Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Mengenal 3 Calon Pelatih Timnas Indonesia Versi Riedl

logo Liputan 6 Liputan 6 19/12/2016

Liputan6.com, Jakarta - Usai gagal menjuarai Piala AFF 2016, masa depan Alfred Riedl sebagai pelatih Timnas Indonesia masih diragukan. Belum diketahui apakah kontraknya akan diperpanjang atau tidak. Sekadar catatan, kontrak Riedl berakhir setelah turnamen dua tahunan itu.

Riedl sendiri gagal mewujudkan impian suporter Timnas Indonesia yang ingin melihat tim kesayangan mereka mengangkat trofi Piala AFF 2016. Kegagalan tersebut diakibatkan kekalahan 0-2 Timnas Indonesia dari Thailand pada leg kedua final di Rajamangala Stadium.

Padahal, seharusnya Timnas Indonesia bisa memanfaatkan modal berupa kemenangan 2-1 atas Thailand pada leg pertama final di Stadion Pakansari. Namun, keberuntungan masih enggan menaungi Timnas Indonesia.

Usai dipastikan gagal, Riedl sempat bicara soal masa depannya bersama Timnas Indonesia. Pelatih asal Austria itu berharap tetap dipercaya PSSI untuk membangun tim yang bisa menantang Thailand.

Namun, ia juga menyebut tiga nama yang dinilai layak menjadi pelatih Timnas Indonesia. Mereka adalah dua asistennya, Wolfgang Pikal, Hans Peter Schaller, dan pelatih Sriwijaya FC Widodo Cahyono Putro.

Liputan6.com mengajak masyarakat untuk mengenai lebih jauh tiga nama yang disebut Riedl layak menjadi pelatih Timnas Indonesia. Berikut adalah perjalanan karier ketiganya:

Tak ada yang tahu perjalanan karier Pikal sebagai pesepak bola. Pasalnya, ia hanya menjalani karier sebagai pemain hingga usia 22 tahun. Saat mengarungi petualangan bersama klub Divisi 3 Austria, SR Donaufeld, ia didera cedera engkel yang memaksanya pensiun dini.

Asisten Pelatih Timnas Indonesia, Wolfgang Pikal (kanan) berfoto dengan warga usai salat Jumat di Yamie Unmuttageen Mosque, Thailand (16/12). Indonesia akan melakoni final kedua Piala AFF 2016 melawan Thailand. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah) © Disediakan oleh Liputan 6 Asisten Pelatih Timnas Indonesia, Wolfgang Pikal (kanan) berfoto dengan warga usai salat Jumat di Yamie Unmuttageen Mosque, Thailand (16/12). Indonesia akan melakoni final kedua Piala AFF 2016 melawan Thailand. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Dari sana, ia melakukan perjalanan ke Indonesia hingga menetap di Bali. Pada akhirnya, ia memulai hidup baru dengan menikahi wanita Indonesia dan menjalani bisnis tekstil. Setelah sempat 10 tahun tak berkecimpung di sepak bola, pria yang baru berulang tahun ke-47 pada 1 November 2016 tersebut akhirnya kembali bersentuhan dengan dunia si kulit bundar.

Momen itu dimulai saat ia berkenalan dengan mantan pelatih Perseden Denpasar, Dick Buitelaar. Sejak 1999, ia pun mulai mengikuti kursus pelatihan di beberapa klub top Eropa seperti Arsenal, Aston Villa, dan Ajax Amsterdam.

Pada 2008, ia dipertemukan dengan Riedl yang saat itu melatih klub Vietnam, Haipong. Sejak itu, keduanya saling bertukar informasi. Saat Riedl diangkat menjadi pelatih Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2010, Pikal pun diangkat sebagai asistennya.

Total, sudah tiga edisi Piala AFF yang dilewati Pikal bersama Riedl, yakni Piala AFF 2010, 2014, dan 2016. Sayang, kolaborasi keduanya belum menghasilkan gelar.

Jika dibandingkan Pikal, Schaller terbilang wajah baru dalam Timnas Indonesia. Pasalnya, ia baru diangkat menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2016.

Hans Peter Schaller (istimewa) © Disediakan oleh Liputan 6 Hans Peter Schaller (istimewa)

Saat menunjuk Schaller sebagai asisten, keputusan Riedl sempat dipertanyakan. Pasalnya, pria berusia 53 tahun itu tak memiliki perjalanan karier yang cemerlang. Setelah sempat menukangi Timnas Laos pada 2011, ia mulai menapaki karier di Indonesia.

Sayang, dua karier kepelatihannya bersama klub Indonesia berakhir dengan tragis. Ia mendapat surat pemecatan saat menukangi Persiba Balikpapan dan PSM Makassar. Saat menjadi asisten pelatih di Piala AFF 2016, Schaller pun terlihat tak begitu vokal dan aktif jika dibandingkan dengan Pikal.

Widodo adalah satu-satunya nama lokal yang disebut Riedl sebagai sosok yang layak menjadi pelatih timnas Indonesia. Hal itu bisa dimaklumi mengingat Riedl sudah begitu mengenal pelatih berusia 46 tahun tersebut.

Widodo Cahyono Putro (istimewa) © Disediakan oleh Liputan 6 Widodo Cahyono Putro (istimewa)

Keunggulan Widodo dibandingkan dua kandidat lain, ia memiliki pengalaman mumpuni sebagai pemain dan tim pelatih. Saat menjadi pemain, namanya bersinar bersama Petrokimia Putra Gresik dalam dua periode.

Bicara soal ilmu kepelatihan, ia sudah mulai melatih Petrokimia Putra Gresik pada 2004. Pada 2005-2006, ia mulai menjalani tugas sebagai spesialis asisten pelatih timnas Indonesia. Tercatat, ia sempat menjadi asisten pelatih timnas Indonesia di kualifikasi Olimpiade 2008.

Setelah itu, ia juga sempat menjadi asisten pelatih di SEA Games 2007 dan kualifikasi Piala Asia 2011. Setelah itu, ia sempat rehat menjadi asisten di timnas saat menukangi Persela Lamongan. Namun, ia kembali menjadi langganan Riedl untuk Piala AFF 2010 dan 2014.

Baru di Piala AFF 2016 namanya tak masuk dalam daftar asisten Riedl di Timnas Indonesia. Itu karena Widodo tengah berada dalam kontrak sebagai pelatih Sriwijaya FC. Sebelum PSSI kembali menunjuk Riedl, namanya juga sempat masuk dalam daftar kandidat pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

20161216-Pelatih Timnas Indonesia Siap Beri Kejutan di Thailand-Bangkok © Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl saat memberi keterangan jelang final kedua Piala AFF 2016 di ... 20161216-Pelatih Timnas Indonesia Siap Beri Kejutan di Thailand-Bangkok

LAINNYA DARI LIPUTAN 6

image beaconimage beaconimage beacon