Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Huawei Minta Verizon Bayar Lisensi Paten

logo Medcom.id Medcom.id 13/06/2019 Lufthi Anggraeni
Huawei meminta Verizon Communications membayarkan biaya lisensi untuk lebih dari 230 paten miliknya. © Lufthi Anggraeni Huawei meminta Verizon Communications membayarkan biaya lisensi untuk lebih dari 230 paten miliknya.

Jakarta: Huawei meminta Verizon Communications membayarkan biaya lisensi untuk lebih dari 230 paten milik produsen peralatan telekomunikasi tersebut. Biaya lisensi tersebut dilaporkan mencapai lebih dari USD1 miliar (Rp14,2 triliun).

Channel News Asia melaporkan bahwa Verizon harus membayarkan biaya lisensi ini untuk menyelesaikan permasalahan menyoal lisensi paten, seperti yang disampaikan oleh eksekutif lisensi properti intelektual Huawei.

Paten ini mencakup peralatan jaringan untuk lebih dari 20 vendor Verizon termasuk perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat, namun vendor tersebut disebut akan memberikan ganti rugi kepada Verizon. Dan sejumlah perusahaan tersebut dilaporkan didekati secara langsung oleh Huawei.

Selain itu, paten tersebut mencakup peralatan jaringan inti, infrastruktur jalur kabel, hingga teknologi Internet of Things. Sebagai informasi, Huawei tengah menghadapi tekanan dari pemerintah Amerika Serikat selama lebih dari satu tahun.

Ahli keamanan nasional mengungkapkan kekhawatirannya terkait ketersediaan celah pintu belakang pada router, switch dan peralatan Huawei lain, yang memungkinkan pemerintah Tiongkok memata-matai komunikasi pemerintah Amerika Serikat. Namun tuduhan sebagai mata-mata pemerintah Tiongkok dibantah oleh Huawei.

Beberapa perusahaan yang terlibat, termasuk Verizon, telah menginformasikan hal ini kepada pemerintah Amerika Serikat dan disebut memperkeruh perselisihan yang tengah terjadi antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Tuntutan pembayaran biaya lisensi dinilai lebih dilandasi oleh perselisihan geopolitik antara Tiongkok dan Amerika Serikat, dan bukan sekadar permintaan pembayaran biaya lisensi paten pada umumnya.

Perwakilan Huawei dan Verizon telah bertemu di New York pada minggu lalu untuk mendiskusikan sejumlah paten yang menjadi permasalahan. Selain itu, pertemuan ini juga mendiskusikan menyoal peralatan dari perusahaan lain yang digunakan Verizon dan berpotensi melanggar paten Huawei.

Perwakilan Verizon Rich Young menolak untuk memberi komentar terkait dengan masalah spesifik karena potensi permasalahan hukum. Namun Young menyebut bahwa permasalahan ini tidak hanya menyoal Verizon.

Pada konteks geopolitik lebih luas, permasalahan yang melibatkan Huawei memiliki implikasi terhadap industri secara keseluruhan. Permasalahan ini juga meningkatkan kekhawatiran baik di Amerika Serikat maupun internasional.

Huawei dan operator Amerika Serikat T-Mobile US Inc dan AT&T Inc tidak memberikan tanggapan saat dimintai komentar oleh Reuters. Sedangkan Sprint Corp menyatakan penolakannya untuk memberikan komentar.

Sebagai informasi pada bulan Mei lalu, pemerintah Amerika Serikat memasukan Huawei pada daftar hitam perdagangan. Hal ini menghalangi Huawei menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Amerika Serikat terkait industri keamanan tanpa persetujuan pemerintah.

Selain itu, hal ini juga mendorong sejumlah perusahaan teknologi global untuk memutuskan kerja sama dengan produsen peralatan telekomunikasi terbesar dunia ini.

Pemerintah Amerika Serikat juga dilaporkan tengah mencari ekstradisi Chief Financial Executive Huawei Meng Wanzhou dari Kanada yang ditangkap di Vancouver, Kanada pada bulan Desember lalu atas perintah Amerika Serikat.

More from Medcom.id

image beaconimage beaconimage beacon