Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

EKSKLUSIF - Indra Sjafri: Solusi Pembinaan Usia Muda Di Tengah Kelebihan & Kekurangan

logo Goal.com Goal.com 28/10/2017

Indra memaparkan ide-idenya terkait sistem pembinaan usia muda yang bisa diterapkan di tengah luasnya geografis Indonesia.


Indra Sjafri - Indonesia © 2017 Goal.com Indra Sjafri - Indonesia

Metode blusukan untuk mencari pemain berbakat mulai mencuat,saat pelatih tim nasional (timnas) Indonesia U-19 Indra Sjafrimelakukannya ketika pembentukan timnas Indonesia U-19 yangdipersiapkannya untuk mengikuti Piala AFF U-19 2013 lalu. Ketikaitu, Indra yang bahkan rela dengan biaya sendiri mencari pemainpotensial hingga ke pelosok daerah.

Ketika pelatih asal Sumatera Barat itu berhasil membawa timtersebut menjadi juara Piala AFF U-19 2013, seluruh pencintasepakbola Indonesia pun mengapresiasi apa yang dilakukan Indra.Tapi, apakah metode blusukan itu ideal diterapkan di Indonesia yanggeografisnya sangat luas?

Indra dengan tegas mengatakan hal seperti itu semestinya sudahtidak dilakukan lagi, jika melihat anggota federasi yang ada mulaidari Asosiasi Kabupaten/Kota (Askab/Askot), Asosiasi Provinsi(Asprov), hingga klub-klub yang berstatus amatir maupunprofesional. Ditambah lagi, Pemerintah melalui Kementerian Pemudadan Olahraga (Kemenpora) juga memiliki diklat atau yang biasadisebut Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).

Potensi itu yang sebenarnya harus dimaksimalkan oleh PSSI danbersinergi dengan Pemerintah, guna memperkuat sistem pembinaanpemain usia dini di Indonesia.

Indra mencontohkan, sistem itu bisa dibangun dengan menggelarkompetisi mulai dari tingkat Askab/Askot untuk babak kualifikasi(bukan format turnamen), berlanjut ke Asprov, dan di tahunberikutnya yang menjadi juara di tingkat Asprov dipertemukan padatingkat nasional. Sehingga proses yang dilalui oleh si pemain cukuppanjang dan membuatnya lebih terasah dalam hal kemampuan dan mentalbertanding.

"Makanya, tugas pokok PSSI saat ini sebenarnya adalahmemperbaiki jaringannya, mulai dari Askab sampai Asprov. Kalauenggak diperbaiki, ya enggak bakal jalan sistemnya (pembinaan usiadini)," ucap Indra, saat berbincang dengan Goal Indonesia diJakarta, Rabu (25/10) lalu.

"Yang paling penting, bagaimana mengumpulkan para pemain jangandari blusukan lagi, tapi dari kompetisi yang teratur. Jadi gak adalagi dalam satu waktu, ketika seleksi timnas, Asprov mengumpulkanpemain ramai-ramai untuk seleksi. Itu tingkat kesalahannya tinggibanget loh. Kalau dari hasil kompetisi, dan dibentuk timscoutingnya di kompetisi itu, kemudian hasilnya didata, itu akanlebih bagus," jelas eks pelatih Bali United itu.

Menurutnya, semua kompetisi yang ada di Indonesia harus beradadi bawah kontrol PSSI selaku induk sepakbola tertinggi di TanahAir. Memang, eks pemain PSP Padang ini pun menyadari, seluruh Askabmaupun Asprov PSSI memiliki kendala terkait finansial untuk memutarkompetisi.

Maka itu, PSSI Pusat berperan penting di sini untuk mengedukasipara anggotanya tersebut guna mengatasi masalah itu. "PSSI harusmensupervisi pelaku-pelaku sepakbola bagaimana cari duit di situ,sehingga bukan dari sisi teknisnya saja. Mungkin ada dana subsidiuntuk Askab dan Asprov, kalau tak ada dana bisa berkolaborasidengan pemerintah soal infrastruktur. Atau seperti janji PakPresiden Joko Widodo bolehkan lagi APBD untuk pembinaan,"tuturnya.

"Bisa juga dengan menggandeng swasta yang sudah berjalanmenggelar kompetisi, diakui saja jadi kompetisinya PSSI, kemudiandicarikan sumber dana baru. Jangan sampai juga swasta-swasta ituingin menggelar sebuah kompetisi, festival, atau turnamen,dipersulit oleh PSSI maupun anggotanya. Misal, dalam hal penyediaanwasit. Karena PSSI itu pelayan sepakbola. Jadi semua kegiatansepakbola itu harus dilayani, jangan dipersulit," papar pelatihberusia 54 tahun itu.

Lebih lanjut, Indra juga memberikan sebuah solusi lain, jikapara Askab maupun Asprov masih sulit untuk menggerakkan kompetisidalam waktu dekat, lantaran memang membutuhkan waktu terkaitpersiapan sumber daya manusia maupun dana. Adalah denganmemaksimalkan diklat-diklat yang ada di Indonesia, yang tentunyaharus bersinergi dengan Kemenpora.

"Siapa yang tidak kenal jebolan pemain diklat ketika era WielCoerver? Tapi sekarang kan paling hanya dari Diklat Ragunan saja,"ujarnya.

"Sebenarnya, timnas ini bisa dijadikan 13. Oke kalau tidak 13timnas, mungkin bisa dibuat satu tim dipusatkan di Padang untukwilayah Sumatera, kemudian di Jawa karena banyak pemain, mungkinbisa dibuat tiga tim. Lalu Kalimantan dibuat satu, Sulawesi satu,Ternate satu, serta Papua satu. Kompetisinya mereka bisa ikut Liga,kan tidak ada yang melarang. Itu kalau memang ide saya yang soalkompetisi dimulai dari Askab belum bisa," tambahnya.

Di samping itu, faktor lainnya yang bisa mendukung dalam prosespembinaan ini adalah adanya pelatih yang berkualitas dan berlisensisesuai standar AFC. Itu supaya, para pemain muda tersebutmendapatkan program pelatihan yang benar.

"Kepengurusan sekarang sudah benar dengan menggelar banyakkursus untuk mencetak pelatih maupun instruktur. Tapi memang,hasilnya enggak akan langsung terlihat saat ini. Nah, itu yangharus dibutuhkan kesabaran dari kita bersama," pungkasnya.(Bersambung)

Keterangan: Pada artikel selanjutnya, Indra bakal berbicaratentang bagaimana cara dirinya membangun citra para penggawa timnasU-19. Simak terus eksklusif Indra Sjafri bersama GoalIndonesia!

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon