Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Kebangkitan Generasi Millennial Inggris

logo Goal.com Goal.com 29/10/2017

Inggris sukses di berbagai ajang usia muda tahun ini. Apa saja rahasia dan tantangan mereka?

Keberhasilan Inggris menjuarai Piala Dunia U-17 denganmengalahkan Spanyol 5-2 di final, Sabtu (28/10) lalu, tidak sertamerta menghilangkan olok-olok kepada negara yang menganggap dirinyasebagai penemu sepakbola itu.

Keberhasilan itu merupakan rentetan sukses Inggris di berbagaiturnamen usia dini yang diselenggarakan sepanjang 2017. Sebelumsukses di India, tim junior Inggris lebih dahulu merebut gelarjuara di Piala Dunia U-20, Kejuaraan Eropa U-19, dan TurnamenToulon. Tambahan lagi, tim Tiga Singa junior juga mampu menembussemi-final Kejuaraan Eropa U-21 serta final Kejuaraan EropaU-17.

Di tataran individual, pencapaian Inggris tak kalah gemilang.Jadon Sancho dinobatkan sebagai pemain terbaik Kejuaraan EropaU-17, Freddie Woodman menjadi kiper terbaik Piala Dunia U-20,sedangkan Dominic Solanke meraih penghargaan pemain terbaik diajang yang sama. Masa depan sepakbola Inggris tampak cerah.

Media massa Inggris pun menyambut rentetan itu dengan penuh sukacita. Beberapa yang ragu mencibir, kesuksesan tim junior belumtentu menular ke tim senior mereka yang akan bertarung di PialaDunia 2018 Rusia. Kali terakhir Inggris menjadi juara dunia lebihdari separuh abad silam saat Piala Dunia dipertandingkan di kandangsendiri.

Namun, membuat tim junior Anda mampu meraih sukses di berbagailevel tentu bukan lah sebuah kebetulan. Malahan harus mendapatpengakuan tersendiri. Kerja keras FA tidak boleh diabaikan begitusaja.

SIMAK JUGA: Halaman Khusus Timnas Inggris

Sukses Inggris U-17 menutup tahun penuh optimisme bagi masadepan sepakbola mereka.

Sukses Inggris dimulai sejak 2013 ketika FA mendatangkan MatthewCrocker sebagai kepala pengembangan kepelatihan tim. Crocker adalahfigur di balik sukses Southampton dalam mengembangkan pemain mudaberbakat seperti Gareth Bale, Theo Walcott, AlexOxlade-Chamberlain, dan Luke Shaw. Crocker adalah direktur akademiSouthampton sejak 2006 dan menjadikan klub pantai selatan Inggrisitu salah satu yang terbaik dalam pembibitan pemain muda diEropa.

"Saya pikir banyak klub kini mengakui Southampton dan caramereka mengembangkan para pemain muda. Klub lain dengan masalahfinansial biasanya memangkas akademi. Tidak dengan Southampton,bahkan di jenjang administrasi sekali pun. Akademi mereka tidakhanya dapat dianggap sebagai yang terbaik di Inggris, tetapi jugasalah satu yang terbaik di Eropa," tukas Crocker dengan banggakepada FourFourTwo suatu ketika.

FA kemudian memperkenalkan "DNA sepakbola Inggris" untukditerapkan seluruh tim di negara St George itu. Filosofi yanghendak dibangun FA dipaparkan dalam empat aspek, yaitu saatmenguasai bola, saat tidak menguasai bola, transisi, dan formasi.Visi ini kemudian dipecah lagi menjadi rencana strategis sehinggaInggris dapat membangun timnas mulai dari kelompok usia termuda(U-15) hingga tim senior.

Untuk fase pembentukan pondasi kemampuan pemain, FA memerinciaspek yang harus dilatih oleh seluruh akademi. Misalnya, saatpenguasaan bola seorang pemain diminta untuk "mengembangkankemampuan menguasai bola serta kepercayaan diri untuk mencoba halbaru". Atau saat transisi, pemain diminta untuk "mencobamemenangkan bola secepat mungkin dan mencegah lawan membangunserangan".

Langkah lain dalam menunjang kebijakan tersebut adalah membangunkomunikasi dengan Football League. FA tampaknya menyadari, visiyang bagus tidak dapat berjalan tanpa bekerja sama dengan klub.Kedua pihak itu menyusun rencana bernama Elite Player PerformancePlan (EPPP) supaya Inggris dapat memiliki akademi unggulan duniayang mencetak banyak pemain binaan sendiri dan meningkatkanefisiensi dalam investasi pembinaan usia dini.

Salah satu strategi dalam EPPP adalah mengkategorikan akademiklub ke dalam empat level serta penerapan sistem perekrutan pemainmuda. Akademi Level 1 hingga Level 3, misalnya, hanya dapatmerekrut pemain U-9 hingga U-11 untuk fase pembentukan pondasikemampuan dengan domisili berdurasi satu jam dari markas mereka.Sementara, perekrutan berskala nasional hanya diperbolehkan untukpemain U-17 hingga U-21.

SIMAK JUGA: PSSI Segera Luncurkan Buku FilosofiSepakbola Indonesia

Inggris U-20 yang berjaya di Korea Selatan.

Selain itu, keberhasilan komunikasi antara asosiasi dan klubturut disadari menjadi kunci sukses saat Inggris menjuarai PialaDunia U-20, Mei-Juni lalu. Buktinya, Everton tak kurang mengirimkanlima pemain mereka mengikuti turnamen. Tiga di antaranya, DominicCalvert-Lewin, Ademola Lookman, dan Jonjoe Kenny, sudah mulaimenjadi pemain pelapis The Toffees.

Komunikasi itu berjalan dua arah. FA juga mau mendengarkankebutuhan klub saat pemain seperti Axel Tuanzebe, Patrick Roberts,dan Izzy Brown tidak dilepas oleh Manchester United, GlasgowCeltic, dan Huddersfield Town saat mengikuti Euro U-19.

"Sepanjang musim FA dan semua klub terus menjalin komunikasi.[Direktur teknik FA] Dan Ashworth berkeliling mengunjungi semuaklub untuk berkomunikasi dan mereka memberikan kami dukungan yanghebat," ungkap pelatih Inggris U-20, Paul Simpson, kepada TheGuardian.

Rhian Brewster England U17 © 2017 Goal.com Rhian Brewster England U17

"Kami memiliki para pemain yang sangat baik di negara ini dankami perlu memberangkatkan skuat terkuat agar memberikan merekakesempatan untuk mencapai tahap akhir kompetisi. Kami tak mau hanyaberpartisipasi untuk fase grup. Kami ingin memberikan merekapengalamana bertanding di fase gugur, kalau perlu merasakan adupenalti. Semua hal yang menjadi titik lemah Inggris di berbagaiturnamen selama beberapa tahun terakhir. Kalau mereka mengalaminyapada fase pengembangan, itu akan menjadi bekal yang baik di masadepan."

SIMAK JUGA: EKSKLUSIF INDRA SJAFRI - Tanggung JawabKlub & Timnas Jangan Terbalik

Inggris saat tampil di Kejuaraan Eropa U-19.

Tak hanya timnas yang diuntungkan, klub pun mulai memetikmanfaat dari berkembangnya inisiatif pengembangan pemain mudaInggris. Chelsea diberi label sebagai klub kosmopolitan yang hobiberbelanja pemain mahal guna mencapai ambisi tinggi mereka. Tetapi,prestasi The Blues di level usia muda tidak boleh diabaikan.

Chelsea mampu dua kali menjuarai UEFA Youth League, kompetisiusia muda yang mempertandingkan tim U-19 di seantero Eropa. SiLondon Biru juga sukses enam kali juara dari delapanpenyelenggaraan terakhir Piala FA Junior. Musim ini, Chelseamengintai untuk menyamai rekor lima kali beruntun menjuarai PialaFA Junior milik Manchester United era Busby Babes.

Chelsea juga menjadi klub paling banyak yang menyumbang pemainke timnas Inggris junior di berbagai ajang tahun ini. Sebanyak 24slot dalam skuat Tiga Singa (total 121 slot pemain) diisi olehpemain Chelsea di enam ajang usia muda yang telah disebutkan dibagian atas tulisan. Artinya, Chelsea memasok hampir 20 persen darikekuatan Inggris.

Keberhasilan ini memang tidak menjanjikan gelar juara dunia diRusia tahun depan, tetapi mampu menghasilkan optimisme untukmenyambut tantangan masa datang. Puncak visi dan misi yangdiinisiasi Crocker empat tahun lalu adalah menempati posisi tigabesar pada Piala Dunia 2022. Target itu tidak mustahil mengingatpara pemain muda mereka yang ada saat ini akan mencapai usiaemasnya.

Barangkali, alih-alih mengembalikan sepakbola ke rumahnya,tantangan terbesar generasi millennial Inggris adalah menjadi tuanrumah di negeri sendiri.

SIMAK JUGA: EKSKLUSIF INDRA SJAFRI - SolusiPembinaan Usia Muda Indonesia

Sukses tim junior Chelsea sebenarnya adalah sebuah paradoks.Bukankah skuat senior mereka masih mengutamakan para pemain impor?Musim ini saja, Chelsea begitu banyak melepas pemain muda untukdisekolahkan ke tim lain atau malah dijual dengan opsi "buy back"(untuk mengantisipasi kesalahan mereka dalam menilai kemampuanpemain muda). Malahan fenomena ini sudah terjadi beberapa tahunterakhir.

Cara Chelsea tersebut merepresentasi sikap klub papan atas LigaPrimer Inggris. Aset pemain muda dianggap sebagai investasi dalammendatangkan pemasukan klub, tetapi belum menjadi modal untukmencapai sukses. Sayang memang, ladang seperti akademi top dianggapbelum dapat mencukupi kebutuhan sendiri.

"Jelas jika FA ingin agar lebih banyak pemain binaan sendiriyang tampil di tim-tim Liga Primer. Liga Primer adala yang terbaikdi dunia dengan para pemain berkelas dunia," jelas Crocker kepadaSoccer America.

"Sisi lain dari keadaan itu, para pemain muda punya kesempatanberlatih dan belajar dari para pemain terbaik, dari semua teladanyang datang dari berbagai penjuru dunia, kemampuan teknik dantaktik mereka. Sikap mereka di luar lapangan juga dapat menjalarkepada para pemain muda."

"Kami semua ingin bekerja sama agar para pemain muda punya lebihbanyak kesempatan di Liga Primer, bermain di stadion yang penuh,bermain di level tertinggi."

"Football League, Liga Primer, dan FA bekerja keras di baliklayar guna memastikan kesempatan besar seperti itu dapat diberikankepada para pemain di masa datang."

Ketika Liga Primer berpaling kepada pemain muda binaan sendiri,dunia tampaknya akan menjadi milik Inggris.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon