Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

OPINI: Masa Depan Jerman Cerah, Tapi Masa Depan VAR Tanda Tanya

logo Goal.com Goal.com 03/07/2017

Di luar kegemilangan Jerman, penerapan sistem VAR selama Piala Konfederasi terasa membingungkan.

OLEH AGUNG HARSYAIkuti@agungharsya di twitter

Jerman berhasil menyabet gelar juara Piala Konfederasi 2017dengan mengalahkan Cile berkat gol tunggal Lars Stindl di StPetersburg, Minggu (2/7) malam.

Pencapaian ini mengundang kekaguman karena Joachim Low tidakmenggunakan kekuatan terbaik untuk menghadapi turnamen ini. Tidakada Manuel Neuer, Mats Hummels, Toni Kroos, Mesut Ozil, ataupunThomas Muller dalam skuat. Bahkan, Jerman bahkan hanya diperkuat 22pemain setelah Low tidak memanggil pengganti Leroy Sane yangcedera.

Di antara para pemain yang dipanggil memperkuat DieNationalmannschaft, Julian Draxler (23 tahun) menjadi yang paling"senior" dengan mengantungi 30 caps. Catatan itu paling banyak diantara rekan-rekan setimnya sehingga Draxler didapuk menjadi kaptentim. Bek Bayer Leverkusen, Benjamin Henrichs (20 tahun), menjadipemain termuda dalam skuat. Total, skuat Jerman mencatat rata-ratausia 23,9 tahun.

SIMAK JUGA: HASIL LENGKAP PIALA KONFEDERASI 2017

Namun, kualitas Jerman tetap terjaga. Buktinya, di akhirturnamen, tiga pemain Jerman bertengger sebagai topskor dengantorehan tiga gol, yaitu Stindl, Leon Goretzka, dan Timo Werner.Nama terakhir dinobatkan sebagai peraih sepatu emas karenamemberikan assist paling banyak. Sementara, Draxler melengkapikedigdayaan Jerman dengan menjadi pemain terbaik turnamen.

Ditambah keberhasilan Jerman menyabet trofi Kejuaraan Eropa U-21dua hari sebelum final Piala Konfederasi, masa depan Jerman tampakcerah. Kini, Low dapat memilih hingga empat hingga lima namaberkualitas untuk mempertahankan gelar juara dunia di Rusia tahundepan. Piala Konfederasi menjadi audisi penting bagi para pemainpelapis untuk memperebutkan tempat.

SIMAK JUGA: PRO/KONTRA - MAMPUKAH JERMAN JUARADUNIA LAGI?

Saat Jerman memberikan fans ekspektasi tinggi, tidak demikianhalnya dengan penggunaan sistem asisten wasit video (VAR). Padasatu sisi, penerapan sistem pada Piala Konfederasi membantu danmenyelamatkan wasit dari keputusan kontroversial. Namun, pada sisilain, penggunaan teknologi ini terasa berlebihan.

Salah satu contohnya, laga Kamerun versus Cile. Gol EduardoVargas di babak pertama dianulir wasit Damir Skomina setelahmendapat bisikan VAR. Vargas dinilai telah berdiri off-side saatmenerima umpan Arturo Vidal. FIFA belakangan menjelaskan keputusantersebut, tapi tetap tak mampu mengusir kebingungan penonton.

Kebingungan juga melanda para pemain. Vargas kembali berhasilmenjebol gawang Kamerun pada akhir babak kedua, tapi selebrasitertunda lantaran asisten wasit menilai Alexis Sanchez lebih dahuluoff-side. VAR mengoreksi dan gol pun diberikan. Agak janggalmenyaksikan para pemain harus menunggu keputusan wasit sebelumberselebrasi.

© 2017 Goal.com

SIMAK JUGA: DAFTAR JUARA PIALA KONFEDERASI

Seperti halnya teknologi garis gawang, penerapan VAR sejatinyabertujuan menempatkan keadilan di lapangan sepakbola. Saya pernahmelihat cuplikan betapa VAR membantu wasit melaksanakan tugasdengan baik saat uji coba penerapan sistem pada sebuah pertandinganPiala Belanda.

Namun, ada baiknya FIFA memikirkan mekanisme yang tepat untukPiala Dunia. Turnamen sepenting itu otomatis memancing emosi dantekanan para pemain ke tingkat tinggi. Wasit akan selalu dituntutmeninjau rekaman video serta rekomendasi VAR dalam setiapkeputusan. Jika terlalu sering, ritme pertandingan terganggu.Hilang sudah serunya menonton sepakbola.

Mungkin FIFA dapat meniru aturan bulutangkis yang hanyamengizinkan para pemain dua kali per pertandingan melakukan"challenge" untuk menggunakan teknologi atas keputusan wasit yangmeragukan. Hal ini dapat pula diterapkan dalam sepakbola, tentunyadengan sejumlah penyesuaian. Jangan sampai hadirnya teknologijustru melahirkan kontroversi baru.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon