Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Grazie Andrea Pirlo! Seniman Sejati Sepakbola

logo Goal.com Goal.com 08/11/2017

Seniman sepakbola itu akhirnya undur diri dari pentas profesional, setelah 22 tahun menyihir dunia dengan pesonanya di atas lapangan hijau.

"Penso Quindi Gioco" jadi judul pilihan Andrea Pirlo untuk buku autobiografinya yangterbit beberapa tahun lalu. Artinya adalah "Saya Berpikir Maka SayaBermain", terinspirasi dari ungkapan populer filsuf legendaris,Rene Descartes; "Cogito Ergo Sum" atau yang berarti "Saya BerpikirMaka Saya Ada".

Descartes menganggap bahwa satu-satunya hal yang pasti di duniaini adalah keberadaan seseorang itu sendiri. Keberadaan ini dapatdibuktikan seturut fakta bahwa orang tersebut bisa berpikir. Pirlo?Orang-orang mengakui keberadaannya bahkan menghormatinya atas apayang sudah dia lakukan di atas lapangan hijau.

Sepanjang 22 tahun karier profesionalnya sebagai pesepakbola,Pirlo dikenal sebagai sosok yang lebih menggunakan otak dibandingfisik. Dia mampu mengintegrasikan otak dengan kakinya sehinggahal-hal luar biasa seperti mudah terjadi. Sosok 38 tahun ini butuhberpikir untuk bermain, dialah seniman sejati sepakbola.

Berbicara skiill, Pirlo yang berposisi sebagi gelandang adalahpemain yang lamban, kurang akurat dalam melepas tekel, bukan pemainyang unggul di udara, dan tidak vokal. Anda bisa menyebutkan segalaatribut berbau fisik yang wajib dimiliki gelandang masa kini danbisa dipastikan tak ada dalam diri Pirlo.

Pirlo berbeda, dia unik, dia jauh lebih spesial. Pemain asalBrescia ini handal dalam melepas umpan, dribel melewati lawan, danmengeksekusi bola mati. Atribut terbaiknya adalah kecerdasannyadalam mengatur tempo pertandingan. Kita seperti dihadapkan padasebuah lukisan indah, ketika melihatnya bermain.

Pirlo layaknya konduktor dalam sebuah orkestra dengan strukturyang terbalik, di mana tongkat konduktor berada di kakinya bukan ditangannya. "Pirlo adalah silent leader. Dia tidak banyak bicara,tapi sanggup mengontrol lamban dan cepatnya tempo pertandinganhanya dengan kakinya," begitu gambaran Marcello Lippi, mantanpelatihnya di Timnas Italia.

Melihat atributnya, posisi trequartista atau playmaker adalahyang terbaik untuk Pirlo dan peran itulah yang dilakoninya padaperiode awal kariernya. Ketika trequartista tak lagi dibutuhkandalam sepakbola modern, l'architetto lantas memiliki posisi sendiriyang menegaskan identitasnya.

Adalah regista atau lebih populer dengan sebutan deep-lyingplaymaker, yang dalam satu waktu hanya sanggup diperankan olehPirlo. Posisi jangkar, yang tidak bertugas memfilter seranganlawan, melainkan mengatur tempo perandingan sekaligus jadi dasarstruktur serangan. Mantan pelatih Pirlo di Brescia, Carlo Mazzone,membacanya dan diterapkan dengan sangat baik oleh Carlo Ancelottidi AC Milan.

"Jika seorang regista bisa sebaik Pirlo, menurut saya kemampuanrekan setimnya jadi tidak terlalu penting," ungkap Mazzone dalamsebuah wawancara dengan La Gazzetta dello Sport.

"Penso Quindi Gioco" menjadi benar-benar terpresentasikan,karena ketika membedah sosok Pirlo di luar lapangan, dia sangatbahkan mungkin terlampau sederhana. Pirlo bukan sosok yang "wah"ketika tidak bermain. Mayoritas kesehariannya hanya dilalui dengantidur dan bermain PlayStation. "PlayStation adalah penemuan terbaiksetelah roda," ungkapnya serius, dalam satu waktu.

Di waktu senggang Pirlo senang berkeliling mengitari lingkunganrumahnya, dengan berjalan kaki atau bersepeda. "Intensitas sayamengelilingi lingkungan rumah meningkat sejak tinggal di New York.Mungkin karena saya baru sekali ini tinggal di luar Italia,"tuturnya, seperti dikutip La Stampa.

Pirlo juga tak punya ritual khusus jelang hajatan akbarsepakbola, layaknya Johan Cruyff dengan permen karetnya atau FabioCannavaro yang membutuhkan seks. "Saya tak pernah merasakan tekanan... saya tidak mau sedikitpun merasakannya. Saya menghabiskan sorepada Minggu 9 Juli 2006 di Berlin dengan tidur dan bermainPlayStation. Di malam hari, saya keluar dan memenangkan PialaDunia," begitu kutipan terkenal dalam buku autobiografinya.

Momen "Eureka" Pirlo bahkan datang pada waku yang nyaris semuaorang mengalaminya. Benar, di toilet, di pagi hari selepas banguntidur saat kita ingin membuang segala dosa yang dilakukan pada harisebelumnya. Dari hasil perenungannya itu, banyak hal luar biasakemudian hadir dari kakinya.

Jika memang harus mengulik sisi paling menjual dalam pribadiPirlo, dia merupakan sosok yang lucu baik dari sikap maupunperkataannya. Jauh dari wajah datarnya, yang tampak tak menjanjikanuntuk membuat orang di sekitarnya tertawa.

"Pirlo adalah big son of a … dengan segala hormat pada ibunya.Dia bisa mengusili saya sampai berbulan-bulan, dia sosok yangsangat lucu. Saya memukulnya lebih sering dari yang Bud Spencerlakukan pada Terrence Hill!" kenang sahabat sekaligus eks rekansetimnya di AC Milan, Gennaro Gattuso.

Brescia, Inter Milan, Reggina, AC Milan, Juventus, dan New York City FC, menjadi deretanklub yang beruntung pernah merasakan servis istimewa Pirlo. Upsmungkin tidak untuk Inter, yang ironisnya merupakan klub idolaPirlo.

"Sungguh disayangkan, saya datang ke sana di saat yang taktepat. Saya masih sangat muda dan kala itu Inter dalam situasi yangtak bagus. Sekali waktu Roy Hodgson [eks pelatih Inter] pernahsalah memanggil saya dengan sebutan Pirla [yang dalam bahasa Italiaberarti kemaluan pria]. Mungkin dia lebih memahami sifat sejatisaya ketimbang pelatih lain," kisah Pirla, maaf, Pirlo, soalperiode buruknya di La Beneamata.

Milan jadi klub yang paling beruntung di antara lainnya. Di SanSiro-lah Pirlo mencapai puncak kariernya. Sempat dicap sebagaibakat gagal, dia sukses menjelma sebagai salah satu gelandangpaling menakutkan di dunia.

© 2017 Goal.com

Sedekade bersama Il Diavolo Rosso, Pirlo memenangkan seluruhgelar yang mungkin diraih oleh sebuah klub sepakbola. Mulai dariScudetto, Piala Super Italia, Coppa Italia, Liga Champions, PialaSuper Eropa, hingga Piala Dunia Antarklub.

Pirlo lantas mengalami kebangkitan luar biasa di usia senjabersama Juve. Hanya empat musim di sana, Il Maestro tak pernahabsen mempersembahkan Scudetto plus tambahan satu Coppa Italia, duaPiala Super Italia, dan sekali antarkan Si Nyonya Tua ke final LigaChampions. "Saya seperti seorang Juventini, karena begitu seringmenonton pertandingan Juve hanya untuk menikmati permainan Pirlo,"ungkap Xavi Hernandez pada Marca.

Di Timnas Italia, koleksi 116 caps-nya cuma kalah dari FabioCannavaro dan Gianluigi Buffon. Gelar tertinggi sudahdipersembahkannya lewat Piala Dunia 2006, di mana dia jadi man ofthe match pada partai final. "Jika boleh menjuluki diri sendiri,saya merupakan ultras Timnas Italia. Saya punya antusiasme yangluar biasa ketika menonton dan mengenakan jersey La Nazionale,"ungkap Pirlo di buku autobiografinya.

Minggu (5/11), menjadi hari paling tak diinginkan Pirlo dankhalayak sepakbola. Pemain yang identik dengan nomor punggung 21tersebut resmi mementaskan karya terakhirnya sebagai pesepakbolaprofesional. Dia memutuskan gantung sepatu.

Tidak ada upacara khusus atau sesuatu yang spesial di partaipamungkasnya. Pirlo hanya bermain selama kurang lebih satu menit,ketika masuk sebagai pemain pengganti di masa injury time dalamduel NYCFC kontra Colombus Crew.

Satu umpan standar dilepaskannya, sesaat sebelum peluit panjangdibunyikan. NYCFC menang 2-0, tapi tak cukup untuk lolos dari babakplay-off MLS lantaran kalah agregat 4-3 dari Colombus Crew.

Satu per satu rekan setim memeluk dan dipeluknya, begitu jugapenggawa lawan. Chant khusus dinyanyikan suporter NYCFC untukmelepas kepergian Pirlo. Sejenak pandangannya kosong bagai terjebakmemori emas yang sudah dilaluinya di sepakbola. Dia kemudianbertepuk tangan dan memberikan salam perpisahan, sebelum masuk keruang ganti. Benar, sesederhana itu.

"Tidak hanya petualangan saya di New York berakhir, tapi jugaperjalanan saya sebagai pesepakbola. Itulah mengapa saya inginmengambil kesempatan ini untuk berterima kasih kepada keluarga dananak-anak saya atas dukungan dan cinta yang selalu mereka berikankepada saya, setiap tim yang saya menaruh rasa hormat saat sayabela, semua yang pernah menjadi rekan-rekan menyenangkan saya,semua orang yang membuat karier saya menjadi mengesankan danterakhir tapi bukan yang paling akhir, bagi seluruh fans di seluruhdunia yang selalu menunjukkan dukungan pada saya," tulis Pirlodalam surat terbukanya di media sosial.

Takkan ada lagi umpan mahal khas Pirlo yang begitu memanjakanRoberto Baggio, takkan ada lagi gerakan tipuan untuk menstimulusgol Fabio Grosso di tempat di mana Jerman tak pernah kalah, takkanada lagi dentuman jarak jauh yang membuat Santiago Bernabeuterdiam, takkan ada lagi tendangan bebas khas menghanyutkan kegawang Meksiko, dan takkan ada lagi penalti panenka yang membuatInggris menangis.

Sang seniman sudah memutuskan untuk undur diri dari pentassepakbola dan kita hanya bisa dibuat terpesona oleh jejakkariernya. Akhir kata; arrivederci e grazie Il Maestro, AndreaPirlo!

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon