Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

WAWANCARA, Ratu Tisha Destria: PSSI Mengalami Derita Organisasi

logo Tempo.co Tempo.co 24/07/2017 Tempo.co

Ratu Tisha Destria adalah penoreh sejarah dalam organisasi sepak bola tanah air, Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia alias PSSI. Ia menjadi wanita pertama yang menjadi Sekretaris Jenderal, yakni untuk masa tugas 2017-2020

Ia merasa seperti hidup dalam dunia dongeng. Dari seorang pelopor ekstrakurikuler sepak bola tingkat SMA, dia menjelma menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia 2017-2020. "Ini tuh kayak dongeng, kalau diceritakan bisa panjang," ujarnya sembari terkekeh. Namun tanggung jawab Tisha bukanlah cerita pengantar tidur. Di tangannya, prestasi sepak bola Indonesia dipertaruhkan.

Kecintaan Tisha pada sepak bola berawal ketika ia dan beberapa kawannya mendirikan kegiatan ekstrakurikuler sepak bola di SMA Negeri 8, Jakarta. Sebuah kegiatan yang tak lazim kala itu, mengingat almamaternya identik dengan kegiatan dan prestasi di bidang akademik.

Tisha dan kawan-kawannya berkeyakinan sekolah mereka juga bisa berjaya di bidang olahraga. Kegiatan yang sempat dipandang sebelah mata ini perlahan menjadi pusat perhatian setelah mereka menjuarai sebuah kompetisi sepak bola, tak lama dari waktu ekstrakurikuler tersebut diresmikan.

Lepas dari seragam putih-abu-abu, Tisha melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung dan bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Persatuan Sepak Bola ITB. Lulus kuliah pada 2008, Tisha mendirikan LabBola-perusahaan yang bergerak di bidang jasa penyedia data analisis spesifik olahraga.

Dia semakin terbenam dalam dunia olahraga ketika pada 2013 melanjutkan kuliah S-2 di FIFA Master di Inggris, Italia, dan Swiss selama 1,5 tahun. Pada akhir April 2016, ia ditunjuk menjadi Direktur Kompetisi dan Operasional PT Gelora Trisula Semesta-operator Indonesia Soccer Championship 2016. Selanjutnya, ia diangkat sebagai Direktur Kompetisi dan Operasional PT Liga Indonesia Baru-operator kompetisi Go-Jek Traveloka Liga 1.

Puncak dongeng Tisha terjadi dua pekan lalu. Ketika itu dia terpilih sebagai Sekjen PSSI menggantikan pejabat sebelumnya, Ade Wellington, yang mundur pada April silam. Berikut ini petikan wawancara Tisha oleh wartawan Tempo , Aisha Shaidra dan Reza Maulana , pada pekan lalu.

Apa yang mendorong Anda melamar menjadi Sekjen PSSI?

Ini bicara soal motivasi. Ada hal yang mendorong saya yang sudah cinta sepak bola ini, lalu terjun mengurusi sepak bola dari SMA, lanjut ke universitas sebagai manajer Persatuan Sepak Bola ITB yang tergabung dalam liga mahasiswa Jawa Barat. Kemudian membangun perusahaan statistik sepak bola dan lanjut ambil FIFA Master.

Terus saat ada kesempatan ini. Begitulah kira-kira motivasi yang mendorong saya. Sehingga bukan sekejap mata, atau dalam hitungan 1-2 bulan. Semua ini melalui proses yang panjang.

Selanjutnya: Target dalam karier

Apakah posisi Sekjen PSSI masuk daftar target karier Anda?

foto © Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

Bukan posisi sekjen-nya, bukan pula PSSI-nya. Ibarat anak kecil yang jatuh cinta terhadap luar angkasa, bukan berarti suatu saat ia ingin bekerja di NASA. Tapi ini soal berkompetisi dengan kita sendiri mengenai kontribusi di dunia sepak bola lebih besar lagi, lebih dalam lagi.

Apa yang membuat Anda yakin bisa menjalani tugas sebagai sekjen?

Pertama, saya tumbuh di lingkungan yang menikmati sepak bola. Saya dikenalkan kepada sepak bola layaknya masyarakat Indonesia mengenal olahraga ini. Lalu, saya kaitkan keahlian dan keilmuan saya dengan sepak bola.

Di era modern ini, sepak bola atau apa pun itu, untuk maju bukan lagi berbicara soal kepemilikan, melainkan kolaborasi. Artinya, kalau mau mengembangkan sesuatu harus mengkolaborasikan satu ilmu dengan ilmu lainnya. Sepak bola harus bisa begitu agar berkembang sebagai industri.

Sesulit apa proses seleksi yang Anda lalui?

Kalau dibilang susah, ya susah, sih. Seleksinya terdiri atas lima tahap. Pertama, psikotes komprehensif. Saya ikut psikotes dari pagi sampai malam. Kemudian ada tes kesehatan, penilaian individu, membuat esai tentang sepak bola, diskusi kelompok, dan terakhir wawancara dengan Komite Eksekutif PSSI.

Apa saja tugas Sekjen PSSI?

Ibarat perusahaan, Sekjen PSSI adalah seorang CEO. Porosnya sebuah organisasi. Penggeraknya organisasi, ya, kami ini. Tugasnya menjalankan arahan, visi, dan misi ketua umum. Kami terjemahkan dalam bentuk apa.

Bisa dirincikan?

Sebenarnya pengelolaan PSSI kalau dikelompokkan sangat kompleks. Mencakup soal administrasi, kompetisi, standardisasi, pelatihan, pengembangan yang di dalamnya melingkupi wasit, pelatih, atlet perempuan, atlet muda, tim futsal, tim nasional, dan terus ke bawahnya.

Bicara soal bisnis, ada event, kerja sama, publikasi, serta program, yang berkaitan satu sama lain. Jadi, sebelum menjabat sekjen, saya tahu tugas pokoknya apa, meski tentu ketika nyemplung ada penyesuaian diri dan lain-lain.

Selanjutnya: Target perampingan

Ada selusin bagian di luar sekretariat jenderal. Struktur organisasi PSSI sepertinya gemuk sekali.

Kami sedang melakukan restrukturisasi organisasi di bawah kesekjenan, seluruhnya. Karena, federasi sepak bola yang ideal itu struktur organisasinya fungsional, kecil tapi dalam. Bukan divisional. Jadi di atas saya ada Komite Eksekutif PSSI, ketua umum, wakil ketua umum, langsung ke saya turun visi dan misinya.

Jadi bagian-bagian di luar yang Anda sebut akan dilebur?

Ya, itu nanti akan ada di bawah sekjen langsung. Pokoknya kita kembalikan sepak bola kepada fitrahnya, itu saja. Jangan sampai berbeda dari negara lain. Indonesia memakai cara sendiri, berakrobat sendiri, dan belum terbukti sukses. Jadi, ya, kita ikuti yang sudah ada saja. Karena itu best practice-nya organisasi dan kita bertanggung jawab ke FIFA, itu jalurnya kan harus sama.

Struktur gemuk ini berlangsung sejak kapan?

Dulu menggunakan format best practice. Baru kepengurusan kemarin saja yang berbeda. Bukan masalah besar. Kita pernah mencoba itu, lalu gagal, lalu kembali lagi.

Berapa banyak bawahan Anda?

Sekitar 37 orang. Dalam bayangan saya, dua hingga tiga tahun ke depan, harus digerakkan oleh seratus orang. Dan semuanya sibuk karena tahu produk apa saja yang harus dikembangkan. Mestinya beban di federasi olahraga seperti itu.

Berarti Anda sangat kekurangan orang?

Sedikit atau banyak itu relatif. Jadi, ketika tahu harus bagaimana kerjanya, bagaimana mengerahkannya, indikator kinerja utamanya begini, terus terasa kurang orang. Nah, ini saya baru datang, jadi sekarang sedang berurusan dengan hal itu. Tapi kita harus berkembang, dari 25, 30, nanti jadi 100.

Di negara-negara lain, federasi bola yang maju dipegang antara 75 dan 100 orang. Namun, intinya, bukan membesarkan jumlah orangnya, tapi masing-masing pekerja tahu apa yang harus mereka lakukan. Saya harus mendesain performance objective, core branding PSSI, second inline PSSI. Dari sistem, struktur, baru bicara orang, jangan lompat.

Kami mengalami derita organisasi yang tak kunjung padam dari tahun ke tahun. Tapi sekarang kami memikirkan bagaimana semua ini berkembang.

Selanjutnya: Tekanan bekerja dengan legenda sepak bola

Kapan restrukturisasi PSSI rampung?

Senin depan. Saya harus mempercepat ini, kalau enggak, enggak bisa kerja. Setelah rampung langsung dipakai.

Akan ada nama yang hilang?

Ya, kita lihatlah, saya belum bisa bilang.

Ide restrukturisasi datang dari Anda?

Sewaktu saya datang, keputusan dari Komite Eksekutif menetapkan pengangkatan sekjen. Kedua, menetapkan restrukturisasi organisasi. Caranya, diserahkan ke sekjen. 

Jadi perombakan organisasi merupakan tugas pertama Anda?

Tugas pertama saya adalah membereskan ratusan surat yang masih tertunda. Saya diangkat Jumat, Senin-nya langsung kerja. Ada surat-menyurat dari ASEAN Football Federation dan The Asian Football Confederation yang harus dijawab, kompetisi yang lagi berjalan, dan lainnya. Restrukturisasi hanya bagian dari tugas-tugas itu.

Anda membawahkan legenda sepak bola seperti Ricky Yacobi atau Danurwindo. Sempat grogi?

Ya, ha-ha-ha. Tapi ini yang membuat saya kagum. Di sepak bola, ada jargon respek. Saya ibarat kapten di tim sepak bola. Mereka sangat respek, sehingga memudahkan saya beradaptasi. Kultur seperti itu belum tentu ada di perusahaan.

Setelah membereskan berkas, restrukturisasi, apa lagi yang perlu dibenahi dari PSSI?

Kalau pakai kata membenahi kurang tepat. Saya harus berkenalan dulu sama teman-teman di sini. Satu pekan kenal, saya lihat di sini ada segudang potensi. Saya pikir, wah, ini di mana salahnya? Kenapa tak bisa melaju cepat? Pemikirannya ada, lagi dipetakan, diatur, bukan dibenahi, karena tidak sekacau itu. Kita tidak berangkat dari sesuatu yang sangat buruk.

Lalu apa yang ditemukan?

Mungkin hanya ada masalah wrong man, wrong place. Masalah manajemen organisasi atau masalah pengetahuan sepak bola. Yang paling harus tancap gas itu area komunikasi. Kalau sekarang dilihat jalur komunikasi pun belum jelas, kan? Akhirnya berpusat ke sekjen.

Bagaimana pandangan masyarakat terhadap PSSI, setelah sempat dibekukan Presiden Joko Widodo pada 2015? 

Saya enggak bisa ngomong gitu, enggak bisa langsung menilai. Tapi yang saya tahu lebih buruk apabila orang tak peduli, daripada orang menunjukkan kepeduliannya dengan cara berbeda. Entah mengkritik, memuji, atau menghujat. PSSI dengan segala macamnya ditunggu banyak orang. Harapan ini harus kami jawab. Menjawab harapan itu tak hanya dilakukan di lapangan, tapi juga lewat program, permainan yang bersih, karena publik sudah lelah dengan hal berbau "derita organisasi".

Sekarang momen yang tepat untuk bangkit?

Kalau bilang bangkit, bukan bangkit. Ini tenangkan diri dulu pelan-pelan. Ini kertas putih, yuk diberesin sama-sama. PSSI juga membutuhkan dukungan publik terhadap apa yang akan dilakukan.

Bagaimana PSSI mengatasi permusuhan di antara pendukung tim?

Itu tantangan berat bagi kami, soal pengelolaan fans dan community engagement. Makanya nanti di struktur akan ada divisi khusus di bawah area pengembangan bisnis, namanya fans dan community engagement. Itu memang PR besar PSSI, saya akui.

NS 

Lainnya dari Tempo.co

image beaconimage beaconimage beacon