Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Terbukti, Nama Beken Marquee Player Ternyata Bukan Jaminan

logo JPNN JPNN 23/06/2017

Michael Essien dan Didier Zokora adalah pemain yang memiliki segudang reputasi bagus di dunia sepak bola. Bahkan, tak ada pemain yang menandingi reputasi dua Marquee Player ini di Liga 1 saat ini. Essien pernah membela Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan, sedangkan Zokora pada era emasnya pernah membela Tottenham Hotspur dan Sevilla.

Ternyata, keduanya tetap kesulitan. Essien lebih sering bermain, tapi belum bisa memberikan dampak luar biasa bagi tim. Sedangkan Zokora masih jadi opsi rotasi. ”Harus diakui, fisik saya belum berada di kondisi puncak,”' kata Zokora kepada Jawa Pos kemarin.

© Disediakan oleh jpnn.com

Ya, hanya empat kali starter yang dicatat Zokora hingga pekan ke-11 Liga 1 bersama Semen Padang. Bahkan, dibandingkan dengan pemain muda lokal sekelas Finno Andalas, Zokora kalah.

Finno sudah bermain dalam sepuluh pertandingan Kabau Sirah, julukan Semen Padang. Tak ingin nama besarnya tercoreng, apalagi berstatus marquee player, Zokoro sudah punya rencana meningkatkan kondisi fisiknya.

”Libur lebaran ini, saya memilih tidak pulang, meski itu Idul Fitri. Saya ingin kian menyatu dengan tim. Terutama, untuk membenahi fisik saya,” kata pemilik nomor punggung 15 di Semen Padang itu.

Kalau Essien, sebenarnya secara statistik tidak begitu buruk. Bahkan, dia merupakan pemain Persib yang paling rajin melepas tembakan (20 kali). Mantan pemain ikut membantu Ghana lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2006 itu bahkan sudah menyumbang dua gol.

Hanya, problemnya adalah belum sesuai ekspektasi. Harus diakui, dia nama terbesar secara reputasi. Tapi, kinerjanya masih kalah jauh dibandingkan Peter Odemwingie (Madura United), Wiljan Pluim (PSM Makassar), dan Momo Sissoko (Mitra Kukar).

Sementara itu, Juan Pablo Pino yang menjadi marquee player di Arema justru dipertanyakan kelayakannya. Dia kalah bersaing dengan pemain lainnya. Apalagi, kalau disandingkan dengan Esteban Vizcarra. Tak heran, pemain asal Kolombia itu hanya bermain tiga kali sebagai starter.

Mulanya, Pino kalah bersaing dengan Dedik Setiawan dan Andriyanto di sayap. Akhirnya, Aji memainkannya sebagai gelandang serang. Duet dengan Vizcarra sempat dijajal. Keduanya juga acapkali bertukar posisi. Tapi, dalam empat laga terakhir, Pino kehilangan tempat.

Dengan 285 menit kesempatan, winger berpaspor Kolombia itu belum sekali pun mencetak gol maupun assist. Persentase statistiknya kalah dalam semua hal dengan Vizcarra. Dalam lima penampilan, Arema menang dua kali, imbang sekali, sisanya kalah.

Sebenarnya, Aji tak menampik bahwa skill yang dimiliki pemain 30 tahun itu tidak perlu diragukan. Sayangnya, selama ini pihak Arema punya kendala komunikasi dengan Pino.

”Dia kan nggak bisa bahasa Inggris. Makanya, mungkin sulit juga dalam memberi instruksi maupun komunikasi,” kata Aji.

Dalam empat kali absen itu, posisi gelandang serang mutlak jadi miliki Vizcarra. Bahkan, saat dia digeser menjadi pemain sayap, gelandang serang diberikan kepada Adam Alis. Kecocokan kedua pemain membuat Aji memarkir Pino. Namun, Aji mengaku masih ingin memberinya kesempatan.

”Kami perlu melihat dulu perkembangannya seperti apa. Dia akan dapat kesempatan selama dia berusaha,” ujar pelatih 47 tahun itu. (io/dit/rpd/rid/ham)

 

Lainnya dari JPNN

image beaconimage beaconimage beacon