Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Hijrah Menambah Keharmonisan di Keluarga Arie Untung

logo Kumparan Kumparan 18/05/2019 Giovanni

Mengenal sosok Arie Untung saat ini tentu berbeda dibanding dua tahun silam. Jika dulu Arie dikenal sebagai komedian juga presenter, kini Arie dikenal sebagai pribadi yang lebih religius. Meski keramahan serta sifatnya yang suka bercanda tidak bisa hilang.

Ya, 2 tahun lalu, di tahun 2017, Arie memutuskan berhijrah. Ia mencoba menjadi lebih baik dengan menjalankan kehidupan berlandaskan nilai-nilai agama.

Arie bisa menyeimbangkan perannya sebagai kepala keluarga juga seorang selebriti. Ia teguh menjalankan keputusannya berhijrah, tapi tetap menjadi seorang entertainer yang humble dan penuh keceriaan. Tak berlebihan, jika Arie disebut sebagai role model selebriti yang berhijrah.

© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network

Di Ramadhan tahun ini, semangat Arie memperbaiki diri dan memperkuat ibadah juga semakin bertambah. Begitu juga dengan istri dan anak-anaknya.

Istri Arie, Fenita, kian mantab mengikuti semangat sang suami berhijrah. Sementara tiga buah hati mereka, Misbareta Fathir Gavin Daffa, Misbareta Aisyah Mikhaila dan Misbareta Yusuf Athalia, juga sudah benar-benar meresapi kenikmatan beribadah.

Berbincang dengan kumparan beberapa waktu lalu di kawasan Barito, Arie berbagi cerita tentang kesibukannya di Ramadhan kali ini. Menurut Arie, ia dan istri sama-sama bersaing dalam beribadah. Ia dan Fenita saling susul untuk bisa khatam Al-Quran di bulan Ramadhan ini.

Namun Arie harus sedikit mengakui jika ia jauh diungguli sang istri. Arie beralasan, ia cukup disibukkan dengan beragam kegiatan di bulan Ramadhan ini.

“Dia udah tujuh juz, saya baru mulai. Soalnya (lagi) banyak PR ya, ngerjain ini-itu segala macem,” kata Arie memulai perbincangan.

Fenita Ari dan Arie Untung Foto: Munady Widjaja/kumparan © Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Fenita Ari dan Arie Untung Foto: Munady Widjaja/kumparan

Ya, Arie mengaku, setelah berhijrah, dirinya seringkali menikmati persaingan dengan Fenita dalam beribadah. Hal tersebut jadi kenikmatan yang ia dapatkan setelah berhijrah. Ia dan Fenita jadi saling terpacu untuk bisa meraih hasil yang terbaik.

Semangat yang sama juga ditunjukan oleh ketiga buah hatinya. Bahkan, ketiga anaknya sudah enggan meninggalkan ibadah-ibadah sunnah.

“Anak sekali pun dari mana-mana, baru pulang misalnya, mau itu jam sebelas tetap tarawih. Kalau nggak, keburu tidur,” ucapnya.

Arie menyadari bulan Ramadhan sebagai momentum dimana setiap amalan akan dilipatgandakaan. Sehingga sebisa mungkin Arie mengumpulkan banyak perbekalan amal dan ibadah.

Arie menilai kondisi yang ia jalani saat ini merupakan buah dari proses pembelajaran dan perjalanan hidup. Mulai dari kecil, beranjak remaja, dewasa dan berada di titik saat ini.

Ia masih ingat saat kecil dulu punya kenakalan sekaligus pengalaman unik. Bersama kakaknya ia diminta oleh orang tuanya membeli tabung gas. Arie kemudian mencoba mempengaruhi kakaknya untuk membatalkan puasa.

“‘Enggak apa-apa, enggak ketahuan. Kita minum, terus kita pulang, akting lagi’,’ kata Arie sembari mengingat perdebatan dengan sang kakak kala itu.

Alhasil, sang kakak termakan buaian Arie. Sebotol minuman teh menjadi sajian mereka di waktu berbuka yang tak tepat. Sesampainya di rumah, pujian sempat dilayangkan lantaran sudah mau membantu orang tua. Namun tak berselang lama, sang ibunda mencium gelagat tak beres dari Arie dan kakaknya.

“Tiba-tiba kata ibu saya, ‘oh enggak boleh gini dong namanya bohong kalau kalian batalin puasa pura-pura namanya, bohong’,” kata Arie.

“Akhirnya kita ngaku, kita tanya tahu dari mana, ternyata ada bonnya sama yang jual ditulis, suruh beli gas tapi di bonnya ada teh dua,” ucap Arie.

Arie seolah tak bisa menahan tawanya mengingat momen tersebut. Karena itu Arie sangat bersyukur karena buah hatinya dengan Fenita justru lebih baik memaknai Ramadhan.

Kata Arie, mereka benar-benar menganggap ibadah bukan lagi sekadar ritual, tapi juga kebiasaan. Arie tak lagi melihat adanya keterpaksaan dari buah hatinya ketika diajak menjalani ibadah.

“Sekarang juga kalau tidur dibangunin untuk salat, mereka enggak kayak keterpaksaan. Pada saat waktu salat, ditarik kakinya sudah pasti langsung bangun salat sendiri,” tutur Arie.

Sambil sesekali memainkan pergelangan tangannya, Arie menyebutkan hal tersebut tentu melewati proses yang panjang. Bukan sekadar memerintahkan, tapi Arie memberikan contoh untuk buah hatinya.

“Tapi hal kayak gini yang mengotomatiskannya butuh pola sih diseringin, dirutinin lama-lama baru kebentuk, enggak bisa langsung,” ucap Arie.

Saat ini Arie tengah mencoba mengarahkan anaknya mulai menghafal Al-Quran. Bukan ingin mengarahkan buah hatinya sekadar menjadi seorang penghapal Alquran, tapi bagi Arie, menghapal Alquran menjadi sebuah kebutuhan.

Arie tidak menampik, mengarahkan anak-anaknya menghapal Al-Quran bukan hal mudah. Biasanya Arie menawarkan hadiah sebagai pemicu semangat buah hatinya. Tapi juga tak jarang menjadikan punishment sebagai pemicu.

“Sebenarnya mereka lebih terpacu kalau dihukum, enggak boleh pakai internet seminggu, harus hapal dulu,” tuturnya.

Di luar itu semua, dengan apa yang diraih Arie saat ini, hijrah sudah berhasil menambah keharmonisan di keluarga Arie. Menjadikan setiap pribadi mereka menjadi lebih baik.

Setiap anggota keluarganya semakin kompak dan dalam memaknai berbagai ibadah yang mereka jalani, apalagi di bulan suci Ramadhan.

Selain keluarga, Kajian Musawarah, kelompok kajian juga menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi Arie Untung dalam berhijrah. Bahkan Arie menyebut, Kajian Musawarah sebagai inner circle bagi dirinya untuk istikamah berjijrah.

Seperti apa? Simak tulisan selanjutnya dalam topik Arie Untung, Ramadhan dan Hijrah. `

LAINNYA DARI Kumparan

image beaconimage beaconimage beacon