Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Dunia Maritim Indonesia yang Kian Asing bagi Kalangan Generasi Muda Terpelajar

logo Kompas.com Kompas.com 13/10/2021 Amir Sodikin

Ilustrasi peta Indonesia © Disediakan oleh Kompas.com Ilustrasi peta Indonesia SEORANG sahabat menanyakan apa pentingnya mengisahkan kemegahan kisah masa lalu tentang kejayaan maritim Nusantara untuk generasi hari ini?

Mengapa laut seolah sedemikian relevan dalam pandangan kita, orang Indonesia? Bukankah selama ini kita lebih banyak bersandar dan beraktivitas di daratan?

Ia melanjutkan, lihatlah, betapa banyak profesi yang terbuka luas di daratan. Tukang ojek, pekerja kantoran, guru, birokrat, politisi, pedagang kaki lima, petani, dan berbagai jenis pekerjaan lain yang saya yakin lebih banyak yang bermarkas di daratan.

Pertanyaan itu sebenarnya datang di tengah bincang santai, tetapi yang membuat saya enggan untuk melanjutkan pembahasan ialah karena sahabat saya itu seorang yang terpelajar. Ia bahkan kandidat doktor di salah satu universitas ternama.

Baca juga: Kuliah Umum Unhas: Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia

Saya jadi heran, mengapa seorang berpendidikan tinggi, asli Indonesia, dan mengaku sering bepergian dengan beragam moda transportasi termasuk kapal laut, namun memposisikan diri sebagai seorang yang begitu asing (tidak akrab) dengan hal-hal menyangkut lautan.

Minimnya pengetahuan

Sebelumnya, saya pernah meminta mahasiswa di komunitas pergerakan yang menjadi rumah utama diskusi sehari-hari, agar membuat angket dan merilis pertanyaan sederhana mengenai potensi sektor kemaritiman yang mereka ketahui.

Semula saya pikir kaum terpelajar memiliki wawasan mengenai hal-hal menyangkut sektor kelautan dan kemaritiman. Tetapi dugaan saya meleset lumayan jauh. Rata-rata responden menyebutkan perikanan dan pariwisata sebagai potensi utama sektor kelautan dan kemaritiman.

Selain itu ada juga yang menambahkan pertambangan sebagai salah satu kekayaan sektor maritim, hanya saja jumlah responden yang menjawabnya amat sedikit. Namun hal lain yang menjadi perhatian saya ialah bahwa kolom yang disediakan untuk menguraikan potensi sektor kelautan dan kemaritiman masih begitu luas.

Baca juga: Indonesia di Tengah Kawasan yang Tidak Pernah Teduh...

Ibarat dosen yang memberikan kertas ujian dengan satu pertanyaan pada secarik kertas, dan mahasiwa mengembalikan kertas ujiannya dengan uraian jawaban hanya beberapa penggal kalimat saja.

Benar tidaknya jawaban memang tidak begitu ditentukan oleh panjang pendeknya uraian. Namun jawaban yang begitu singkat ditengah ketersediaan kolom yang terhampar luas, “sedikit” mengindikasikan miskinnya pengetahuan.

Saya juga pernah menjadi pembicara dalam suatu kajian yang mengangkat tema tentang potensi kemaritiman, di sebuah warung kopi yang berada persis di bibir pantai. Dan tentu saja deru ombak yang menghantam beton (tanggul) di dekat lokasi kajian begitu nyaring. Sampai-sampai pengeras suara juga tidak banyak membantu.

Tetapi ada satu hal yang begitu nampak dalam kajian saat itu yakni para peserta yang terdiri dari mahasiswa tersebut tidak begitu terkesan dengan uraian yang saya sampaikan. Mereka terlihat lebih nyaman berbicara satu sama lain dan tidak sedikit pula yang asyik dengan gawainya.

Awalnya saya menduga jika mereka tidak begitu asing dengan paparan ihwal riwayat kejayaan maritim Nusantara dan hal-hal menyangkut potensi kemaritiman Indonesia. Jika demikian, lalu untuk apa mereka mengundang saya untuk mengisi kajian tentang kemaritiman?

Akhirnya, saya putuskan untuk menanyai peserta kajian satu per satu. Dan ternyata dugaan saya keliru. Mereka lebih banyak menggelengkan kepala.

Bahkan saat ditanya mengenai Tol Laut, ada yang yang mengaosiasikannya dengan pembangunan jalan tol di atas laut. Akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi pembicaraan saat itu juga. Dalam hati ada perasaan yang campur aduk. Antara kecewa dan tentu saja tumpukan rasa heran.

Kecewa karena antusiasme kaum terpelajar terhadap tema tentang kemaritiman begitu minim. Heran karena banyak di antara mereka yang justru berdomisili di dekat perairan, tetapi mengganggap laut seolah bukan bagian penting bagi terbukanya wawasan yang menyangkut masa depan bangsa ini.

Akrab dengan Laut

Kalau pengetahuan kita tentang laut saja begitu terbatas, maka peluang untuk melakukan reimajinasi kejayaan maritim di masa kini menjadi tidak kompatibel. Bagaimana mungkin suatu gagasan dicetuskan tanpa memahami gagasan itu sendiri. Itu sama dengan orang berbicara tanpa mengetahui apa yang dibicarakannya.

Uraian ini mungkin subjektif. Tapi perkenankan saya menyampaikan kegalauan yang dirasakan atas minimnya kesadaran kelompok terpelajar terhadap sektor kemaritiman yang menurut saya suatu ironi di tengah keinginan bangsa ini untuk menjadi poros maritim dunia.

Dunia maritim harus dekat dalam pengetahuan masyarakat kita, khususnya kelompok terpelajar sebagai generasi penerus di masa depan. Sebab lautan kita perlu untuk diselami lebih jauh dan lebih dalam.

Kita harus akrab dengan laut sebagai bagian penting dari kisah kejayaan masa lalu dan sebagai proyeksi pembangunan masa depan Indonesia.

Kita juga tidak boleh lupa, kita sering mengatakan bahwa kita cinta “Tanah Air”, air yang dimaksud di sini tidak lain adalah lautan yang mengelilingi puau-pulau di Nusantara kita.

Jangan sampai kecintaan kita tidak didasari oleh pengetahuan. Ekspresi kecintaan kita terhadap Indonesia haruslah ditunjang oleh kesadaran untuk mengakrabi tanah dan air sekaligus.

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon