Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Panen Raya AS Monaco

logo Goal.com Goal.com 01/08/2017

Monaco ibarat ladang subur bagi bibit-bibit muda untuk dirawat, dipanen, lalu dijual, namun tanpa harus mengorbankan prestasi klub.

© 2017 Goal.com

Dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali bursa transferdibuka, ASMonaco menjadi rujukan utama bagi klub-klub top Eropa untukmemenuhi hasrat mereka akan belanja pemain. Monaco, harus diakui,selalu mampu memproduksi pemain muda berkualitas.

Padahal empat tahun lalu, klub di wilayah Kerajaan Monako itumencanangkan revolusi setelah promosi ke Ligue 1 Prancis 2013/14dengan menghabiskan €150 juta untuk memboyong pemain baru, diantaranya Radamel Falcao dan James Rodriguez. Hasilnya memuaskankarena Monaco langsung finis sebagai runner-up di musim itu.

Namun sang pemilik klub Dmitry Rybolovlev dan wakil presidenVadim Vasilyev tiba-tiba mengubah haluan klub di musim panas 2014.Kebijakan "Galaticos" ini dinilai berisiko lantaran Monaco akanselalu dibayangi sanksi Financial Fair Play -- yang kala itu barudiperkenalkan oleh UEFA -- dan juga masalah pajak mengingat merekaadalah klub yang berbasis di negara suaka pajak.

SIMAK JUGA: Monaco Bikin Ligue 1 Kembali Menarik

“Ada dua cara [untuk membuat klub sukses]. Yang pertamamenginvestasikan banyak uang lalu meraih hasil instan. Yang keduaadalah membangun proyek cerdas di mana Anda bergantung pada akademiAnda dan memiliki sistem scouting yang terstruktur. Dan kamimemilih yang kedua ini,” kata Vasilyev.

Singkat kata, kebijakan yang dimaksud Vasilyev adalahmengembangkan pemain muda lalu membiarkan mereka hengkang di waktuyang tepat. Dimulailah proyek baru nan cerdas dari Monaco.

Akademi klub, La Turbie, berkembang pesat. Pelatih LeonardoJardim berani mempromosikan youngster seperti Layvin Kurzawa,Yannick Ferreira Carrasco, dan yang paling sensasional, KylianMbappe. Suporter Monaco seperti dibawa ke masa lalu ketikamenelurkan talenta terbaik macam Lilian Thuram, Emmanuel Petit,Thierry Henry, yang menjadi tulang punggung timnas Prancis saatmenjuarai Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Namun yang lebih patut diacungi jempol adalah kinerja para scoutalias pemandu bakat Monaco. Mereka mampu “mencuri” bibit-bibitunggul dari klub lain, lalu setelah satu-dua tahun berkarier diMonaco, harga pemain tersebut melonjak tajam. Simak dana yangdikeluarkan Monaco ketika membeli sejumlah pemain muda sepertiAnthony Martial (€5 juta), Geoffrey Kondogbia (€20 juta), TiemoueBakayoko (€8 juta), Bernardo Silva (€15 juta), dan Benjamin Mendy(€13 juta).

Faktanya, Monaco hampir selalu “panen raya” tiap tahun karenasemua pemain yang dibeli dengan banderol relatif murah tersebutkemudian dijual ke klub lain dengan harga berkali-kali lipat!Memang Monaco tidak gencar menjual pemain di musim panas 2016,namun setahun sebelumnya dan setahun berikutnya Monaco sepertiberada dalam periode puncak panen.

Di musim panas ini, Monaco sudah meraup lebih dari €150 jutahanya dengan menjual empat pemain saja. Jumlah ini bakal terusmembengkak jika klub bersedia menjual pemain lain seperti Mbappe,Thomas Lemar, dan Fabinho. Mbappe menjadi yang paling mencuriperhatian, mengingat penyerang yang masih berusia 18 tahun itupunya market value fantastis senilai €180 juta.

Menariknya, penjualan demi penjualan tersebut tidak membuatMonaco kehilangan cengkramannya di rumput hijau. Di musim 2014/15dan 2015/16 mereka mampu finis ketiga di Ligue 1. Semusim kemudian,Monaco meledak dengan berhasil meruntuhkan hegemoni PSG di Ligue 1dan bahkan melaju ke semi-final Liga Champions.

Menjadi klub penjual sembari tetap mempertahankan prestasi diatas lapangan tentu bukan perkara mudah, namun Monaco melakukannyasecara mulus. Publik sepakbola tentu akan setia menanti panenraya-panen raya berikutnya dari Les Rouges et Blancs.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon