Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Huawei Sebut Larangan Dagang AS Layaknya Tembok Berlin

logo Medcom.id Medcom.id 24/05/2019 Ellavie Ichlasa Amalia

Jakarta: Deputy Chairman Huawei, Ken Hu membandingkan larangan dagang yang ditetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat pada Huawei layaknya mendirikan kembali Tembok Berlin. 

Dalam Postdam Conference on National Cybersecurity, Hu berkata bahwa larangan pada Huawei dapat memengaruhi kondisi pasar global, memotong jaringan suplai, dan mengacaukan kompetisi yang adil. 

"Kita tidak mau melihat tembok lain (seperti Tembok Berlin) dan kami tidak ingin melalui hal menyedihkan lainnya. Pada hal yang sama, kami tidak ingin membangun tembok dalam perdagangan, kami juga tidak ingin membangun pembatas dalam teknologi," kata Hu. 

Pernyataan Huawei ini muncul setelah perusahaan semikonduktor asal Inggris, ARM meminta para pekerjanya untuk berhenti bekerja sama dengan Huawei setelah AS memasukkan perusahaan Tiongkok itu ke Daftar Entitas, yang berarti perusahaan AS harus meminta izin pemerintah AS sebelum bisa menjual produk mereka ke Huawei. 

"ARM mematuhi dengan semua peraturan yang ditentukan oleh pemerintah AS, tapi tidak akan berkomentar tentang hal lain," kata ARM pada ZDNet. 

Sebelum ARM menentukan sipak, CEO dan pendiri Huawei, Ren Zhengfei sempat mengadakan wawancara.

Huawei merasa, pembatasan dari larangan dagang pemerintah AS layaknya Tembok Berlin yang kembali didirikan. © Ellavie Ichlasa Amalia Huawei merasa, pembatasan dari larangan dagang pemerintah AS layaknya Tembok Berlin yang kembali didirikan.

Dia mengatakan, Huawei memiliki cara untuk mengatasi masalah yang disebabkan jika perusahaan AS tak mau bekerja sama. Ketika itu, Ren tidak tahu bahwa perusahaan Eropa akan mengikuti langkah AS. 

Menurut Ren, Huawei telah menyimpan suplai proseor dan mengembangkan sistem operasinya sendiri jika hubungan dagang Tiongkok-AS memburuk. 

"Bahkan jika tidak ada suplai yang memadai dari rekan kami, kami tidak akan menemui masalah. Ini karena kami bisa memproduksi chip premium yang kami butuhkan sendiri. Di 'periode damai', kami menggunkan peraturan '1+1' -- setengah dari chip kami datang dari perusahaan AS dan setengah lainnya dari Huawei," kata Ren dalam wawancara. 

Keputusan ARM untuk berhenti bekerja sama dengan Huawei merupakan pukulan berat, mengingat chip Kirin menggunakan aristektur buatan ARM. 

More from Medcom.id

image beaconimage beaconimage beacon