Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Fakta Hari Purbakala Nasional 14 Juni, Berawal dari Zaman Belanda

logo Kompas.com Kompas.com 14/06/2022 Ni Nyoman Wira Widyanti
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi di Situs Watu Kucur, Kamis (11/10/2021). Situs purbakala itu berada di Dusun Penanggalan, Desa Dukuh Dimoro, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. © Disediakan oleh Kompas.com Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi di Situs Watu Kucur, Kamis (11/10/2021). Situs purbakala itu berada di Dusun Penanggalan, Desa Dukuh Dimoro, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

KOMPAS.com – Setiap tanggal 14 Juni Indonesia memperingati Hari Purbakala atau Hari Purbakala Nasional.

Tanggal perayaan Hari Purbakala berdasarkan peristiwa saat Pemerintah Hindia-Belanda membentuk Oudheidkundige Dienst yang disebut juga Dinas Purbakala atau Jawatan Purbakala pada 14 Juni 1913. 

Jika dihitung hingga tahun 2022, Indonesia sudah merayakan Hari Purbakala yang ke-109. 

Terkait peringatan tersebut, Kompas.com membagikan fakta-fakta terkait Hari Purbakala sebagai berikut:

Baca juga: Hari Purbakala Nasional ke-109, Masyarakat Manyarejo Sragen akan Gelar Pentas Seni

1. Lembaga sebelum Dinas Purbakala 

Sebelum Dinas Purbakala dibentuk, terdapat lembaga sementara lain yang didirikan pada tahun 1901, dikutip dari laman Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Selasa (14/6/2022). 

Nama Lembaga tersebut adalah Commissie in Nederlandsche - India voor oudheidkundig op Java en Madoera. 

Diketahui ada dua hal yang dikerjakan oleh lembaga ini, yakni pelestarian peninggalan purbakala dan melakukan penelitian arkeologi. 

Baca juga: 5 Hal yang Bisa Ditemukan di Museum Purbakala Sangiran

2. Pemimpin pertama Dinas Purbakala 

Ketika awal pembentukan, Dinas Purbakala dipimpin oleh seorang ahli arkeologi dari Belanda bernama N.J. Krom.

Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, N.J Krom lahir di Hertogenbosch, Belanda, pada 5 September 1883. Dia melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden dan belajar filologi dan arkeologi. 

Selama berkarir, N.J Krom sudah menerbitkan berberapa karya di antaranya, Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst (1919 dan 1923) dan Hindoe-Javaansche Geschiedenis (1926 dan 1931), Oud-Javaansche oorkonden (karya bersama J.L.A. Brandes), dan Barabudur: Archaeological Description.

Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan, Jawa Timur melakukan pemetaan dan pendataan kembali puluhan benda purbakala dan benda cagar budaya untuk dilaporkan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. © Disediakan oleh Kompas.com Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan, Jawa Timur melakukan pemetaan dan pendataan kembali puluhan benda purbakala dan benda cagar budaya untuk dilaporkan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

3. Nama lembaga purbakala pada masa sekarang

Dulu nama lembaga purbakala bisa dibilang masih cukup kental akan bahasa Belanda, tapi kini sudah berbeda. 

Pada masa sekarang tugas dari Commissie in Nederlandsche - India voor oudheidkundig op Java en Madoera dikerjakan oleh dua lembaga Indonesia. 

Dua lembaga tersebut adalah Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (Dit PCBM) dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas). 

Baca juga: Hari Purbakala: Melihat Lukisan Goa Tertua di Dunia yang Ternyata Ada di Indonesia

4. Fungsi lembaga arkeologi pada masa sekarang

Sesuai namanya, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi dari seluruh Indonesia punya tugas dalam melakukan penelitian terkait arkeologi. 

Mereka juga menyampaikan hasil penelitiannya kepada masyarakat luas, sehingga penemuan yang ada bisa menambah wawasan dari kalangan arkeologi hingga orang-orang awam. 

Sementara itu, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional adalah salah satu lembaga kepurbakalaan Indonesia yang bermanfaat dalam pembangunan mental dan spiritual bangsa untuk menyukseskan pembangunan di bidang kebudayaan . 

Baca juga: Museum Sangiran, Melihat Jejak Peninggalan Peradaban Purba

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon