Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Kisah Naby Keita: Dari Jalanan Guinea Ke Gemerlap Eropa

logo Goal.com Goal.com 10/11/2017

Kisah perjalanan karier Naby Keita, yang akan bergabung dengan Liverpool musim panas mendatang.

© 2017 Goal.com

Remaja bertubuh mungil itu menggiring bola dengan kakitelanjang. Kausnya kebesaran sehingga mudah ditarik oleh lawanbermainnya. Remaja itu tidak peduli dan terus berlari.

Mendadak dia merasakan ada benturan dari belakang.Keseimbangannya goyah sejenak, tapi tak menghentikan langkahnyasebelum menembak bola. Naby Keita berhasil mencetak gol. Saatmerayakannya, dia baru sadar, beberapa detik yang lalu diadisenggol mobil.

"Itu biasa terjadi," ujar Keita secara eksklusif kepada Goalsaat mengenang masa kecilnya di Koleya, sebuah kawasan di Conakry,ibukota Guinea.

"Kami bermain di mana saja di luar ruang, biasanya di jalanandan kami harus berkelit menghindari mobil!"

"Saya disenggol beberapa kali, tapi tetap bermain karena sayatak mau kehilangan bola. Tidak ada yang bisa mencegah saya dan sayabanyak belajar dari pengalaman di jalanan itu."

"Kami bermain dengan apa saja yang kami temukan dan kaki sayatidak memakai apa-apa. Kadang-kadang, saya bermain dengan sepatubutut yang sudah rusak," lanjut gelandang yang baru saja menembusGoal 50 2017, yaitu daftar peringkat 50 pemain terbaik di duniayang akan kami umumkan Selasa, 14 November.

"Saya tidak punya sepatu dan saya sangat menjaga kaus sepakbolayang diberikan ke saya. Semuanya membantu saya saat bersiap menjadipemain profesional sehingga tidak ada yang membuat saya gentar dilapangan."

"Tubuh saya kecil, jadi saya harus berjuang sekuat tenaga. Mulaidari kesempatan bermain, merebut bola, meraih respek, dan bahkanmobil-mobil tidak membuat saya berhenti. Itulah asal agresivitaspermainan saya yang begitu penting untuk posisi bermain yang sayatempati."

Raja Jalanan Conakry itu kini menjadi pemain sepakbola Afrikatermahal dalam sejarah. Liverpool mesti mengaktifkan klausulpenjualan £48 juta dari kontrak sang pemain dengan RB Leipzig.Transfer akan berlangsung 1 Juli tahun depan.

Kepindahan itu sudah dibayangkan Keita sejak remaja, tapimenjadi pemain terbaik adalah sesuatu yang diimpikannya sejakkecil. Saat berlatih berjalan, ibu Keita, Miriam Camara, harusmenyingkirkan semua benda dari kakinya.

"Beliau bilang benda apapun yang jatuh dari meja, entah itubotol minum atau sebutir jeruk, saya akan langsung menggiringnya,"kisahnya sambil tergelak.

"Apapun yang tergeletak di lantai saya tendang, sayabermain-main dengannya. Ke mana pun ibu membawa saya, saya akanmelakukannya."

Ayah Keita, Sekou Keita, percaya takdir anaknya sudah ditentukansejak lama.

"Ayah bilang saat bayi saya sudah menyukai bola, sayamemandanginya dan menyentuhnya. Selalu ada bola dalam jangkauansaya."

Meski disadari sulit mencegah keinginan anaknya menekunisepakbola, kedua orangtua Keita sempat mengarahkannya ke jalurlain.

"Mereka ingin saya kuliah," ujar pemain 22 tahun itu. "Merekamerasa pendidikan sangat penting dan menjamin stabilitas, tapitidak ada hal selain sepakbola buat saya."

"Mereka terus mencoba, tapi mereka bisa melihat apa sebenarnyaisi hati dan kepala saya. Semua tetangga mengatakan, saya pemainterbaik di Conakry, dan pada akhirnya orangtua saya bilang merekamenyadari bakat spesial yang saya miliki dan mendukung penuh impiansaya."

Saat berusia 12 tahun, pemantau bakat lokal sudah menyarankannyauntuk ke Eropa. Tapi, terlalu muda baginya untuk melakukan halitu.

"Saya belum siap mental untuk mengambil langkah sebesar itu,"jelas Keita. "Dua tahun kemudian, ketika sudah banyak menyaksikanLigue 1, Liga Champions, dan Liga Primer di televisi, saya tahusayaa ingin bermain di level seperti itu."

"Mustahil melakukannya di negara asal saya, jadi jelas kiranyakalau saya harus mencoba kemampuan di Eropa. Saya bertekad menjadipesepakbola, bukan karena mencintai olahraga ini, tetapi untukmembuktikan diri kepada keluarga."

Jadi, ketika berusia 16 tahun, dia pergi ke Eropa untuk menempuhtrial bermodalkan perasaan antusias.

"Orangtua saya khawatir. Mereka tidak mau saya pergi jauh-jauhdan mereka risau bagaimana saya beradaptasi dengan lingkunganbaru," sambung Keita.

"Memang jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Segalanyaberbeda di luar kendala bahasa. Biasanya saya bermain denganteman-teman, sekarang bersama orang asing yang jarang mauberbaur."

Keita kemudian ulang-alik dari Conakry ke Eropa Barat. Penolakandari Lorient menjadi salah satu kenyataan pahit yang harusditeirmanya.

"Saya ragu apakah saya bisa berhasil. Itu periode yang sulit,"jelasnya. "Mimpimu ada di ujung kuku, tapi kemudian runtuh seketikadan kamu harus memulainya lagi dari awal."

Hal yang paling menggentarkan Keita bukanlah tempat yang asing,perbedaan budaya, beradaptasi dengan orang-orang, melainkan adalahcara interpretasi sepakbola yang sama sekali berbeda.

"Saya tak pernah tahu aspek profesional dalam sepakbola," imbuhKeita. "Saya tidak pernah masuk akademi, semua yang saya tahu sayapelajari dari jalanan. Saya dapat bola, saya akan berlarimenggiringnya, mengelabui lawan, dan mencetak gol."

"Selama proses trial ini, para pelatih meminta saya melakukanhal-hal yang tidak pernah saya dengar! Mereka menggunakan istilahsepakbola yang tidak saya pahami, serta memberikan instruksi yangtidak saya ketahui. Saya tidak tahu apa-apa soal taktik. Alasan ituyang diberikan ketika saya dinyatakan tidak lulus trial."

Baru lah enam tahun yang lalu Keita mendapatkan balasanmenggembirakan. Hingga kini, sulit menemukan seorang gelandangdengan kemampuan bermain dan efektivitas seperti dirinya, baik saatbertahan maupun menyerang. Direktur Chelsea Christian Heidel memujiLeipzig memiliki "pemain ke-12" karena "Naby seperti dua pemainsekaligus, anak ini sulit dibendung".

Dia bisa melakukan tekel, melewati bek, intersep, melakukantransisi dengan cepat, membendung lawan, mendikte tempopertandingan; kombinasi yang unik dan berharga.

Le Mans menjadi klub pertama yang menilai potensial Keita, bukankemampuannya yang masih mentah. Namun, mereka tak bisa merekrutnyakarena berada di ambang kebangkrutan. Keita, yang saat itu berusia18 tahun, ditawarkan salah satu pengurus klub ke direktur olahragaFC Istres, Frederic Arpinon.

Dia lalu bicara dengan para pemantau bakat yang menyaksikanpenampilan Keita dalam sebuah turnamen di Marseille, yang dikelolaoleh mantan bek Celtic Bobo Balde. Review dari mereka dianggapcukup bagi Istres untuk melakukan trial dan Naby dalam sekejapmampu menyita perhatian.

Istres memberinya kontrak tiga tahun. November 2013, Keitaberterima kasih dengan memberikan satu buah gol dan satu assistpada penampilan debut melawan Nimes, yang berakhir dengan skor4-2.

"Saya sudah lama menunggu, ada beberapa kekecewaan, dan ketikamendapat peluang pertama, saya ingin membuktikan diri bahwa sayapantas bermain di Eropa," kenang Keita.

"Orangtua saya masih sangat risau. Saya harus menelepon merekaenam kali sehari dan mengatakan apa pun yang sedang terjadi!"

Arpinon sadar akan sulit bagi mereka untuk menyembunyikan bakatrekrutan anyarnya. Saat klub Ligue 1 ragu-ragu mengucurkan banyakdana untuk mutiara terpendam itu, Gerard Houllier yakin untukmembawanya ke Red Bull Salzburg.

Eks pelatih timnas Prancis dan Liverpool itu menjabat sebagaiHead of Global Football klub Austria itu. Houllier membahas tentangKeita bersama Ralf Rangnick, yang menjadi direktur olahraga klubminuman energi itu sebelum mendapuk jabatan serupa di RBLeipzig.

Keduanya menyaksikan Keita ketika tampil berseragam timnasGuinea dalam laga uji coba melawan Mali, 25 Mei 2014, di Prancis.Houllier mendorong agar Salzburg mengikat Keita. Musim panas itu,Kaita menandatangani kontrak lima tahun untuk Die Roten Bullen,tempat Sadio Mane berkiprah sebelum hijrah ke Southampton.

Awalnya, saya tidak mendapat kesempatan tampil inti dan itusangat membuat frustrasi," ungkap Keita. "Saya tak menyukainya danitu malah mempersulit proses adaptasi. Tapi Sadio bilang, 'Adikkecil, tenang saja. Kesempatan akan tiba dan saat itu datang,manfaatkan sebaik mungkin'."

"Dia banyak membantu saya, mulai dari bahasa, bergaul, memahamiklub, dan beradaptasi dengan kota. Tentu saja, dia benar. Begitusaya masuk tim inti, saya membuktikan kualitas dan segalanyamenjadi lebih lancar."

"Salzburg membantu saya mengembangkan diri sebagai pemain dansaya banyak belajar di sana. Saya mendapat pembelajaran taktik yangbenar. Peran Sadio begitu penting, sampai saat ini! Buat saya, diaseperti abang sendiri. Dia senang mempelajari banyak hal baru,mengembangkan diri, dan kami memiliki kesamaan karakter. Diateladan bagi saya."

Mane, tiga tahun lebih tua daripada Keita dan juga diwakili olehgrup olahraga Arena11, masih punya naluri melindungi pemain Guineaitu dan menyaksikan pertandingannya bila sempat, langsung maupunlewat cuplikan.

"Dia pemain yang spesial dan sudah seperti keluarga bagi saya,"ujar pemain cepat Liverpool itu. "Hubungan kami erat di Salzburgdan kami masih berhubungan. Saya senang menyaksikannya dan sayaingin membantunya lagi saat dia datang tahun depan."

"Dia bertanya soal Liverpool dan saya bilang klub ini luar biasadengan banyak pemain berbakat, manajer yang hebat, dan punya ambisibesar. Kota dan masyarakatnya baik, dia akan betah berada disini."

Musim depan bukan lah kesempatan pertama Keita mengenakanseragam Liverpool.

"Saat berusia 11 atau 12, teman-teman dan saya memilih seragammana yang akan dipakai oleh tim. Karena ayah saya menjuluki sayaDeco karena bermain sepertinya, saya ingin kami mengenakan seragamBarcelona, favorit saya," bilang Keita.

"Namun, semua teman saya fans Liverpool dan saya punmenyukainya, jadi kami memutuskan memakai seragam Liverpool. Sayarasa tidak ada yang menyangka atau membayangkan kalau sayabenar-benar akan bermain untuk Liverpool dan mengenakanseragamnya!"

Selain teman-temannya dulu, ada figur lain yang terus memberikanmasukan untuk Keita.

"Ayah saya fans berat Liverpool!" ungkapnya. "Sejauh yang sayaingat, dia sibuk membicarakannya. Ketika saya tahu apa ituLiverpool sewaktu kecil, dia begitu tergila-gila."

"Tentu saja dia sangat bahagia ketika mengetahui minat merekadan ketika transfer musim depan terwujud. Dia ingin membahas soalIstanbul, Steven Gerrard, dan semua pertandingan besar atau pemainlegendaris Liverpool."

Namun, Keita tidak mau buru-buru berpikiran soal bermain untukpasukan Jurgen Klopp.

"Masih banyak yang mesti saya capai bersama Leipzig musim inidan fokus saya tetap bersama mereka," tukasnya.

"Klub memperlakukan saya dengan baik dan saya berkembang pesatbersama mereka. Kepindahan dari Salzburg ke Leipzig adalah langkahbesar buat saya dan saya dapat merasakan level yang lebih tinggi.Musim lalu terasa istimewa buat kami, kami bermain baik dan finiskedua di Bundesliga serta untuk kali pertama merasakan LigaChampions."

"Biasanya saya menyaksikan Xabi Alonso di Liga Champions danLiga Primer ketika masih tinggal di Guinea. Musim lalu, sayaberkesempatan bermain menghadapinya sebelum pensiun. Ketikamemikirkan hal-hal seperti ini, saya merasa bersyukur, tetapi jugamenunjukkan hasil kerja keras saya. Tapi ini baru awal, saya tidakpernah puas, saya tidak pernah merasa nyaman."

Ketika nominator Pemain Terbaik Afrika ini kembali ke Guinea,dia disambut dengan kenangan serta inspirasi untuk terusmendorongnya berkembang.

"Saat pulang ke Conakry, masih banyak anak bermain di jalanantanpa sepatu, di antara mobil-mobil. Saya selalu membeli sepatusebanyak mungkin untuk anak-anak itu karena saya tahu betapa besarartinya memberikan hal sesederhana itu. Saya merasa bangga karenabegitu banyak bakat bertebaran di Guinea."

Tidak semuanya sama saat kepulangannya. "Saya ingin menjadiseperti Deco, Titi Camara, atau Pascal Feindouno ketika masih muda,dan sekarang banyak anak mengenakan nama saya di seragam mereka!Itu motivasi besar buat saya dan saya harap terus menunjukkanmereka bahwa dengan keberanian dan semangat, mereka dapat mencapaisegalanya."

"Tidak peduli semiskin apa atau tempat asal dirimu, kalau siapberkorban, bekerja keras, dan tidak pernah berhenti, semua mimpidapat diraih."

Begitu banyak perubahan yang terjadi dalam hidup Keita, tapiselalu ada hal yang tetap sama. "Ibu saya di sini, dia datangberkunjung setiap tiga bulan sekali, dan tinggal bersama saya,"ujarnya.

"Sekarang dia tidak perlu berteriak supaya saya berhentimenendang benda-benda, tapi dia tetap menjadi batu karang buatsaya. Tanpa keluarga, saya bukan apa-apa dan apa pun yang terjadi,saya takkan melupakan asal usul saya."

Dari salah satu pemain yang diincar di Bundesliga musim lalu,kini kelihatannya Keita menjadi pemain yang selalu disorot. PelatihLeipzig, Ralph Hasenhuttl, tak mengkhawatirkan tiga merah yangditerima pemain No.8 itu hanya dalam kurun 39 hari, sambilmenyatakan pemainnya "sering diprovokasi". Keadaan itu menunjukkanperkembangan status Keita dan betapa penting perannya di matapemain lawan.

Pengaruhnya takkan sirna hanya dalam seketika. "Saya inginmenang," cetusnya. "Saya ingin menjadi lebih baik dan lebih kuat.Ini baru awal bagi saya."

"Saya sudah datang begitu jauh, jadi kenapa tidak membidikposisi paling tinggi sekalian?"

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon