Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Italia Yang Menyedihkan

logo Goal.com Goal.com 14/11/2017

Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2018 mengonfirmasi sedalam apa kejatuhan Italia di sepakbola.

Mimpi buruk itu akhirnya terjadi juga. Italia tak lolos ke Piala Dunia 2018. Ya, negara yangsebelumnya lolos 18 kali dari 20 edisi Piala Dunia, melaju ke finalhingga enam kali, memenangkan empat di antaranya, dan menjadi satudari sedikit negara yang mendapat julukan sebagai "negarasepakbola".

Peristiwa yang sungguh tak terbayangkan bagi seluruh pendudukdan pendukung Italia. Padahal jika berbicara tradisi, Piala Duniadi Rusia esok jadi jatah Gli Azzurri melaju ke final dalam siklus12 tahunannya. Kapten mereka, Gianluigi Buffon, juga bakal jadisatu-satunya pemain yang ambil bagian di enam edisi PialaDunia.

Piala Dunia 2018 bisa jadi momentum kebangkitan Italia disepakbola, yang belakangan terus dibanjiri kritik. Namun faktabahwa lolos kualifikasi saja tak mampu, sejatinya hanya sekadarmengonfirmasi sedalam apa kejatuhan mereka di sepakbola.

A post shared by Goal Indonesia(@goalcomindonesia) on Nov 13, 2017 at 2:23pm PST

Ada begitu banyak masalah sepakbola di Italia. Mulai darireduksi kualitas kompetisinya, kemandulan lahirkan pemainbertalenta, hingga organisasi yang buruk dari federasinya. "PialaDunia sudah lenyap dari Italia sejak 15 tahun silam. SepakbolaItalia dikendalikan oleh mumi," begitu gambaran Paolo Cannavarousai Italia tak lolos.

Mari kita mulai dari Serie A Italia yang sudah sangat jauh darijulukan masa lalunya sebagai liga terbaik di dunia. Stadion denganpenonton yang hanya terisi setengahnya, klub-klub kecil bergantiangulung tikar, dan fakta bahwa tak satu pun klub Serie A berjaya diEropa sejak 2010 lalu adalah fenomenanya.

Fasilitas dan kemasan kompetisi di Italia juga terbilangmemprihatinkan, seturut fakta bahwa 95 persen klub di Italia takmiliki stadion sendiri. Jika harus membandingkannya dengan La LigaSpanyol, Bundesliga Jerman, Liga Primer Inggris, dan Ligue 1Prancis, mudah disimpulkan jika kemasan yang dijual Serie A palingtak sedap dipandang

Level kompetitif kompetisi pun mulai dipertanyakan, karena dalam11 dari 12 musim terakhir hanya terdapat dua klub yang memenangkanScudetto. Juventus sang juara bertahan enam musim terakhir,merupakan dominasi terpanjang dalam sejarah Serie A. Ya, begitumonoton.

© 2017 Goal.com

Segalanya diperburuk dengan keengganan klub-klub di Serie Amengunakan jasa pemain pribumi. Sebanyak 52 persen atau mayoritaspemain yang berlaga di Serie A merupakan jasa asing. Tentu sajafenomena ini berkorelasi langsung dengan miskinnya bakat tulen asliItalia yang bersinar.

Klub-klub besar seperti Inter, AC Milan, AS Roma, dan Napoliyang kini ada di puncak klasemen rata-rata hanya menggunakan satuhingga dua pemain Italia di setiap laga. Juve yang dikenal dengantradisinya mengedepankan pemain Italia, dalam tiga tahun terakhircuma menggunakannya di sektor pertahanan dengan rerata usia yangsudah uzur.

EPL memang punya situasi yang lebih parah dan kerap dijadikanpembelaan Italia, karena dikuasai oleh 64 persen pemain asing.Namun setidaknya Inggris punya perhatian serius dalam pembinaanusia mudanya, dengan menyabet seluruh gelar kejuaraan junior pada2017 ini. Italia? Mereka tak pernah lagi juara di level juniorsejak Euro U-21 pada 2004 silam.

Menjadi begitu memprihatinkan ketika di Piala Dunia 1998 laluCesare Maldini meninggalkan Gianfranco Zola, Roberto Mancini,Francesco Totti, Giuseppe Signori, Fabrizio Ravanelli, VincenzoMontella, Pierluigi Casiraghi sampai Paolo Di Canio, untuk memberitempat pada Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Christian Vieri,Filippo Inzaghi dan Enrico Chiesa di lini depan.

Namun kini sektor itu diisi oleh Eder, bomber pelapis di Inter,Manolo Gabbiadini, andalan klub medioker EPL, dan Ciro Immobile,spesialis gagal di tim besar. Dalam setahun terakhir, sosok-sosoktak layak lain macam Leonardo Pavoletti, Gianluca Lapadula, RobertoInglese dan Nicola Sansone, juga mendapat panggilan.

Kehancuran sepakbola Italia makin ditegaskan dengan keberadaanCarlo Tavecchio di pucuk kepemimpinan federasi sepakbolanya (FIGC).Kakek 74 tahun ini lebih dikenal karena kerasisannya, ketimbangkontribusinya untuk sepakbola.

"Di Inggris, mereka punya seleksi yang ketat untuk para pemainprofesional. Di sini, kita punya 'Opti Poba' yang sebelumnya cumamakan pisang dan tiba-tiba bisa bermain untuk Lazio," begitupernyataan rasialnya yang paling populer, untuk pemain mudaberkulit hitam milik Lazio, Joseph Minala.

Tidak ada kebijakan berarti yang dibuatnya baik di level ligadan Timnas sejak menjabat pada 2014 lalu. Tavecchio bahkan begitulunak ketika dihadapkan pada kasus rasial oleh tifosi. UEFA punamat membenci sikapnya hingga kerap tak diundang dalam banyakagenda.

Keputusan paling gila dari Tavecchio? Adalah mengisi pos kosongpeninggalan Antonio Conte dengan pelatih gaek yang dalam empatdekade kariernya "sukses" mengoleksi satu trofi Serie C dan duatrofi Serie D, Gian Piero Ventura!

Ventura adalah sosok nomor satu yang paling layak disalahkanatas tragedi paling memalukan di sepakbola Italia ini. Mengapa?Karena dengan segala keterbatasan dan kebobrokan yang tengahdialami, lolos ke Piala Dunia merupakan keniscayaan untuk LaNazionale.

Menurut Anda mengapa Italia masih mampu melenggang ke final Euro2012, jadi juara tiga Piala Konfederasi 2013, dan tampilmengesankan pada Euro 2016 lalu dengan segala keterbatasannya?Jawabannya adalah karena mereka diasuh oleh pelatih yang tepat.

Italia bagaimanapun masih jadi gudangnya pelatih terbaik dunia.Musim lalu pelatih asal Italia berhasil menjuarai tiga dari limakompetisi terbaik di Eropa. Karenanya entah bagaimana Tavecchiomenunjuk Ventura untuk menangani tim yang jadi kebanggaan segenapwarga Italia, di antara banyaknya pelatih kelas dunia yangtersedia.

Latar belakangnya memang masuk akal, menilik imej Venturasebagai pelatih yang kerap mengorbitkan bakat muda. Namun dengankekekeringan talenta yang dialami Italia, pilihan itu pada akhirnyatidak bijak. Pemain-pemain gaek macam Andrea Barzagli, Daniele DeRossi, dan Marco Parolo masih awet dipanggil.

Dosa terbesar Ventura pada Italia adalah kengototannya mengubahidentitas Italia. Dikenal sebagai tim yang pragmatis dengancatenaccio- nya, Azzurri dipaksa memainkan sepakbolaproaktif-ofensif ala Pep Guardiola, yang sukses dipraktikannyabersama klub-klub medioker macam Bari atau Torino.

"Guardiolismo telah merusak satu generasi pemain bertahan.Sekarang semua pemain berpikir untuk menekan, memulai serangan;tidak ada pemain bertahan Italia yang mengintimidasi lawan dantradisi kami perlahan mati," sentil Chiellini baru-baru ini,terhadap taktik Ventura.

Kakek berusia 69 tahun itu tampaknya tak berlajar dari Conteyang akhirnya berdamai dengan identitas Italia, kendati inginbermain dengan lebih ofensif di Euro 2016 lalu.

Keriskanan Ventura sejatinya sudah tampak di babak grupkualifikasi. Dia tak konsisten dalam menentukan formasi mulai dari3-5-2, 4-2-4, hingga 3-4-3 dan berimbas pada periode akhir babakgrup saat melawat ke Santiago Bernabeu, hadapi Spanyol.

Secara sembrono Spanyol dengan filosofi tiki-takanya, diajaknyabermain terbuka tanpa sadar komposisi pemain seperti apa yangdimiliki Italia. Tak pelak, kekalahan telak 3-0 pun ditelan yangmenstimulasi Italia melakoni duel play-off.

Kemediokerannya kemudian terpampang secara tegas dalam dua legplay-off hadapi Swedia. Menerapkan formasi 3-5-2 yang tak pernahdipraktikan dalam enam partai terakhir, Ventura tak bisa memutarotak tatkala Antonio Candreva cs dalam situasi deadlock.

Italia memang mendominasi penuh jalannya laga bahkan mencapaiangka 76 persen penguasaan bola pada leg kedua. Namun -- kecualitembakan Matteo Darmian yang membentur mistar -- tak ada peluangberarti yang sanggup dhadirkan Italia.

Italia hanya berputar-putar ketika sampai di area pertahananSwedia, yang begitu rapat dan disiplin. Penetrasinya mudah ditebak,yakni melancarkan umpan melalui kedua sayapnya. Tak ada variasi,tak ada kreasi sama sekali dari tengah lapangan atau mobilitasberarti dari para penyerangnya.

Ventura juga tak berani mengambil risiko menarik Swedia keluardari zonanya, untuk kemudian memukul balik ketika pertahanan sanglawan mulai renggang. Sederhananya, Ventura cuma tak tahu apa yangharus dilakukannya. Dan kurang ajarnya, dia tak menolakmengundurkan diri usai hasil memalukan ini.

Merangkum segalanya sekaligus mengapresiasi Swedia, jelas bahwaPiala Dunia 2018 memang tak layak untuk Italia.

Tragedi ini juga menandai berakhirnya sebuah era. GianluigiBuffon, Andrea Barzagli, dan Daniele De Rossi yang jadi bagiandalam skuat juara Italia di Piala Dunia 2006 memutuskan pensiun.Plus Giorgio Chiellini yang belakangan jadi simbol bek tangguh alaItalia.

Khusus untuk Buffon, Ventura beserta FIGC benar-benar harusmeminta maaf karena telah menodai riwayat kariernya yang luarbiasa. Diiringi tangis yang dalam, pengoleksi 175 caps untuk Italiaitu secara ironis harus menyampaikan permintaan maaf dan rasapenyesalan di partai pamungkasnya.

"Inilah satu-satunya penyesalan yang saya miliki dan pastinyabukan karena saya menuntaskan karier saya, karena waktu berlalu danini jadi saat yang tepat [untuk pergi]. Saya sangat memahami betapapentingnya Piala Dunia untuk negara ini dan saya meminta maaf,"tutur Buffon meringis, seperti dikutip Sky Sport.

Bagaimanapun revolusi harus segera dimulai di sepakbola Italia,dengan diawali penggusuran para biadab di kursi pimpinan FIGC.Butuh waktu yang tak singkat memang, tapi jika situasi ini terusberlangsung, sepakbola Italia hanya akan terperangkap dalam limbokejayaan masa lalu.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon