Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Opsi PTM Terbatas | Bioethicist Muda di Indonesia | Panduan Menulis Karya Ilmiah

logo Kompas.com Kompas.com 22/07/2021 Harry Rhamdhani
Sejumlah murid mengerjakan soal Penilaian Akhir Tahun (PAT) saat menjalani uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap 2 di SDN Kebayoran Lama Selatan 17 Pagi, Jakarta, Rabu (9/6/2021). Dinas Pendidikan DKI Jakarta menggelar uji coba pembelajaran tatap muka tahap 2 yang diikuti 226 sekolah. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc. © Disediakan oleh Kompas.com Sejumlah murid mengerjakan soal Penilaian Akhir Tahun (PAT) saat menjalani uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap 2 di SDN Kebayoran Lama Selatan 17 Pagi, Jakarta, Rabu (9/6/2021). Dinas Pendidikan DKI Jakarta menggelar uji coba pembelajaran tatap muka tahap 2 yang diikuti 226 sekolah. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

KOMPASIANA---Sekolah tatap muka terbatas nampaknya akan segera dimulai. Akan tetapi, ada 7 provinsi yang masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena lonjakan kasus kasus Covid-19.

Jika sekolah tatap muka tetap digelar, dikhawatirkan terjadi penularan di antara siswa sekolah maupun guru-guru yang mengajar.

Namun, di sisi lain, dengan diadakannya Sekolah tatap muka terbatas ini dapat mencegah semakin dalamnya penurunan kemampuan belajar anak.'

Biar bagaimanapun penyelenggarannya amat perlu memperhatikan sejumlah hal, termasuk mengutamakan keselamatan warga sekolah.

1. Memulihkan Kondisi Psiko-Sosial Peserta Didik Saat PTM Terbatas

Selama menjalani belajar dari rumah (BDR) sebagai dampak pandemi Covid-19, tulis Kompasianer Idris Apandi, banyak peserta didik yang sudah "nyaman" berada di rumah dan "lupa" dengan sekolahnya.

Membuka opsi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas pada tahun ajaran 2020-2021, khususnya di daerah zona hijau Covid-19 barangkali bisa dipertimbangkan.

Uji coba PTM Terbatas telah dilakukan di sekolah-sekolah di beberapa daerah.

Hal ini pun terus dievaluasi dengan melihat perkembangan kasus Covid-19 di daerah masing-masing.

"Mengingat sudah lamanya peserta didik tidak masuk ke sekolah, maka saat mereka masuk kembali ke sekolah, tentunya perlu adaptasi kembali," tulis Kompasianer Idris Apandi.

Kondisi psiko-sosial para peserta didik mesri dipulihkan terlebih dahulu. (Baca selengkapnya)

2. Menjadi Bioethicist Muda di Indonesia Itu Tidak Mudah

Lulusan biologi mau jadi apa, kata mereka. Menjadi lulusan biologi yang memiliki ketertarikan dengan dunia bioetika lalu mau jadi apa, sih.

Kompasianer Desy Putri menyadari, masih banyak orang yang belum tahu apa itu jurusan bioetika, bahkan menanyakan kontribusinya untuk dunia.

Kita sudah memiliki banyak pakar bioethicist senior yang telah memprakarsai dan memulai kajian ataupun workshop bioetika sejak tahun 2000-an, tetapi untuk menjadi the youngest bioethicist itu bukanlah hal yang mudah.

"Jurusan bioetika tidak hanya diperuntukkan bagi mereka para tenaga kesehatan, melainkan saintis, dan ilmu sosial juga sangat memerlukan bidang ini," tulis Kompasianer Desy Putri. (Baca selengkapnya)

3. Panduan Menulis Karya Ilmiah bagi Mahasiswa Baru

Pernah mendengar percakapan dua mahasiswa beda angkatan tentang kapan waktu yang tepat untuk menulis karya ilmiah? Apakah benar mesti menunggu jelang skripsi atau tugas akhir?

Pada dasarnya, menurut Kompasianer Nenden Rikma, masa-masa di kampus memang harus dinikmati, tapi tentunya tanpa kehilangan tujuan utama untuk belajar.

Bagi mahasiswa baru, misalnya, tertarik pada penelitian itu sangat luar biasa.

Saya yakin setiap kelas di perkuliahan akan meminta para mahasiswanya menulis esai," tulis Kompasianer Nenden Rikma.

Dan, bukankah esai adalah karya tulis ilmiah dan seorang maba tidak perlu menunggu tugas akhir atau skripsi? (Baca selengkapnya)

***

Ikuti beragam konten menarik lainnya seputar dunia pendidikan di Kompasiana lewat subkategori Edukasi.

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon