Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Ini Deretan Hoax Pada Penyelenggaraan Pemilu 2019

logo tribunnews.com tribunnews.com 13/04/2019 Rina Ayu Panca Rini
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Aziz, saat menghadiri diskusi di hotel kawasan Gelora, Jakarta, pada Jumat (12/4/2019). © Rina Ayu/Tribunnews.com Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan Aziz, saat menghadiri diskusi di hotel kawasan Gelora, Jakarta, pada Jumat (12/4/2019).

Komisi Penyelenggara Umum (KPU) membeberkan sejumlah hoax atau kabar bohong pada penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) 2019.

Setidaknya ada 7 hoax yang menyebar dan menghebohkan publik.

Berikut kabar bohong tersebut, yang diungkapkan komisioner KPU Viryan Aziz dalam diskusi berjudul "Hitung Mundur Pemilu 2019" di FX Sudirman, Jumat (12/4/2019).

Pertama, dugaan DPT ganda 25 juta namun yang berkembang dimedia sosial terdapat 25 juta DPT ganda, padahal itu dugaan, terjadi pada awal September lalu.

"Faktanya konteks waktu tersebut, potensi data ganda kami sekitar 3,7 juta saja tidak sampai 25 juta," kata Viryan.

 Kedua, 31 juta data siluman masuk ke DPT KPU.

"Pemberitaan media sosial seperti itu, faktanya tidak pernah terjadi," ucapnya.

 Ketiga, ada 14 juta orang gila masuk dalam DPT.

 Keempat, isu ditemukan 7 konteiner yang berisi 70 juta surat suara di Pelabuhan Tanjung Priuk sudah tercoblos, untuk salah satu calon tertentu.

Isu tersebut muncul pada awal Januari 2019.

"Tanpa perlu dijawab beberapa saat kemudian di twitter muncul angka penjumlahan, 31 + 25 + 14, angka 70 juta. Surat suaranya itu ada di dalam konteiner," tuturnya.

Kelima, sempat muncul di Sumatera Utara, bahwa dikabarkan server KPU semua disetting dari Singapura, di mana 57 persen suara untuk memenangkan paslon tertentu.

"Kami (KPU) langsung laporkan karena memang itu tak benar. Server KPU seluruhnya ada di Jakarta dan sekitarnya. Tidak ada yang di luar negeri," tegas Viryan.

Keenam, terkait soal debat yang sengaja dibocorkan.

"Soal debat kampanye paslon presiden dan wakil presiden bisa dengan baik terjamin tanpa ada dugaan kebocoran, dengan cara menyerahkan dan menyusunnya di akhir waktu. Satu jam atau dua jam sebelum debat baru diserahterimakan, jadi clear," jelasnya.

 Ketujuh, terkait IT pemilu yang disetting memenangkan paslon tertentu. KPU menegaskan, hal itu tidak benar.

Pemilu di Indonesia penghitungan suaranya, penetapan hasil sepenuhnya menggunakan cara secara manual. Dengan kegiatan pemungutan dan penghitungan suara secara terbuka, berjenjang dan partisipatif.

Viryan menuturkan, masyarakat boleh memfoto hasil pemilu di TPS, tapi dokumentasikan dari luar areal TPS. Semua bisa difoto, jadi silakan. Formulir C1 plano mau difoto silakan, disebarluaskan silakan, kemudian para saksi ada.

 Dari deretan hoax tersebut, KPU pun menganalisa bahwa, ada satu pihak tertentu yang secara sistematis dan terus memproduksi hoax.

Selain menyebarkan hoax, pihak tertentu yang belum diketahui itu, juga menyerang secara personal anggota KPU.

"Ada satu kelompok orang jahat kami tidak bisa dan kami enggak tau siapa dan sangat terasa dan bisa terukur sampai sekarang. Sistematis dan terus memproduksi hoax pemilu, luar biasa merusak integritas penyelanggaraaan pemilu," ujar Viryan.

Lainnya dari tribunnews.com

tribunnews.com
tribunnews.com
image beaconimage beaconimage beacon