Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

[TREN LOVE KOMPASIANA] "Deep Talk" dengan Pasangan | Mengatasi Hubungan Beda Kota hingga Negara

logo Kompas.com Kompas.com 23/07/2021 Harry Rhamdhani
Ilustrasi pasangan © Disediakan oleh Kompas.com Ilustrasi pasangan

KOMPASIANA---Obrolan seperti apa yang biasanya Kamu harapakan ketika bersama pasangan? Sedang apa, sudah makan belum, atau yang lainnya?

Tidak ada yang keliru dari pertanyaan seperti itu, barangkali, itulah bentuk perhatian kita terhadap pasangan.

Namun, pernahkah kamu mencoba "deep talk" dengan pasangan?

Maksudnya, mulai membahas hal-hal yang menjadi prinsip menjalani hidup hingga pilihan-pilihan dalam karier, misalnya.

Obrolan semacam itu, yang bermula dari sekadar pertanyaan ringan, ternyata bisa membuat kita lebih dalam mengenal pasangan.

1. Haruskah "Deep Talk" Dilakukan bersama Pasangan?

Membahas dunia percintaan tidak hanya sekedar pada sebuah perasaan yang timbul di dalam hati saja.

Kompasianer Desi Indah Hani menjelaskan, tanpa adanya sebuah percakapan ataupun komunikasi yang jelas, niscaya, hubungan (konteks-pacaran) tersebut bagaikan tanpa adanya tujuan.

Jadi, untuk menjawab semuanya, hal yang harus dilakukan adalah dengan deep talk atau deep conversation di antara kedua belah pihak.

Deep talk sangat baik bila dilakukan secara langsung, bukan melalui perantara media komunikasi.

"Dengan berbicara secara face to face, mimik wajah yang hadir tidak hanya sekedar direkayasa. Seperti halnya berkomunikasi melalui perantara media pesan," tulis Kompasianer Desi Indah Hani. (Baca selengkapnya)

2. Inilah 5 Resep Bahagia Menikah dengan WNA

Menjalani pernikahan dengan WNA tidak selalu mudah. Perbedaan latar belakang, budaya, bahasa, atau bahkan agama, seringkali dipandang sebagai kendala.

Meski pepatah mengatakan cinta itu buta, menurut Kompasianer Siska Dewi dinamika saat memadukan perbedaan yang ada tak selalu indah.

Ketika keadaan menjadi serba salah, seringkali salah satu pihak menjadi “buta”.

Setiap hubungan ada pasang surutnya. Hubungan pernikahan memiliki pasang surut yang lebih intens.

"Tingkat kesabaran bertambah seiring dengan latihan," tulis Kompasianer Siska Dewi. (Baca selengkapnya)

3. Jangankan Hubungan Beda Negara, Beda Kota Saja Sudah Penuh dengan Tantangan

Tantangan hubungan beda negara adalah jadwal pertemuan yang terkadang sulit diatur. Hal ini bisa terjadi karena jadwal yang berbeda.

Mengapa menjalani hubungan beda kota bisa terasa berat dan penuh dengan tantangan? Ada beberapa alasan yang Kompasianer Sri Pujiati tuliskan kali ini.

Masalah pertama, misalnya, biasa muncul adalah dari keluarga masing-masing. Yaitu masing-masing keluarga berharap salah satu di antara kami mengalah.

Hal ini tentu bisa menjadi permasalahan yang sulit untuk mencari titik temunya, karena masing-masing keluarga mempertahankan masing-masing anaknya untuk tinggal di kota asal.

Solusinya adalah memberi pengertian kepada masing-masing keluarga.

"Tentu saja ada harus ada yang mengalah, karena tidak mungkin hidup berkeluarga dengan terus menjalin hubungan jarak jauh," tulis Kompasianer Sri Pujiati. (Baca selengkapnya)

***

Ikuti beragam konten menarik lainnya seputar dunia percintaan di @kompasiana lewat subkategori Love.

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon