Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Pratinjau Senegal vs Kolombia: Mewaspadai 'Tipu Daya' Aliou Cisse

logo Kumparan Kumparan 28/06/2018 Billi Pasha Hermani
Timnas Kolombia © Disediakan oleh Kumparan Timnas Kolombia

Piala Dunia telah menapaki fase transisi, dari babak penyisihan ke sistem gugur. Kamis (28/6/2018), giliran Grup H yang kedapatan jatah untuk meloloskan wakilnya ke babak selanjutnya. Well, Grup H merupakan salah satu spot yang paling tricky, sebab tak ada tim yang benar-benar diunggulkan di sini. 

Oke, lupakan dulu Polandia yang sudah dipastikan angkat kaki, kita akan bergeser ke Kolombia versus Senegal yang akan dihelat di Samara Arena pukul 21.00 WIB. Hasil imbang tak akan banyak membantu keduanya, kecuali Jepang kalah besar dari Polandia. So, tak ada jalan lagi bagi Kolombia dan Senegal selain mengincar kemenangan. 

Dua Playmaker, Kenapa Tidak?

Kolombia berhasil bangkit. Kekalahan 1-2 dari Jepang di pertandingan pertama terbayar saat mereka menghantam Polandia tiga gol tanpa balas di laga selanjutnya. Sejatinya tak ada perbedaan sigfinifikan yang dilakukan Jose Pekerman dalam skuatnya. Ia masih mengaplikasi skema 4-2-3-1 dengan Radamel Falcao sebagai ujung tombak. 

Satu-satunya yang berbeda, ya, kehadiran James Rodriguez yang tampil sejak menit pertama. Keputusan Pekerman untuk memainkan dua playmaker --Rodriguez dan Juan Quintero-- secara bersamaan ternyata berbuah hasil. Keduanya menjadi pendulang assist dari tiga gol yang dicetak Kolombia.   

Saat bersua Jepang, pelatih berusia 68 tahun itu memasang Quintero sebagai tumpuan serangan. Ia diapit oleh Juan Cuadrado dan Jose Izquierdo. Rencananya tak berjalan mulus, lantaran Carlos Sanchez diusir wasit saat laga baru berjalan tiga menit. 

Minimnya sokongan gelandang bertahan memaksa Quintero untuk bermain lebih ke dalam demi membantu Jefferson Lema. Dengan posisi Quintero yang tak menguntungkan untuk membantu serangan, praktis Falcao hanya mendapatkan sokongan dari Cuadrado dan Izquierdo dari tepi sayap. Situasi semacam ini yang jadi alasan Kolombia keok di tangan Jepang.

Besar kemungkinan Pekerman akan memainkan duo playmaker-nya saat meladeni Senegal nanti. Tak sekadar memaksimalkan fungsi Falcao, kehadiran Rodriguez dan Quintero juga memberikan dampak positif kepada Cuadrado.

Winger Juventus itu sukses melepaskan masing-masing 3 tembakan dan umpan kunci, terbanyak di antara rekan-rekan setimnya. Jauh lebih banyak dibanding laga pertama dengan sebiji tembakan dan key pass.  

Niang Sebagai 'Tipu Daya' Aliou Cisse

Lain Kolombia lain juga Senegal yang tak memiliki stok playmaker melimpah seperti La Tricolor. Pelatih Senegal, Aliou Cisse, cenderung bertumpu pada kekuatan fisik yang dimiliki anak asuhnya. 

Gamblangnya, Cisse memaksimalkan kemampuan Senegal yang memiliki karakteristik lini belakang dan tengah yang kuat serta sektor depan yang cepat. Itulah mengapa pelatih yang identik dengan rambut dreadlock itu memakai skema 4-3-3 di laga pertama dan beralih ke pakem 4-2-3-1 pada pertandingan selanjutnya.  

Pada dasarnya sama, yakni untuk mengakomodir akselerasi lini depan mereka. Jika tak percaya tengok saja skema gol M'Baye Niang ke gawang Polandia. Dengan kecepatannya, pemain yang musim lalu berseragam Torino itu sukses memanfaatkan blunder yang dilakukan Grzegorz Krychowiak. 

Kontribusi Sadio Mane jelas tak bisa dipandang sembarangan. Namun, di satu sisi Niang justru jadi aktor penting dalam skema yang dicanangkan Cisse. Meski berposisi sebagai penyerang tengah, ia cederung ngepos di sisi kanan pertahanan lawan. Sedangkan area tengah dipasrahkan kepada Mane yang diutus untuk bergerak lebih dinamis untuk memancing bek lawan, intens dalam melakukan pergerakan tanpa bola.  

Itulah mengapa ia hanya menorehkan 0,5 dribel jika dirata-rata per laga. Sebagai gambaran, Mane telah mencatatakan rata-rata 3,5 dribel pada tiap pertandingan bersama Liverpool di Liga Champions.     

Pendek kata, Cisse dengan jitu memanfaatkan Niang di balik sorotan yang tertuju pada Mane. Nyatanya, pemain kelahiran Prancis itu menjadi penggawa Senegal yang paling aktif dalam melepaskan tembakan 3 per laga dan umpan kunci sebanyak 2 dalam rata-rata. Hasilnya tertuang dalam masing-masing sebiji gol dan assist yang dibuatnya sejauh ini.      

Selain sinergi Mane dan Niang, kombinasi Badou Ndiaye dan Idrisa Gueye di lini tengah jadi titik terkuat Senegal lainnya. Lebih dari sekadar memenangi duel, keduanya juga diplot sebagai alternatif untuk muncul dari lini kedua. Bahkan, Guaye menjadi inisiator dari gol pertama Senegal ke gawang Polandia.   

Satu nama lagi yang tak boleh ketinggalan, Moussa Wague. Meski baru berusia 19 tahun, full-back milik Eupen itu jadi part penting untuk membantu alur serangan Senegal dari sisi kanan. Total empat umpan kunci yang sudah dicatatkannya sejauh ini, setara dengan Niang. 

Lebih dari itu, Wague juga berhasil mencatatkan namanya di papan skor kontra Jepang. Jadi, sudah selayaknya Kolombia mengantisipasi pergerakan Wague dari sayap kiri pertahanannya.   

LAINNYA DARI Kumparan

image beaconimage beaconimage beacon