Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Tim Medis: Choirul Huda Meninggal Bukan Karena Hypoxia, Tapi...

logo Tempo.co Tempo.co 23/10/2017 Tempo.co

Tim dokter RSUD Soegiri Lamongan membantah anggapan bahwa penjaga gawang Persela Lamongan, Choirul Huda, tewas karena hypoxia atau penyumbatan aliran pernafasan seperti yang ramai diberitakan selama ini. Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUD Soegiri, Yudhistiro Andi Nugroho, menyatakan bahwa mereka tak bisa memastikan penyebabnya karena membutuhkan pemeriksaan lebih detil.

"Hypoxia itu hanya satu dari sekian banyak gejala gagal nafas. Orang yang tersumbat jalan nafas, dinamakan hypoxia. Jadi bisa macam-macam penyebabnya," ujar Yudhistiro saat ditemui Tempo, Jumat, 20 Oktober 2017.

Yudhistiro mengatakan bahwa Huda meninggal dunia pada pukul 17.15 WIB Ahad, 15 Oktober 2017. Penjaga gawang Laskar Joko Tingkir itu mengalami sejumlah cedera, yakni trauma pada bagian dada, rahang, serta leher yang menjadi penyangga kepala.

foto © Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Menurut Yudhistiro, trauma pada leher itu yang paling dicurigai sebagai penyebab terbesar kematiannya. Leher, kata dia, merupakan ujung dari rangkaian sumsum tulang belakang yang menjadi pusat kumpulan saraf dalam tubuh. Di belakang leher, ada saraf nomor satu dan dua, yang terhubung dengan batang otak dan jantung.

Ia menambahkan, pada dasarnya trauma yang paling mematikan ialah di bagian dada dan batang otak.

"Huda mengalami trauma pada tulang atlas atau servikal nomor satu yang terhubung ke batang otak," tuturnya.

Senada dengan Yudhistiro, Direktur Utama RSUD Soegiri, Taufik Hidayat, menyebut ada tahapan kompleks yang mungkin terjadi pascabenturan antara Choirul Huda dan Ramon Rodrigues.

"Melihat benturannya yang keras dan mengenai beberapa area, kemungkinan ada juga perdarahan dalam," ucap dia.

Selain perdarahan, suplai oksigen ke otak juga terganggu. Makanya kami nyatakan kemarin Huda mengalami gagal jantung dan gagal nafas.

Setelah bertabrakan dengan Ramon, Huda tersungkur dan merintih kesakitan. Tak lama, ia tak sadarkan diri bahkan mengalami koma. Tim medis langsung membawa Huda ke RSUD Soegiri yang berjarak skeitar 2,3 kilometer dari Stadion Surajaya.

Namun setelah satu jam lebih tim mengupayakan penyelamatan, Huda tetap tidak menunjukkan tanda-tanda adanya denyut jantung.

"Akhirnya pada pukul 17.15 WIB kami nyatakan mas Huda meninggal dunia," ujar dia.

Sebelumnya Choirul Huda dikabarkan tewas akibat hypoxia setelah berbenturan dengan rekannya sendiri, Ramon Rodrigues. Kabar itu tersebar karena Huda disebut sempat menjulurkan lidahnya sesaat setelah dia mengalami benturan sebagai tanda dia kesulitan bernafas.

ARTIKA RACHMI FARMITA

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon