Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Derita & Perjuangan Warnai Awal Karier Cristiano Ronaldo

logo Goal.com Goal.com 04/10/2017

Cristiano Ronaldo mencceritakan kisah sedihnya kala menjalani awal karier di sepakbola, tepatnya ketika masih berada di akademi Sporting CP.

Sejak belia, Ronaldo sebenarnya punya keyakinan besar pada talentanya yang bisa menghadirkan kesuksesan di sepakbola. Namun dirinya merasa frustrasi dengan opini-opini negatif para pelatih tentang postur tubuhnya.

Keputusan untuk meninggalkan kampung halamannya di Madeira guna bergabung dengan akademi Sporting di usia yang baru 11 tahun membuat Ronaldo harus menghadapi derita dan menempuh perjuangan berat.

Dan sang pemain yang kini berusia 32 tahun serta punya koleksi lima trofi Ballon d'Or tersebut mengungkapkan bagaimana tekad besarnya guna meningkatkan ketahanan tubuhnya bermula.

"Saya hampir setiap hari menangis," kenang Ronaldo dalam laman The Players' Tribune.

© 2017 Goal.com

"Saya masih berada di Portugal, tapi sudah seperti pindah ke negara lain. Aksen yang ada [di Lisbon] membuat saya merasa menghadapi bahasa yang berbeda. Budaya pun demikian. Saya tak tahu siapa-siapa dan benar-benar kesepian. Keluarga hanya bisa mengunjungi saya setiap empat bulan sekali. Jadi saya sangat merindukan mereka dan setiap hari terasa menyakitkan."

"Sepakbola membuat saya terus bertumbuh. Saya tahu saya bisa melakukan hal di atas lapangan yang tak bisa dilakukan para pemain lainnya di akademi. Saya mengingat pertama kali saya mendengar celoteh seorang pemain akademi ke yang lainnya, 'Kalian lihat apa yang dilakukan anak ini? Anak ini luar biasa'."

"Saya mulai sering mendengar kata-kata itu. Bahkan dari para pelatih. Namun kemudian seorang datang dan selalu berkata, 'Ya memang, tapi memalukan karena ia terlalu kecil'," lanjut Ronaldo.

"Dan itu benar, saya memang kurus pada waktu itu. Saya tak punya otot [besar]. Jadi saya membuat keputusan pada usia 11 tahun. Saya tahu punya banyak talenta di sepakbola, tapi saya putuskan untuk bekerja lebih keras ketimbang yang lainnya. Saya berhenti bermain, beraksi seperti bocah. Saya berlatih seperti saya sudah yakin menjadi pemain terbaik di dunia."

"Saya tak tahu darimana perasaan itu datang. Hanya ada dari dalam diri sendiri. Itu seperti rasa lapar yang tak pernah pergi. Ketika Anda kalah, maka ibarat kelaparan. Ketika menang, tetap lapar, seperti hanya memakan sedikit remah-remah. Hanya ituk ata-kata yang bisa menggambarkan situasi saya."

"Saya mulai menyelinap keluar asrama di malam hari untuk berlatih. Saya menjadi lebih besar dan lebih cepat. Dan kemudian ketika berjalan memasuki lapangan, dan orang yang pernah berkata 'Ya, tapi ia sangat kurus?' sekarang mereka melihat saya seperti kiamat."

"Ketika saya berusia 15 tahun, saya berpaling kepada beberapa dari rekan-rekan saat latihan. Saya ingat betul pernah berkata pada mereka, 'Saya akan menjadi yang terbaik di dunia suatu hari nanti'.Mereka tertawa. Saya bahkan waktu itu belum menembus skuat utama Sporting, tapi punya keyakinan. Saya bersungguh-sungguh."

Selepas meninggalkan Sporting pada 2003 lalu, Ronaldo mencatatkan kesuksesan luar biasa bersama Manchester United yang dibawanya memenangkan tiga gelar Liga Primer Inggris sebelum hijrah ke Real Madrid pada 2009 dan lantas mencicipi dua gelar La Liga Spanyol dan tiga trofi Liga Champions. 

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon