Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Pecat Vincenzo Montella, AC Milan Cuma Mengulang Kisah Lama

logo Goal.com Goal.com 28/11/2017

Memecat pelatih di tengah musim kemudian mengganti dengan eks pemainnya yang baru merintis karier kepelatihan, sudah jadi kisah lama di AC Milan.

Hari penghakiman itu akhirnya datang juga. AC Milan resmi mengumumkan pemecatan pelatih kepalayang sudah memimpin tim selama 16 bulan terakhir, Vincenzo Montella. Mengejutkan? Sama sekalitidak. Isu pemecatan Montella sudah muncul sejak giornata tujuhSerie A Italia musim ini dan baru terealisasi tujuh giornataberselang.

"Saat ini kami bahkan tak sampai rerata 1,5 poin, kami pikir inipilihan terbaik, bagi Montella juga. Montella melakukan semua yangdia bisa, kami tak berhasil tapi kami tahu apa yang tak bekerja.Dan Mirabelli secara bertahap menyadari bahwa ada sesuatu yangrusak. Ada kesalahan, beberapa hal tak berjalan dan saya yakin kamiakan kembali pada jalur positif akhir pekan ini," ungkap CEO Milan,Marco Fassone, seperti dilansir Sky Sports Italia.

Bagaimana dengan pelatih penggantinya, salah satu legenda ikonikMilan, Gennaro Gattuso? Apakah itu mengejutkan?Lagi-lagi tidak. Keputusan macam ini adalah keputuisan klasik khasI Rossonerri sejak jatuh terpuruk pada 2014 lalu.

A post shared by Goal Indonesia(@goalcomindonesia) on Nov 27, 2017 at 2:38am PST

Harus diakui bahwa Montella memang memiliki dosa, yangmenstimulasi pemecatannya. Pendekatan taktik yang dilakukannyamusim ini terbilang buruk, menimbang kecerdasan taktikalnya yangsebelumnya mulai diakui publik sepakbola Italia.

Montella yang biasa bersenjata formasi 4-3-3, mendominasipermainan, dan punya variasi serangan yang kaya, tampak hilang akaluntuk menerapkannya di Milan musim ini. Pemilihan pemain distarting XI juga kerap membuat Milanisti bertanya-tanya.

Formasi tiga bek mulai dari 3-5-2, 3-2-3-1-1, 3-4-1-2, sampai3-4-3 tampak begitu dipaksakan untuk memaksimalkan potensipembelian termahal Milan musim ini, Leonardo Bonucci, yang malahkonsisten tampil memprihatinkan. Montella pun amat getol menurunkanRiccardo Montolivo dan Fabio Borini di luar posisi aslinya, denganperforma yang medioker.

Jadi seperti kata Fassone tadi, musim ini Milan bahkan taksanggup meraih rerata 1,5 poin per laga. Satu pertimbangan vitaluntuk memecat Montella, mengingat target klub musim ini yang loloske Liga Champions musim depan.

Namun jika kita membedahnya lebih dalam, Montella tak bisabenar-benar disalahkan. Bahkan mungkin dia layak mendapat waktulebih lama. Dengan Milan yang kini memiliki wajah baru melaluipemilik baru, struktur manajemen baru, dan 11 pemain baru,L'Aeroplanino bisa dikatakan sebagai Kambing Hitam revolusi.

"Tanggung jawab untuk posisi tujuh Milan? Pelatih selalubertanggung jawab atas masalah teknik di atas lapangan. Menurutsaya, semuanya bertanggung jawab. Ekspektasi yang dipelihara musimini terlalu tinggi," tutur Montella, seperti dikutip Sky SportsItalia.

Faktanya sejak era Massimiliano Allegri -- pelatih terakhir yangmembawa Milan Scudetto -- Montella merupakan juru taktik tersukses.Sosok 43 tahun itu punya rerata terbaik di antara korban pelatihlainnya, lewat persentase kemenangan mencapai 51,56 persen. Diajuga jadi satu-satunya pelatih yang mempersembahkan trofi, lewatPiala Super Italia 2016 lalu.

Lagipula musim ini tak berlangsung benar-benar buruk buatMontella. Milan memang tak sanggup raih rerata 1,5 poin per partai,tapi tetap duduk di peringkat tujuh klasemen yang baru masukigiornata 14. Selain itu Setan Merah baru saja melenggang ke babak32 besar Liga Europa. Sederhananya, ekspektasi manajemen terlampautinggi dan Montella layak diberi waktu lebih panjang.

Satu keputusan yang bisa jadi merupakan blunder terbesar Milanadalah penunjukan Gattuso. Situasi ini seakan menegaskan bahwa takada perubahan sama sekali yang dibawa Yonghong Li dibanding erapenghabisan dinasti Silvio Berlusconi.

Mengulang kisah lama yang mulai membentuk pola tradisi, Milanlagi-lagi memecat pelatih di tengah musim kemudian menggantinyadengan eks pemainnya yang baru merintis karier sebagai pelatih.Sebut saja Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, Chrsitian Brocchi,dan kini Gattuso.

Pahit Manis Perjalanan Vincenzo Montella Bersama AC Milan © 2017 Goal.com Pahit Manis Perjalanan Vincenzo Montella Bersama AC Milan

Dengan segala hormat terhadap kebesaran keempat sosok di ataskala masih jadi pemain, Milan terlampau besar untuk mereka pimpindari kursi pelatih. Seedorf, Inzaghi, dan Brocchi, pada akhirnyacuma dibuat malu karena dicap gagal total.

Lantas bagaimana dengan Gattuso? Melihat riwayat melatihnya yangbaru seumur jagung dengan prestasi memprihatinkan, apa yang bisaAnda harapkan? Menyelamatkan Pisa dari zona degradasi Serie B musimlalu saja tak mampu, apalagi meloloskan Milan ke Liga Champions.Jangan kaget jika kita hanya akan dihibur oleh aksi emosionalnya dipinggir lapangan.

Yonghong Li sebagai pemilik baru selayaknya sadar bahwa revolusiyang dihadirkannya di Milan tak bisa menuai hasil instan. Milanyang dimilikinya bukan berasal dari Liga Super Tiongkok yang levelkompetitifnya dipertanyakan.

Li juga bukan konglomerat dengan uang tak tebatas layaknyaNasser Al-Khelaifi sang pemilik Paris Saint-Germain. Terlebih Milanyang diakuisisinya kini bukanlah Milan yang dahulu begitu ditakutidi Italia dan Eropa.

"Versi terburuk sepanjang sejarah Milan," begitu Carlos Baccamenggambarkannya. Bersama Fassone dan Massimo Mirabelli, Li haruslebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, tak terkecuali dalampemecatan dan penunjukan pelatih.

Milan harus mau berproses, yang sejauh ini baru berjalan limabulan. Andrea Agnelli dan kolega saja butuh dua tahun untuk membuatJuventus bangkit seperti sekarang. Berapa lama waktu yangdibutuhkan Il Divolo Rosso? Untuk saat ini, mari katakan sepanjangLi cs tak lagi membuat keputusan medioker seperti yang baru sajaterjadi.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon