sejak menjuaraiKejuaraan Eropa U-21 2007. Nyaris tidak ada pemain dari skuat Foppede Haan saat itu yang saat ini menjadi penggawa andalan Oranje.Ryan Babel baru dipanggil lagi memperkuat timnas setelah absenselama lima tahun!

"Kami dalam fase tidak memiliki para pemain top. Para pemain topyang ada beranjak tua dan para pemain muda terlalu hijau untukmengisi kekosongan. Kami punya banyak pemain berbakat, tapi merekabelum jadi," ujar Ronald de Boer membenarkan anggapan itu.

"Kalau saya melihat generasi pemain yang masih muda, saya pikirmereka luar biasa. Tapi kalau hanya bicara soal bakat, sifatnyanaik turun. Suatu waktu mencuat kemudian setelahnya menukik. Namun,mereka punya bakat besar dan mudah-mudahan mereka bersinar di usia25 tahun [saat Piala Dunia 2022 di Qatar]."

Selain itu, analis data sepakbola @11tegen11 mengeluhkan metodekepelatihan Belanda yang terlalu memuja serangan melalui sayap,jibunan operan guna mendominasi pertandingan, dan kurangnyapenggunaan data untuk menganalisis kekuatan/kelemahan lawan.

Bukan rahasia lagi jika KNVB mendapat cercaan dengan serangkaiankeputusan penunjukan pelatih yang gagal. Usai Brasil 2014, kursiVan Gaal diberikan kepada Guus Hiddink dengan alasan untukmengembalikan mazhab sepakbola Belanda. Padahal, Ronald Koemanberulang kali menyatakan ketertarikan melanjutkan tugas Van Gaal.Misi Hiddink gagal total di kualifikasi Euro 2016.

"Kami kehilangan identitas, yaitu bagus dalam organisasi danmemiliki gaya menyerang. Sekarang, kalau kami melakukannya, kamikebobolan banyak gol," terang eks manajer Tottenham Hotspur, MartinJol.

"Di Belanda filosofi kami adalah menjadi beda. Sekarang kamiingin seperti orang-orang lain, padahal mereka lebih besar danlebih baik daripada kami."

Kualitas kompetisi domestik juga tidak membantu. Para pemainmuda akademi Ajax Amsterdam dan Feyenoord Rotterdam berlomba-lombamenyambut iming-iming klub-klub top Eropa. Klub seperti Ajax danFeyenoord tak punya banyak pilihan, mereka kalah bersaing secarafinansial. Padahal, kepindahan di usia muda itu buruk bagiperkembangan si pemain.

"Saya kira masalahnya adalah banyak pemain muda Belanda pindahdalam usia yang masih muda ke liga-liga luar negeri," ujar DeBoer.

"Liga-liga besar juga mendatangkan pemain-pemain bagus, selainmerekrut pemain bintang. Hasilnya, pemain bagus tak lagi datang keEredivisie. Kami terpaksa menggunakan pemain yang ada, yang menurutsaya, tidak begitu bagus kualitasnya."

"Dengan tidak teruji di Belanda, seorang pemain harus menghadapipara pemain yang lebih baik di Chelsea, Arsenal, Manchester United,atau tempat-tempat lain."

"Kepindahan itu sebuah perjudian karena sepakbola sekarangadalah bisnis. Kalau pemain muda tidak berkembang, klub dengancepat membeli pemain jadi. Jadi, tidak mudah mendapatkankesempatan. Setidaknya di dalam negeri ada kesempatan itu."

Sepakbola Belanda berhenti berpikir. Sejak Michels dan JohanCruyff merumuskan pola pengembangan ala total football, merekaseperti malas berinovasi. Semua tim Eredivisie bermain denganformasi yang sama (4-3-3), tidak ada dorongan untuk mencoba sesuatuyang baru.

© 2017 Goal.com

Kemunculan pelatih inovatif seperti Peter Bosz (dan juga Erikten Hag) menyegarkan Eredivisie, tetapi sayangnya hanya bertahansemusim. Pendekatan gaya baru Bosz malah membuat gelisah kelompoksepakbola puritan di Ajax. Bosz akhirnya hengkang ke BorussiaDortmund dan hasil kepelatihannya tampak menjanjikan di awal musimini.

Sungguh ironis karena kemunculan total football akhir 1960-anberawal dari desakan untuk mengubah cara pandang sepakbola. Ironinomor dua adalah pengembangan total football justru menuai suksesdi luar Belanda, tepatnya di Barcelona dan kemudian menjadi salahsatu kunci sukses Spanyol menjadi juara dunia 2010.

Hingga kini KNVB dan orang-orang puritan seperti Advocaatmungkin masih sulit mencerna perubahan. Tapi, tidak buat Robben.Sang Manusia Kaca memutuskan pensiun dari Oranje setelahmengumpulkan 96 caps dan 37 gol.

"Malam ini terasa spesial dan ada perasaan masygul. Tapi, inibukan tentang saya. Saya sudah tahu lebih awal kalau pertandinganini bisa menjadi pertandingan terakhir saya, jadi rasanya sangatspesial," ujar pemain 33 tahun itu usai pertandingan kepadaNOS.

"Biasanya ada perpisahan yang indah. Saya berpeluang mencetakgol ketiga. Itu seperti menyamai Dirk Kuyt [yang pensiun setelahmencetak hat-trick pada laga pamungkasnya untuk Feyenoord]. Tapidia berhasil menjadi juara, jadi ini terasa sangat hambar."

"Kami semua punya mimpi dan saya harus memuji seluruh pemaindalam tim. Saya sudah berusia 33 tahun, saat Euro 2020 berlangsungusia saya 36 tahun. Entah kapan saya akan berhenti. Sekarang sayaingin berkonsentrasi untuk klub dan sekarang waktu yang tepat untukmenyerahkan tongkat estafet."

Saat yang tepat pula bagi Belanda dalam membuka cakrawalapemikiran baru untuk sepakbola mereka.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon