Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Larasati dan Adi Katompo Tanding di Jerman, Putri Hamidjojo di Belanda

logo tribunnews.com tribunnews.com 03/12/2017 Toni Bramantoro

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dengan segala keterbatasan yang dihadapi, Pengurus Pusat Persatuan Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) merawat sikap optimistis menyambut kompetisi equestrian (berkuda ketangkasan) di Asian Games XVIII/2018 mendatang.

Target satu medali emas dicanangkan, dari enam medali emas yang dialokasikan di nomor tunggang serasi (dressage) perorangan dan beregu, lompat rintangan (show jumping) perorangan dan beregu, serta eventing (trilomba) perorangan dan beregu.

Peraihan satu medali emas diharapkan dari dressage, perorangan atau beregu. Yang paling diandalkan adalah Larasati, rider senior yang harus diakui masih menjadi yang terbaik di tanah air di tengah kelangkaan rider tunggang serasi.

Larasati, yang meraih medali perunggu di kontes equestrian Asian Games XVII/2014 Incheon, Korsel, sudah lama bermukim di Jerman. Ia memang sempat membantu pelatihan timnas dressage yang diterjunkan di SEA Games XXIX/2017 di Kuala Lumpur, Malaysia, Agustus lalu. Akan tetapi setelah itu mantan model yang memang blasteran Indonesia-Jerman itu kembali ke Jerman, untuk berlatih dan bertanding dengan biaya sendiri.

Larasati meraih medali perunggu perorangan Asian Games 2014 dengan kuda Wallenstein 145, dengan total persentase penilaian 74,075. Kuda Wallenstein 145 beberapa waktu lalu sudah 'berpulang', meninggalkan Larasati selama-lamanya.

Memang masih ada dua kuda kesayangannya yang lain. Namun, Larasati masih merasa lebih nyaman dengan Wallenstein 145.

"Sekarang dia fokus dengan kuda lainnya, semoga bisa bersinergi dengan baik sebagaimana dulu dengan Wallenstein 145," ungkap Ketua Umum PP Pordasi, Mohammad Chaidir Saddak, Minggu (3/12/2017).

Eddy Saddak, sapaan Ketua Umum PP Pordasi, juga menyebutkan jika Larasati diberikan kepercayaan sepenuhnya untuk memilih rider dressage lainnya yang akan diterjunkan di Asian Games XVIII/2018 mendatang.

"Cabor berkuda khususnya equestrian ini kan spesifik, memadukan kekompakan dua unsur yakni kuda dan manusia. Oleh karena itu faktor pengalaman dan mental sangat berpengaruh," ujar Eddy Saddak.

Adi Katompo Tanding di Jerman © ist Adi Katompo Tanding di Jerman

Siapa yang akan menjadi pendamping Larasati di dressage, masih belum lagi diketahui. Namun, rider senior Djolfie Momongan tentunya akan dipertimbangkan.

Masalahnya, Djolfie juga belum memiliki kuda yang benar-benar dapat diandalkan untuk bersaing di level Asia yang berat.

Soal kuda, Eddy Saddak punya saran, alangkah baiknya jika pemerintah bisa membantu, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Malaysia kepada federasi nasional berkudanya. Rider Malaysia mendominasi peraihan medali emas equestrian SEA Games 2017.

"Kuda-kuda yang dipakai rider Malaysia itu sewaan, bukan boleh beli. Kita juga bisa, asal dananya ada. Harga sewa relatif jauh lebih ringan daripada beli," jelas Eddy Saddak.

Berkompetisi di level seperti Asian Games tentunya menjadi keinginan dari para rider. Oleh karena itu, mereka juga dituntut untuk berjuang sendiri tanpa harus menggantungkan sepenuhnya pada federasi. Rider senior Kurniadi Katompo sudah hampir dua bulan ini berlatih di Jerman bersama Nadia Marciano.

Adi Katompo pada Sabtu (2/12) kemarin ikut bertanding di Paardenkliniek de Watermolen Prijs, International Jumping, CSI-1* Big Tour Final, 130 cm dengan jump-off.

Rider utama dan andalan dari APM Equestrian Centre ini menempati posisi ke-53 dari hampir 100 peserta, menyelesaikan perlombaan dengan waktu 68.12 dt dengan 13 pelanggaran. Adi menunggang kuda Never Ever 2 yang dipinjamkan oleh panitia.

Sementara itu, rider senior Putri Hamidjojo sudah beberapa bulan ini berlatih di Belanda. Seperti halnya Larasati Gading di Jerman, Putri Hamidjojo juga mengikuti berbagai pertandingan di Belanda.

Rider-rider senior lainnya juga tak berdiam diri. Dengan dukungan dari klubnya masing-masing, mereka mendapatkan kuda baru.

Steven Manayang dan Alvaro Menayang, yang juga sudah menjadi langganan di multi-event, mendapatkan dua kuda baru dari Belanda yang dibeli oleh klubnya, NPC Elang 45 Stable. Dua kuda jumping, yakni Baiklah dan Riga, didatangkan dari Belanda.

Albert Pelealu tidak ketinggalan pula. Abe baru saja pulang dari Belanda bersama pemilik Universitas Budi Luhur (UBL) Stable, Kasih Hanggoro. Mereka membeli dua kuda eventing baru, kemungkinan baru pertengahan Desember masuk Jakarta.

"Masih menjalani tes kesehatan di negeri asalnya, setelah beres semua baru dikapalkan ke Jakarta," kata Kasih Hanggoro, Ketua Yayasan Universitas Budi Luhur.

Kompetisi eventing pada equestrian sebenarnya lebih berat dibanding dressage dan jumping. Eventing mengkombinasikan tiga disiplin, yakni dressage eventing, cross-country dan jumping. Maka kudanya pun harus kuda yang mampu berlaga di tiga disiplin tersebut.

Sesuai dengan ketentuan dari Federasi Equestrian Internasional (FEI), kompetisi eventing harus dilaksanakan dengan mengacu pada Minimum Eligibility Requirement (Standar Kelayakan Minimum), yakni persyaratan terkait batasan angka hukuman pada masing-masing displin: dressage eventing, cross country dan jumping eventing.

Merujuk pada MER tersebut, test-event untuk eventing yang dilaksanakan oleh PP Pordasi pada pertengahan Oktober lalu dan awal Desember ini tidak memenuhi kualifikasi MER.*

Lainnya dari tribunnews.com

tribunnews.com
tribunnews.com
image beaconimage beaconimage beacon