Anda menggunakan browser versi lama. Silakan gunakan versi yang didukung untuk mendapatkan pengalaman MSN yang terbaik.

Pulau Ontoloe, Tempat Bersarang Komodo Flores

logo Kompas.com Kompas.com 31/07/2018 I Made Asdhiana

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Wisatawan berpose di belakang komodo, di TN Komodo, Pulau Rinca, NTT.Julianus Ebol

Padang savana yang terdapat di Pulau Ontoloe, Kecamatan Riung, dalam kawasan 17 Pulau Riung, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Taman Wisata alam 17 Riung memiliki luas 9.900.00 hektar sudah sangat terkenal di seluruh dunia sebagai salah satu destinasi unggulan di Pulau Flores.

Selain itu, Pulau Ontoloe merupakan pulau terbesar di dalam kawasan Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung dengan luas 660 hektar. Kawasan ini dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur.

Kekayaan alam bawah laut sebagai tempat selam (diving) terbaik di pulau itu, serta keindahan pantai dan pasir putihnya memikat wisatawan asing dan Nusantara untuk terus mengunjungi dan membeli paket wisata ke kawasan tersebut.

Selain itu, ribuan kalong yang terdapat di sejumlah pulau-pulau kecil di kawasan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Pulau Ontoloe di Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, terkenal dengan pasir putihnya.KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR

Tahun 2012 Kompas.com diundang oleh BBKSDA NTT untuk meliput komodo flores yang menetas setelah kamera pengintai dari Yayasan Komodo Survival Program (KSP) merekam komodo yang hidup dan tinggal di pulau tersebut.

Bahkan, waktu itu para peneliti dan stafnya merekam komodo betina yang menetas telurnya di sarang burung wontong di pinggir Pantai Ontoloe.

Saat itu staf BBKSDA NTT yang bertugas di Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung bersama dengan staf dan peneliti dari lembaga Komodo Survival Program (KSP) memagari lokasi sarang komodo betina yang bertelur sambil mengamati dengan kamera pengintai.

Secara bertahap petugas terus mengamati perilaku komodo betina yang menetas di sarang burung wontong.

Alhasil, telur-telur komodo yang berada di dalam sarang burung wontong menetas. Petugas dan peneliti yang selama beberapa bulan berada di kawasan itu melihat anak komodo yang keluar dari lubang-lubang sarang burung wontong.

Saat itu hasil penelitian KSP bersama BBKSDA NTT melaporkan bahwa komodo di kawasan Pulau Ontoloe diidentifikasi melalui kamera pengintai sekitar enam sampai delapan ekor komodo.

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Hutan bakau di Pulau Ontoloe, Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR

Diperkirakan jumlah komodo yang menetas terus bertambah. Namun, jumlahnya belum diketahui secara pasti.

Sebagaimana dilaporkan Ketua Peneliti KSP, Achmad Ariefiandy di Pulau Ontoloe kepada Kompas.com, dalam penelitian itu dipasang sembilan kamera pengintai pada 28 September - 2 Oktober 2012.

Alhasil, tujuh kamera merekam gerak gerik dan keberadaan komodo, satu kamera mengabadikan saat naga purba liar itu memangsa monyet ekor panjang (Maccaca fascicularis).

Selanjutnya kamera merekam komodo betina yang menetas di sarang atau tumpukan sarang burung wontong. Pada bulan Oktober 2012, telur-telur komodo menetas.

Saat itu tim dan pegawai BBKSDA NTT menyaksikan sendiri anak-anak komodo yang sudah menetas. Staf BBKSDA mengambil sample darah komodo untuk diteliti di LIPI serta anak-anak komodo dipasangi chip untuk mengetahui perkembangannya.

Pulau Ontoloe Sarang Burung Wontong dan Kalong

Dalam  membantu komodo betina menetas dan menyimpan telurnya adalah sarang burung wontong. Sarang burung wontong sangat cocok untuk komodo betina menyembunyikan telurnya agar komodo jantan tidak memakannya.

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Penyelamatan komodo Sabtu (21/7/2018), yang ditangkap warga di sekitar perkampungan Watu Bari, Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat, NTT.ARSIP YAYASAN KOMODO SURVIVAL PROGRAM (KSP) INDONESIA

Komodo betina sangat pandai membuat kamuflase di dalam lubang sarang wontong agar jejak dan keberadaan telurnya tidak diketahui oleh komodo jantan. Bahkan, komodo betina menjaganya selama telur berada di dalam sarang burung wontong.

Keberlangsungan binatang komodo berkembang biak tergantung konservasi burung wontong. Sebaiknya pihak-pihak yang mengelola kawasan konservasi untuk menyadarkan masyarakat agar jangan berburu burung wontong serta jangan mengambil telurnya untuk dikonsumsi.

Selain itu, di kawasan Pulau Ontoloe hidup dan sebagai tempat sarang dari ribuan kalong di dahan-dahan pohon mangrove. Selain itu, kalong ini juga sebagai pakan komodo selain binatang-binatang liar lainnya seperti babi hutan, rusa dan monyet ekor panjang.

Kemungkinan di kawasan itu tidak ada kerbau liar seperti yang terdapat di kawasan Taman Nasional Komodo.

Sepertinya keberadaan komodo di Pulau Ontoloe harus bertarung dengan alam yang minim stok pakannya agar tetap bertahan hidup dan berkembang biak.

Untuk itu diperlukan konservasi dan perlindungan yang amat serius dari pemerintah agar keberlangsungan dan keberlanjutan dari binatang langka ini tetap terjaga dengan baik.

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Taman Nasional Komodo di Resort Loh Buaya, Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (10/5/2014).KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA

Pemerintah setempat dan pengelola, yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, khususnya BBKSDA NTT terus giat menyadarkan masyarakat di sekitar kawasan itu untuk tidak menebang pohon dan membakar padang savana di musim kemarau.

Gregorius Afioma, pemerhati komodo kepada Kompas.com, Senin (23/7/2018) mengatakan, pemerintah belum memperhatikan dengan baik keberadaan komodo flores yang tersebar di Pulau Flores.

Saat ditanya dengan adanya temuan komodo di daratan Pulau Flores, apakah pemerintah perlu mengusulkan ke PBB agar kawasan darat Pulau Flores ditetapkan menjadi world heritage site, Afioma menjelaskan, daratan Flores belum bisa ditetapkan menjadi world heritage site, hanya karena keberadaan binatang Komodo di kawasan itu.

Saat ini, menurut Afioma, yang diperlukan adalah perlindungan dan penjagaan serta pengelolaan kawasan tempat tinggal binatang langka tersebut. 

Penulis: Kontributor Manggarai, Markus Makur

Editor: I Made Asdhiana

Copyright Kompas.com

Lainnya dari Kompas.com

image beaconimage beaconimage beacon