Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Tanpa Cristiano Ronaldo, Real Madrid Terasa Lebih Bahagia & Komplet

logo Goal.com Goal.com 12/09/2018

Ada sebuah guyonan di kalangan fans Real Madrid. Kini Cristiano Ronaldo telah pergi, mereka akhirnya bisa berkata jujur bahwa Lionel Messi adalah pemain terbaik di dunia.

Itulah salah satu anekdot yang mengiringi kepergian CR7 keJuventus, namun guyonan tersebut bukannya tanpa dasar. Tentu saja Cristiano tetaplah nomor satu bagi fans Los Blancos. Titik. Tapi berhubung sekarang ia telah pergi, maka skenarionya jugaberubah.

Untuk memahami apa yang telah dan akan terjadi di Real Madrid sepeninggal Ronaldo, kita harus mundur ke belakang untuk menengok situasi di klub ibu kota Spanyol itu saat sang megabintang masihdalam masa edarnya.

Lima tahun lalu, seorang legenda Real Madrid -- saya tidak perlumenyebut namanya -- menceritakan kepada saya, bahwa tidak akan adaair mata yang menetes ketika suatu hari nanti dia pergi. Ketikaitu, Ronaldo berada dalam puncak performanya.

Faktanya adalah, ada semacam kesan bahwa Cristiano adalahprajurit upahan yang cuma bertugas mencetak gol. Yangmengkhawatirkan, Cristiano juga memberi impresi bahwa dirinya samabesarnya dengan klub. Pandangan semacam ini tentu saja tidak dapatditerima oleh semua pihak.

Di era Jose Mourinho (2010-2013), banyak rekan setim Ronaldoyang diminta untuk memujinya di depan publik. Tuntutan semacam initidak pernah menciptakan ruang ganti yang harmonis, karena hanyamenekankan pentingnya kontribusi seorang pemain.

Satu-satunya momen yang membuat Ronaldo mendapat respek darirekannya adalah saat ia berani menentang otoritas Mourinho. Iamulai dipandang sebagai salah satu sosok pemimpin di dalam tim,seperti Sergio Ramos.

Celakanya, perilaku Ronaldo yang bak diva ini justru seringdimaklumi dengan kalimat seperti, "Well, Anda tahu sendiri sepertiapa dirinya." Madrid seperti telah membuat pakta Faustian (Faustianbargain), yang mengizinkan seorang pemain bersikap individualistisasalkan tetap tampil luar biasa.

Fakta bahwa rekan-rekannya menerima tingkah lakunya bukanberarti mereka menyukainya. Ronaldo bukanlah sosok paling populerdi ruang ganti Madrid, meski ia bersahabat dengan Marcelo. Denganpemain lain, yang terjadi hanylaha seperti sebuah hubunganbisnis.

Ketika era Ronaldo di Madrid berakhir -- menyusul penolakanFlorentino Perez untuk memberinya kontrak baru yang lebih mewah --pemenang lima kali Ballon d'Or itu diwajibkan meneken surat yangmenyatakan bahwa dirinyalah yang ingin pindah ke Juventus. Sampaidi sini bisa dipahami mengapa Ronaldo merasa tidak butuh lagaperpisahan di Madrid. Selain itu juga karena ia tidak ingin berbagipanggung dengan Perez.

Lantas, seperti apa masa depan Real Madrid?

Setelah kepergian Ronaldo, Madrid gagal mendatangkan seorangGalactico baru, meski sebetulnya mereka sudah mencoba. Pertama,mereka membujuk Kylian Mbappe ke Santiago Bernabeu, lalu beralih keNeymar. Dalam kedua upaya itu, PSG langsung menolaknya padakesempatan pertama.

Gagal merekrut seorang Galactico, satu-satunya opsi adalahmenggelontorkan uang untuk pemain yang ingin bergabung, misalnyastriker Bayern Munich Robert Lewandowski, atau memilih berhemat danberinvestasi untuk menambah kedalaman skuat.

Tapi, banyak figur kunci di klub yang sepakat bahwa tidak adagunanya membelanjakan banyak uang untuk pemain yang tidak lebihbaik dari yang sudah ada di skuat. Inilah kebijakan transfer Madriddalam beberapa tahun terakhir, dengan pembelian Galactico terakhirmereka terjadi pada 2014, yakni James Rodriguez. Real tentu sajaadalah klub kaya, tapi jangan lupa bahwa mereka juga terbelengguutang yang diyakini mencapai €600 juta.

Kepergian Ronaldo lantas membuka jalan buat Karim Benzema danGareth Bale untuk maju ke depan panggung, serta mengakselerasiperkembangan Marco Asensio. Sejauh ini, segalanya terasa mulus.Semua pemain seperti menyambut momen ini. Real Madrid bermainsebagai sebuah tim yang lebih kompak: penguasaan bola kian menonjoldan makin kolektif saat menekan lawan.

Musim lalu, Madrid menjalani start jeblok, cuma meraup tujuhpoin dari lima laga pertama. Musim ini, mereka masih mempertahankanrekor 100 persen setelah menjalani tiga laga La Liga yang dibarengisurplus delapan gol.

Bale masih bertahan di puncak performa sejak akhir musim laludan kini sudah membikin sepuluh gol dari sepuluh laga terakhir.Sementara itu, Asensio berhasil memenangi tiga penalti sejak awalmusim. Pemain 22 tahun itu bisa menembus 20 gol di musim ini danberada di jalur yang benar untuk menjadi calon pemain terbaik didunia.

Benzema sempat mencetak gol ala Ronaldo pada pekan lalu danpergerakannya di lapangan masih fantastis. Musim lalu Benz cumamembikin lima gol di liga, tapi kini ia sudah mengoleksi empat.Striker Prancis ini juga menikmati permainan dominan Madrid, karenaia memang suka terlibat dalam proses kreatif di lapangan.

Di sepertiga akhir lapangan, Madrid punya sejumlah opsi lain,terutama jika menilik eksplosivitas Dani Carvajal dan Marcelo disektor sayap. Memadukan seluruh senjata itu dengan penguasaan bola,permainan high pressing, dan umpan diagonal akurat dari SergioRamos, Madrid tampak memiliki lini ofensif yang amat komplet.

Di pos penjaga gawang, Madrid kini juga lebih solid dengankehadiran kiper terbaik Piala Dunia Thibaut Courtois, yang akanbersaing sehat dengan kiper terbaik UEFA Keylor Navas.

Berbicara soal Eropa, kita kembali membahas Ronaldo yang pekanlalu tidak terpilih menjadi pemain terbaik UEFA baru-baru ini.Penghargaan ini justru diraih oleh eks rekan setimnya di Madrid,Luka Modric.

Balague title image © 2018 Goal.com Balague title image

Saya berada di acara malam penghargaan UEFA dan menginap dihotel yang sama dengan Ronaldo. Setengah jam sebelum acara dimulai,rombongan Ronaldo menghilang seiring keputusannya untuk tidakmenghadiri gala itu setelah mengetahui dirinya kalah.

Kepergiannya tentu sungguh disayangkan karena Florentino Perezsudah menantinya. Banyak yang berharap, terutama media, Perez danRonaldo berada di sana dan saling berpelukan.

Tak berselang lama setelah insiden itu, Ronaldo kemudianmemberikan pernyataan yang sedikit menyinggung eks klubnya. Iamenyebut Juventus adalah rumahnya dan memuji atmosfer kekeluargaandi klub barunya itu. Sebuah sikap yang menegaskan tipikal karakterRonaldo.

"Juventus adalah klub terbesar di Italia, salah satu yangterbaik di dunia. Jadi ini adalah keputusan mudah. Orang-orang diklub ini terasa berbeda, mereka hangat, dan seperti sebuahkeluarga. Begitu juga halnya dengan suporter mereka," katanyakepada JuventusTV.

Namun, seperti apa yang dikatakan Sergio Ramos, Madrid kinisudah tidak perlu menangisi kepergian karakter egois Ronaldo. Sangjuara Eropa telah membuka lembaran baru dan sejauh ini segalanyaberjalan baik-baik saja tanpa sang topskor sepanjang masamereka.

More from GOAL.com

image beaconimage beaconimage beacon