Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Di Balik Runtuhnya Karier Gemerlap Adriano Leite

logo Goal.com Goal.com 10/08/2017

Striker Brasil ini sempat diramalkan bakal mengguncang dunia sepakbola, tapi depresi atas kematian sang ayah menariknya jatuh ke jurang kehancuran.

Mantan striker Brasil, InterMilan, dan Parma, Adriano Leite, merupakan salah satu enigmaterbesar dalam sepakbola abad ke-21.

Tangguh, sangat berbakat, dan mematikan di depan gawang, iatampil sebagai sosok yang punya segala atribut untuk mewarisitakhta Ronaldo sebagai striker terbaik Brasil di peralihanmillennium.

Namun etos kerja payah dan skandal luar lapangan tanpa hentimemastikan sang striker gagal meraih potensinya.

Apa yang salah dengan Adriano? Apa yang terjadi pada pria yangdiprediksi bakal menguasai dunia sepakbola, namun kehilangansegalanya?

Kelahiran Rio de Janeiro itu sudah dipromosikan untuk Berjayasejak awal. Di usia muda 17 tahun, ia sudah menembus skuat utamaFlamengo. Di usia 19 tahun, ia pindah ke Inter dengan nilaitransfer €13 juta.

Dengan minimnya peluang bermain di San Siro, pemuda Brasil itudipinjamkan ke Parma, di mana ia mencetak 26 gol dalam 44 laga,sehingga mendapat kesempatan untuk pulang ke Nerazzurri.

Dalam waktu dekat, ia sudah menjadi bintang untuk negaranya,meraih sepatu emas dalam perjalanan sukses Brasi lmeraih CopaAmerica 2004.

Namun setelah tampil gemilang bersama klub dan negara, adakekhawatiran tentang gaya hidup borosnya.

SIMAK JUGA - Spalletti: Dalbert Harus Banyak Belajar

2006, ia kedapatan berpesta di klub malam dua kali dan dicoretoleh pelatih Selecao saat itu, Dunga, sebagai peringatan untukberbenah.

“Ia adalah seorang juara, tapi ia harus menemukan kembalimotivasinya, semangat yang tepat, dan focus,” ungkapnya. “Inter ituseperti tim nasional; ada 18 juara di dalam skuat. Setiap hari,Adriano harus berjuang untuk mempertahankan tempatnya.”

Tak perlu terkejut, peringatan itu berlalu begitu saja. Walauterus mencetak banyak gol bersama Inter yang meraih empat Scudettoberuntun antara 2006 dan 2009, sang striker makin kehilangandayanya seiring waktu bergulir.

Akhirnya, kesabaran klub habis, setelah masa pinjaman ke SaoPaulo gagal membangkitkannya. Sang striker akhirnya kembali ke klubkesayangannya, Flamengo, membantu mereka meraih gelar Serie ABrasil, namun kembali ke Serie A bersama Roma justru jadimusibah.

Di ibu kota Italia, dan deretan klub Brasil lainnya, Adriano taklebih dari pemain mahal yang memalukan. Paceklik gol dimulai dan ialebih sering berada di ruang perawatan atau, lebih seringnya,berjalan-jalan di klub malam ketimbang unjuk gigi di lapangan.

Terakhir kalinya ia mencatatkan lebih dari 10 laga dalam semusimadalah musim 2009; hingga 2016, setelah kembali bermain bersamaklub Amerika Serikat Miami United, ia mundur dari permainanini.

SIMAK JUGA - Gabigol Dipinjamkan ke Sporting?

Pada pertengahan tahun lalu, sang striker Brasil pindah ke VilaCruzeiro. Pemukiman tersebut merupakan salah satu kota kumuh yangterkenal, dan kedatangan salah satu penduduk terkenal.

Dihancurkan oleh alcohol dan obat-obatan, seiring kariersepakbolanya usai, Adriano tinggal di sana, menggembung dankehilangan kebugarannya.

Sang penyerang diduga terpaksa membayar geng berbahaya ComandoVermelho (Red Command) untuk mendapat perlindungan di areatersebut.

Karenanya tidak mengejutkan, pada 2010, sebuah foto mengungkapAdriano sedang membawa AK47 – senjata api otomatis – dan memamerkantanda geng tersebut.

Tentu saja, itu merupakan pemandangan yang menyedihkan, terutamabagi mereka yang berusaha menolongnya.

Adapun Javier Zanetti, legenda Inter dan Argentina yang bermainbersama Adriano di San Siro, yakin salah satu panggilan tragislewat telepon telah membuat sang pemain yang disebut Ronaldo baruitu jatuh ke jurang kehancuran.

“Adriano memiliki seorang ayah yang memerhatikannya dan menjagadirinya tetap di jalur yang benar. Namun pada awal musim 2004/05,satu hal yang tak terbayangkan terjadi. Ia mendapat panggilan dariBrasil dan diberitahu bahwa ayahnya meninggal.”

“Saya melihatnya menangis. Ia membanting teleponnya danberteriak hal itu tak mungkin terjadi. Sejak saat itu, [Massimo]Moratti dan saya memutuskan untuk membimbingnya seperti adiksendiri dan melindunginya. Ia terus bermain mencetak gol, danmendedikasikan gol untuk ayahnya. Namun setelah telepon itu, ia taklagi sama.”

ADRIANO INTERNAZIONALE 12/12/2005 © 2017 Goal.com ADRIANO INTERNAZIONALE 12/12/2005

“Kami ingin mengatakan bahwa ia adalah gabungan Ronaldo dan[Zlatan] Ibrahimovic dan ia bisa jadi lebih baik dari keduanya.Namun terlepas dari segalanya, kami tak mampu melakukannya. Kamitak bisa menyembuhkan depresinya dan itu masih menghantuisaya.”

Adriano menyampaikan hal yang sama lewat R7. “Hanya saya yangtahu seberapa besar penderitaan saya. Kematian ayah sayameninggalkan lubang besar. Saya merasa kesepian dan mengisolasidiri ketika ia tiada. Saya sangat sedih dan depresi di Italia, dansaat itulah saya mulai menenggak minuman keras.”

“Saya hanya merasa senang saat minum, saya menenggak segala yangada di depan saya; wine, whisky, vodka…saya tak tahu bagaimanamenyembunyikannya. Saya biasa berangkat latihan dalam keadaan telerdi pagi hari.”

Mungkinkah ada akhir bahagia untuk kisah Adriano? Sepertinyatidak.

Musim panas ini, presiden Flamengo Eduardo Bandeira de Mellomemanggil sang bintang dan menawarkan masa bakti ketiga di klubtersebut, tapi mendapat penolakan.

“Di Piala Dunia 2018, ia akan berusia 36 tahun dan ia masihlebih baik dari semua orang. Plus, Flamengo butuh seorang idola.Namun ia tidak menerimanya,” ungkap sang presiden pada FoxSports.

“Sungguh disayangkan, kepergian ayahnya menjadi momen ketikaAdriano patah hati dengan sepakbola; sekarang, tampaknya ia sudahmengabaikan olahraga itu sepenuhnya.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon