Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Catatan Dari Myanmar: Unik & Santunnya Negeri Tanah Emas

logo Goal.com Goal.com 15/09/2017

Sarung longyi, bedak thanaka, hingga Shwedagon jadi nuansa kental dalam perjalanan Goal Indonesia ke Myanmar, untuk meliput Timnas Indonesia U-19.

Mingalaba pembaca Goal Indonesia!

Tidak terasa sudah lebih dari sepekan atau tepatnya sepuluh hariGoal Indonesia berada di Yangon, Myanmar. Kali ini kami hadir untukmeliput perjuangan Timnas Indonesia U-19 di Piala AFF U-182017.

Tak heran jika sudah begitu banyak pengalaman yang kami dapatselama berada di kota yang dahulunya merupakan ibu kota Myanmarini. Mari kita memulainya dengan kebiasaan masyarakat setempatmenggunakan sarung longyi.

Ketika berkunjung ke Myanmar, kita akan dibuat heran ketikamayoritas warganya menggunakan sarung. Baik pria, wanita, tua,maupun muda. Sarung longyi yang dipakai kaum laki-laki disebut“paso”, sementara yang dipakai kaum perempuan disebut“htamain”.

Tim Goal indonesia meliput perjuangan Timnas U-19 di Myanmar. © 2017 Goal.com Tim Goal indonesia meliput perjuangan Timnas U-19 di Myanmar.

Ada sedikit perbedaan soal cara memakai sarung di Myanmar danIndonesia. Jika di Tanah Air kita cenderung menggunakannya dengancara digulung di bagian atas, masyarakat Myanmar lebih memilihuntuk mengikatnya.

Cara khas Myanmar membuat pemakaian sarung jadi terasa lebihkuat, meski tidak lebih cantik secara tampilan. Sehingga tak heranmereka cuek saja mengapitkan dompet hingga ponsel di bagianpinggang sarung, tanpa khawatir terjatuh.

Selain itu ada satu lagi alasan mengapa masyarakat Myanmarbegitu suka mengenakan sarung longyi dalam menjalankanaktivitasnya. "Sederhana saja, kami merasa lebih 'adem' jikamenggunakan sarung longyi," ujar salah satu supir taksi setempatyang kami temui, Khin Zaw.

Selain sarung longyi, tidak bisa tidak, kita lantas dibuatbertanya-tanya dengan kebiasaan masyarakat Myanmar menggunakanbedak lewat tampilan mencolok.

Tampilannya mirip dengan wajah kebanyakan anak kecil diIndonesia sehabis mandi, dengan bedak tebalnya yang tidakmerata.

Bedak khas Myanmar itu memiliki nama Thanaka. Bedak ini dibuatdari pasta hasil gerusan batang pohon khas Myanmar. Kebiasaan inisudah berlangsung ribuan tahun lamanya dan jadi budaya mencolok disana.

"Bedak itu kami gunakan sebagai pelindung dari teriknya sinarmatahari. Selain itu khasiatnya juga bisa menghaluskan kulitwajah," ungkap warga setempat, Kyaw Min Oo.

Selanjutnya tim Goal Indonesia juga menyempatkan diri ke simbolMyanmar, Shwedagon. Tidak afdol rasanya bila Anda ke Negeri TanahEmas, tapi tak berkunjung ke tempat ibadah Budha yang megah nanindah tersebut.

Shwedagon yang juga dikenal dengan julukan Pagoda Emas, adalahsebuah stupa atau pagoda setinggi 98 meter (321,5 kaki) yangberlapis emas dan terletak di tengah kota Yangon. Bangunannya yangbegitu luas dan tinggi, mendominasi pemandangan kota yang dahulubernama Dagon tersebut.

Tim Goal Indonesia pun dibuat takjub ketika berkunjung ke sanasekaligus menderita. Takjub dengan kemegahan Shwedagon, tapimenderita karena berkunjung di waktu yang salah. Kami masuk ketempat terbuka tersebut pada pukul 13 siang, ketika matahari sedangtingi-tingginya.

Pemandangannya memang tampak begitu cerah dan indah, tapi kulitkami terbakar oleh suhu yang mencapai 36 derajat celcius.Belakangan kami menyimpulkan akan lebih menarik dan nikmatberwisata ke Shwedagon di kala senja.

Jika harus menyebut hal yang kurang mengenakkan dari Myanmar,jawabannya tentulah cuaca. Sejatinya iklim di Myanmar tidak jauhbeda dengan Indonesia. Namun karena letak lintangnya, Myanmar jadimemiliki tiga iklim yakni tropis, subtropis, dan angin musim.

Myanmar memiliki tiga musim, yakni musim hujan, yang terjadipada Mei hingga Oktober, musim kemarau sejuk terjadi pada Novemberhingga Februari, dan musim kemarau panas pada Maret hingga April.Dari situ bisa ditebak bahwa tim Goal Indonesia dan Timnas U-19datang di musim hujan.

Tampak lebih baik memang jika dibandikan dengan musim kemaraupanas. Namun musim hujan di Myanmar tergolong ekstrem, karenaselalu diawali dengan cuaca yang superpanas hingga 36 derajatcelcius sebelum mendadak berubah jadi dingin dan diguyur hujan.

Tidak heran bila kemudian banyak pemain Timnas U-19 bertumbanganakibat demam dan flu, seperti Feby Eka Putra dan Nurhidayat HajiHaris. Jurnalis dari Indonesia pun banyak yang didera penyakitserupa. Dokter Garuda Nusantara, Ifran Akhmad, jadi dibuat repotkarenanya.

"Cuaca di sini sulit ditebak. Kadang bisa panas sekali, tapitiba-tiba dingin dan hujan. Bisa dibilang ekstrem. Jadi tidak heranbila banyak yang sakit, termasuk pemain kami," tutur Ifran padaGoal Indonesia.

Cuaca yang ekstrem ini juga membuat kondisi rumput di ThuwunnaStadium dan Bogyoke Aung San Stadium yang jadi venue turnamen jadibegitu buruk. Anda mungkin bisa melihatnya dengan jelas melaluilayar televisi.

Untungnya situasi itu tak diperparah dengan pelayanan panitiaturnamen, yang tergolong mengorganisasikan segalanya dengan baik.Tidak ada kasus memalukan seperti pengamanan yang buruk, lampustadion yang mati, atau bahkan bendera terbalik. Mereka jugamelayani jurnalis dengan sangat layak.

Segalanya semakin nyaman dengan sikap masyarakat Myanmar yangsantun. Mengetahui status kami sebagai warga Indonesia, merekabersikap sewajarnya saja apalagi menyinggung isu diskrimnasiagama.

Lebih dari itu semua, akan terasa luar biasa ketika pulang nantitim Goal Indonesia bisa mengangkat headline: "Timnas Indonesia U-19Jadi Raja di Negeri Tanah Emas!"

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon