Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Biaya Pengobatan Mahal, Pasien Hepatitis C Banyak Yang Berhenti Berobat

logo AntaraAntara 31/01/2018

Virus Hepatitis C menjadi salah satu penyebab utama penyakit hati kronik yang ada di dunia. Dari data Badan Kesehatan Dunia, diperkirakan ada sekitar 71 juta orang yang terinfeksi virus Hepatitis C kronis. 10 juta orang diantaranya berada di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Biaya pengobatan yang sangat mahal jadi kendala bagi pasien Hepatitis C. Dari studi yang dilakukan Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), rata-rata setiap pasien harus mengeluarkan dana sebesar 34,7 juta untuk pengobatan sehingga banyak diantara pasien Hepatitis C harus menghentikan proses pengobatan di tengah jalan.

"Mereka berhenti menggunakan pengobatan pada minggu ke 16. Padahal, terapi berbasis interferon harus digunakan selama 48 minggu," ucap Konsultan Penelitian PKNI, Catherine Thomas dalam acara diskusi Pertemuan Konsultasi Nasional Hepatitis C di Jakarta, Jumat (26/1).

Pemerintah Indonesia sendiri saat ini telah menyiapkan tes antibodi Hepatitis C secara gratis untuk 140.000 orang. Pengobatan gratis tersebut menggunakan obat terbaru, yang langsung melawan virus (direct acting antiviral/DAA) bagi 2.000 orang.

"Dengan adanya DAA ini, biaya pengobatan yang tadinya dikhawatirkan oleh teman-teman BPJS ini, bisa turun cost-nya kurang lebih 15 juta setiap pengobatan per pasien. Jadi turunnya per sepuluh," ujar dr. Sedya Dwisangka dr. M.Epid Kasubdit Hepatitis dan Penyakit ISP.

Biaya Pengobatan Mahal, Pasien Banyak Yang Berhenti Berobat © Antara Biaya Pengobatan Mahal, Pasien Banyak Yang Berhenti Berobat

Namun upaya menyediakan tes dan pengobatan gratis tersebut masih sangat terbatas, dibandingkan dengan estimasi jumlah orang dengan infeksi virus Hepatitis C di Indonesia, yang mencapai 2,5 juta orang. Dibutuhkan pendanaan berkelanjutan untuk mencapai target eliminasi Hepatitis C di tahun 2030.

Kordinator Nasional PKNI, Edo Agustian berharap, pemerintah konsisten memberikan perhatian khusus pada pencegahan, diagnosis, dan pengobatan untuk penderita Hepatitis C di Indonesia.

"Sehingga, tidak ada lagi orang yang meninggal karena penyakit yang dapat diobati," ungkap Edo.(Yogi Rachman/nh)

image beaconimage beaconimage beacon