Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

EKSKLUSIF - Indra Sjafri: Merasa Belum Pantas Jadi Pelatih Timnas Senior

logo Goal.com Goal.com 01/11/2017

Indra mengungkapkan punya strategi khusus sebelum nantinya bakal menerima jika ditawari melatih timnas senior.

Indra Sjafri - Indonesia © 2017 Goal.com Indra Sjafri - Indonesia


Perjalanan Indra Sjafri sebagai pelatih memang diketahui lebihbanyak berurusan dengan usia muda. Mulai menangani timnas IndonesiaU-16, U-18, hingga saat ini menukangi Indonesia U-19.

Memang, pelatih berusia 54 tahun itu sempat mengenyam pengalamanmelatih klub profesional Bali United. Di klub tersebut, Indramencoba membangun fondasi klub dengan banyak merekrut pemain mudapotensial. Ini adalah salah satu upayanya dalam meregenerasipemain.

Namun hasilnya memang tak langsung dinikmati saat Indra masihmelatih. Bahkan, pelatih asal Sumatera Barat itu sempat mendapatkankecaman dari suporter Bali United lantaran dinilai tak mampumengangkat prestasi tim Serdadu Tridatu sejak menukanginya pada2014 lalu.

Tapi, buah dari proses yang dibangun Indra kini bisa dinikmatipelatih saat ini. Di mana para pemain muda yang ada saat ini sudahjauh lebih matang dalam bermain. Sebut saja Ricky Fajrin, MiftahulHamdi, serta Yabes Roni Malaifani. Belum lagi, para pemain senioryang ada juga semakin menambah solid kekuatan Bali United.

Sempat terlintas sebuah pertanyaan, kenapa Indra tak melatihtimnas Indonesia senior? Dia pun sempat menjadi kandidat untuk itu.Tapi dia justru lebih memilih untuk melatih timnas Indonesia U-19yang pernah dibawanya menjadi juara Piala AFF U-19 2013.

Mantan pemain PSP Padang itu pun memiliki alasan tersendiri soaldirinya yang belum mau melatih timnas senior. "Kenapa saya enggakmau melatih timnas senior dulu? Karena saya tahu diri. Artinyauntuk membangun tim itu enggak gampang, perlu orang yang satu visidengan saya," kata Indra, kepada Goal Indonesia.

"Makanya, saya punya strategi khusus. Saya bangun dulu satuhingga dua generasi. Misalnya, timnas U-19 era Evan Dimas dankawan-kawan, dan timnas U-19 yang saat ini. Ketika mereka sudahberkiprah dan menjadi tulang punggung di klub-klub seluruhIndonesia, baru kalau diserahkan tanggung jawab timnas senior itubaru masuk akal, jadi bukan karena aji mumpung," jelasnya.

Menurutnya, bila sudah seperti itu, akan lebih memudahkannyadalam membangun sebuah tim yang solid. Mengingat, para pemain yangdipanggil tentunya tak akan jauh dari eks para pemainnya di timnasIndonesia U-19.

"Maka itu, sekarang saya ingin bangun timnas U-19 yang inikualitasnya lebih baik dari era Evan Dimas dan kawan-kawan,"tuturnya.

Lebih lanjut, Indra mengakui memang dirinya sangat berhasratuntuk membawa timnas Indonesia ke Piala Dunia. Itu ingin dimulainyabersama timnas Indonesia U-19.

"Secara pribadi memang jadi niat saya banget (untuk membawatimnas lolos ke Piala Dunia). Karena untuk kinerja pribadi saya,itu bukan pertanggungjawaban saya ke PSSI saja. Saya kan ingin jugasebagai anak bangsa membuat sejarah, dan itu menjadi tanggung jawabpribadi saya," tegasnya.

Namun dia menyadari, target itu tak akan mungkin bisa dicapainyajika tak didukung oleh seluruh elemen. Mulai dari pemain, timpelatih, pemerintah, PSSI, hingga masyarakatIndonesia.(Bersambung)

Keterangan: Pada artikel selanjutnya, Indra bakal menceritakanperbedaan penanganan antara Evan Dimas dan Egy Maulana Vikri dalammemilih klub luar negeri. Simak terus eksklusif Indra Sjafribersama Goal Indonesia!

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon